Puisi-puisi Dirga Putri
0 Komentar 230 pembaca
Ilustrasi (g.net)

Puisi-puisi Dirga Putri

Puisi

Aku dan Secawan Puisi

Aku bergulat dengan kata – kata
Bergumam dengan kata – kata
Mencoba untuk tak memakan waktu
Hingga bulan menampakkan wujudnya
Membajak hati yang diguyur keraguan
Kau kurung secawan berlian itu di dalam sangkar pelangi
Terkunci aroma – aroma
Racikan jahe
Tumbukan anggrek
Wanginya mawar merah
Menjadi tawanan di dalam lautan mutiara
Hingga secawan puisi lahir
Dan meninggalkan jejak air mata

Hijau

Hijauku berhenti menari
Kehilangan angin merdunya
Tergantikan hiruk – pikuk hitam yang berputar
Hijauku telah patah
Digantikan kilau pencakar langit
Hijauku telah hilang
Ditutupi hitam panjang yang tak berujung
Begitulah akar ditinggal batang dan daun

Cinta Negeri

Indahnya pelangimu, menutupi awan gelap
Hijaumu terbentang luas, menyaingi biru dalammu
Putih – biru menari – nari di atas kepalamu.
Mereka tidak pernah bisa untuk tidak menikmati hasil yang kau hasilkan.
Menghabisi indahmu, menghancurkan keelokanmu.
Kini hanya tinggal kenangan. Apa lagi yang hendak kita hancurkan?

Ketika Waktu

Aku tak berharap waktu akan berhenti tepat di depanmu
Aku tak meminta waktu berlalu begitu saja di sampingmu
Anggaplah aku hanya sebagai mimpi yang ada di satu waktumu.

Di Atas Ribuan Kaki

Rasa gugup memenuhi hati. Bagai kapas yang terbang dibawa angin
Pesawat Lion Air membawa hati terbang
Sangat tinggi, sangat tinggi, sangat tinggi
Gumpalan – gumpalan awan menjadi penghias langit biru
Ah……… aku telah titipkan rasa itu pada awan
Telah aku tinggalkan suka itu di Bandara Sultan Syarif Kasim sejak lalu
Telah aku biarkan angin membawa cinta itu terbang menjauh
Kembali ke asalnya.

Cermin Kerinduan

Di sudut kota Jogja malam itu
Malam yang cepat datang, membuat hati juga ikut gelap
Awan mendung jadi penghias langit malam ini.
Bagai angin yang sejenak lalu di depanku,
Cerminan wajahmu terlintas sejenak
Angin itu kembali mengantarkan rasa itu kembali ke pemiliknya
Music gamelan yang terlantun di Resto & Cafe Cengkir menjadi penghibur
Langit tak berbintang.

Jejak

Aku sedang menyesal dengan yang disebut masalalu
Tentang hati yang tak terucap,
Tentang kata yang tak tersebut.
Mungkin jarak kita terlalu jauh,
Hingga kata ‘satu’ tak pernah ada.
Waktu selalu jadi terdakwa saat diri membunuh hati
Waktu selalu menjadi yang paling dibenci
Saat hati tersedak,
Saat hati tak bisa mengucap kebenaran
Apa yang salah? Hingga waktu selalu dipersalahkan
Aku muak dengan semua masalalu yang diingatkan kembali oleh waktu
Hey waktu…. Tak tahukah engkau, jika jejak tak pernah bisa dikumpulkan,
Dan jejak adalah peninggalan masalalu.

Dirga Putri adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB, Unilak. Dirga juga tercatat sebagai pengurus Tabloid Tanjak Program Studi Sastra Indonesia

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas