Sulitnya "Membaca" Eric, Awi dan Fauzi
0 Komentar 259 pembaca
Penampilan Awi Anjung pada Malam Puncak Bulan Bahasa di Aula Museum Sang Nila Utama Dinas Kebudayaan Riau

Sulitnya "Membaca" Eric, Awi dan Fauzi

Telaah

Oleh Taufik Hidayat

Penampilan monolog Eric Junior dan pembacaan puisi Awi Anjung serta Tengku Muhammad Fauzi pada malam puncak Bulan Bahasa yang ditaja Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Lancang Kuning (FIB Unilak), tak terbaca lantaran apa yang mereka sajikan jauh dari kehendak sebuah karya sastra.

Awi Anjung, penyair muda Riau yang tercatat masih menuntut ilmu di Unilak Fakultas Ilmu Bahasa, semester 5 malam itu mengenakan jacket berwarna coklat saat membacakan puisi berjudul Hang Tuah. Puisi karya Awi Anjung sendiri, tidak setajam dan seindah ketika dibacakannya. Ritme terkesan menonton, sehingga apa yang hendak disampaikannya lepas begitu saja, "menggelelmgar" tak tentu arah, belum lagi vokal Awi Anjung yang tak bulat yang mempengaruhi artikulasi menjadi tak jelas.

Membaca puisi, tak berbeda dengan bernyanyi. Ada kalanya pelan dan ada kalanya bernada tinggi sehingga tercipta penekanan makna setiap kata yang hendak disampaikan. Namun patut juga diapresiasi pada diri Awi Anjung di malam itu, ekspresinya luar biasa, penjiwaannya berhasil menutup kelemahan. Hal ini juga dipandang wajar lantaran malam itu Awi Anjung membacakan puisi karyanya sendiri.

Tengku Muhammad Fauzi, yang membaca puisi setelah Awi Anjung, malam itu tampak lalai dengan pendukung yang menjadi bagian dari suksesnya dia membaca puisi. Ekspresi Fauzi terbunuh oleh posisi mikrofon yang lebih rendah dari mulutnya, sehingga gerak alumni sastra Melayu Unilak ini tampak menoton. Tubuhnya "dipaksa" untuk tetap membungkuk ketika membacakan puisi berjudul: "Pahlawan Bersemayang."

Malam itu, sebaiknya musik sebagai latar belakang mengiring Fauzi membaca puisi ditiadakan, lantaran tidak "senadi" dengan puisi yang dibacakan. Musik lebih banyak lemoi alias mellow sementara puisinya membakar semangat. Mekipun demikian, vokal Fauzi yang bulat dan mampu mengatur ritme saat membaca puisi, tampaknya dia berhasil menyampaikan makna setiap kata yang dibacakan.

Pada puisi kedua yang berjudul "Membakar Surat Cinta" karya Hermansyah, Fauzi mendekati sempurna. Namun, lagi-lagi dia lalai, membaca teks puisi sesuai kehendak kata-kata dalam puisi itu, padahal tidak mesti demikian mengekapresikannya. Cukup dengan intonasi atau nada mendoktrin kata Membakar Surat Cinta, rasanya sudah sampai maknanya.

Tak perlu Fauzi membakar kertas teks puisi yang dibaca. Sebab, ketika Fauzi membacakan puisi keduanya, dia turun dari panggung dan berjarak sekitar satu meter dari penonton yang duduk berselimpot didepannya. Kertas yang dia bakar bisa membahayakan penonton karena dilepaskan dan jatuh ke lantai, untung saja kipas angin di Aula Museum Sang Nila Utama pada saat itu tidak begitu berfungsi.

Sementara itu, monolog berjudul "Tua" naskah Putu Wijaya yang dimainkan Eric Junior, dipandang dari berbagai sudut apapun terlihat cukup lemah. Saat itu gesture Tua menjadi Eric, seharusnya Eric menjadi tua sesuai tuntutan naskah. Bahkan, karena gerak tubuh yang tak berkata-kata, persoalan dasar saja, berapa umur Tua tak bisa ditebak.