Genderuwo Masuk Istana dan Senanyan, Puisi tak "Bersyahadat"
0 Komentar 450 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Genderuwo Masuk Istana dan Senanyan, Puisi tak "Bersyahadat"

Telaah

Oleh Taufik Hidayat

TRADISI dan kata-kata adalah mahkluk. Berhadapan sesama makhluk dalam proses kreatifitas puisi, seorang penyair memancing dirinya menjadi umpan ihwal merangsang agar kata-kata mau berucap atau berujar kepadanya. Bila satu atau dua kata metafora mulai berucap di situlah proses penciptaan puisi bermula. Dan menulis puisi itu seirama dengan pekerjaan roh karena memberi kesaksian. Seperti tuhan bertanya kepada roh, dan roh bersaksi, "Ya, engkau adalah tuhan kami." (Pidato Sutardji Calzoum Bachri (SCB) saat penabalan sebagai Datuk Sri Pujangga Utama di Lembaga Adat Melayu Riau).

Bagaimana dengan "puisi" berjudul "Ada Genderuwo di Istana” karya Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, yang saat ini tengah viral diperbincangkan? Kemudian puisi ini dibalas Sekjen PPP, Asrul Sani dengan judul: "Ada Genderuwo di Senayan." Apakah ini puisi, dan dimanakah posisi sang penyair? 

Tak dapat ditampik, embrio puisi Ada Genderuwo di Istana berawal dari ucapan Presiden RI Joko Widodo saat membagikan 3.000 sertifikat tanah di GOR Tri Sanja, Kabupaten Tegal, Jumat (9/11/2018) lalu. Ketika itu Jokowi mengatakan, '..., Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? Itu sering saya sampaikan, itu namanya politik genderuwo, nakut nakuti." (Kompas.com, 09/11/2018, 14:36 WIB).

Dua hari setelah adanya kalimat politik genderuwo, (11 Nopember 2018) Fadli Zon menulis puisi Ada Genderuwo di Istana kemudian diunggahnya dalam akun Twitter @fadlizon, pada Minggu (11/11/2018). Proses kreatifitas puisi ini, sungguh bertolak belakang dari apa yang diucapkan Presiden Penyair Indonesia SCB. Fadli Zon mengaku menciptakan puisi tersebut sesuai dengan permintaan seseorang. Meski begitu, dirinya tak mengungkapkan secara gamblang siapa seseorang yang dimaksud. (Tribumwow.com, Senin, 12 November 2018 08:11).

"Seorang penyair menulis puisi adalah menulis imajinasi tetapi imajinasi yang dituliskan itu tidak berada sendiri di atas kertas. Penyair yang menulis di atas kertas kosong selalu ada ihwal yang tertulis dan tersimpan pada kertas putih itu. Di dalam kertas putih itu ada sejarah, mitos, legenda, hikayat, nilai-nilai agama, dan nilai-nilai tradisi yang telah tersimpan. Sehingga para pembaca dapat melihat, menangkap, merasakan adanya bayangan yang telah dituliskan penyair dari makna sebelumnya. Yakni, makna tradisi religius, visual-visual sejarah dan lainnya. Inilah kekuatan puisi memberikan kontribusi untuk meraih pencerahan, meraih kesaksian itu," kata SCB.

Tampaknya, politisi Partai Gerindra itu menulis puisi di atas kertas kosong dan jelas ini akan sia-sia karena telah melanggar kodrat dan hakekat menulis puisi. Puisi Ada Genderuwo di Istana, jelas bukan dialog kreatifitas dan imajinasi. Puisi ini adalah pesanan seserong. Tentunya, kata-kata sakti yang lahir dari puisi ini sesuai dengan kehendak sang pemesan. Kedalaman makna puisi ini dibuat-buat dan terlihat jelas kepalsuannya.

Mengutip kata Presiden Penyair Indonesia, kedalaman puisi yang baik sebagai suatu keindahan yang otentik dan jujur tidak bisa ditolak atau didustakan bahkan oleh penyairnya sendiri.

 

Ada genderuwo di istana

tak semua orang bisa melihatnya

kecuali yang punya indera istimewa makhluk halus rendah strata

 

menakuti penghuni rumah penguasa berubah wujud kapan saja menjelma manusia ahli manipulasi tipu sana tipu sini

 

ada genderuwo di istana

seram berewokan mukanya

kini sudah pandai berpolitik

lincah manuver strategi dan taktik

 

ada genderuwo di istana

menyebar horor ke pelosok negeri

meneror ibu pertiwi

Puisi Ada Genderuwo di Istana karya Fadli Zon di atas sangat verbal dan mudah dibaca kemana arahnya, apalagi jika bercermin pada proses kreatifitasnya. Kenapa ini disebut puisi? Barangkali penulisnya beranggapan dan 'berlindung' pada kata-kata ataupun anggapan dalam sebuah karya sastra itu multitafsir, tergantung siapa yang menilainnya sehingga meliarkan imajinasi pembaca. Padahal, sesungguhnya puisi itu ada tanda dan akrab dengan kalbu. "Puisi yang akrab dengan kalbu adalah puisi yang berada pada kebenaran. Sehingga puisi mustahil dipalsukan karena tiada puisi selain puisi. Syahadat puisi itu adalah tiada puisi yang bisa ditirukan," kata SCB.

Jadi tak heran, ketika puisi tidak 'bersyahadat' maka ada yang menirunya. Adalah Sekjen PPP Asrul Sani, membalas 'Ada Genderuwo di Istana' dengan puisinya berjudul "Ada Genderuwo di Senayan.' Lagi-lagi kata-kata dalam puisi ini verbal, pembaca melihat begitu jelas 'perkelahian' dengan sindiran. Memang belum ada pengakuan Asrul Sani bagaimana proses penciptaan puisinya itu, namun puisi yang seharusnya dicari karena tersimpan dalam khazanah tersembunyi itu, di tangan Fadli Zon dan Asrul Sani menjadi aroma tak sedap karena mendedahkan aib sehingga keindahan kata-kata dalam puisi yang lepas dari interpensi apapun kini menjadi jalan menuju ke 'neraka.' 

Ada genderuwo di Senayan....

Pretensinya menjadi wakil rakyat yg lumayan...

Tapi pretensinya mengundang tanya apa iya kesampaian....

 

Ada Gederuwo di Senayan....

Tak begitu jelas apa yang telah dikerjakan... 

selain seringnya keluar negeri jalan-jalan....

 

Ada Genderuwo di Senayan...

Suaranya selalu dibuat galak tapi tak sungguh menawan....

Tak jelas pula gagasan alternatifnya untuk rakyat ditawarkan...

 

Ada Genderuwo di Senayan...

Belajarnya dari dulu studi Russia-an...., 

sekarang-pun pakai jururus "Russian firehorse of falsehood" untuk kesenangan....

 

Ada gederuwo di Senayan....

Saya ingin mengajaknya ke jalan kontestasi yang mencerahkan....

Saya ingin genderuwo berubah jadi insan intelektual yang berpikiran menawan....

Layakkah "Ada Genderuwo di Istana" karya Fadli Zon dan Ada "Genderuwo di Senayan" karya Asrul Sani disebut puisi? Barangkali ini adalah luahan hati mereka yang tempatnya berada di tong sampah. Keduanya juga gagal menjadi penyair karena hasil dari perbuatannya tak seirama dengan perkejaan roh. Bahkan, Fadli Zon dan Asrul Sani gagal menjadi politikus yang handal untuk meluahkan kata-kata puitis. Dalam politik, ada beberapa kata puitis, misalnya /jangan membeli kucing dalam karung// jangan politik belah buluh (bambu).

Sesunguhnya genderuwo itu, katanya adalah hantu berbadan besar dan berbulu, menakutkan. Jelas genderuwo bukan puisi karena puisi adalah bahasa kalbu dan di dalam kalbu bersemayang tuhan. Jangan...jangan...genderuwo itu?

 

Taufik Hidayat adalah mahasiswa Sastra Melayu, FIB Universitas Lancang Kuning

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas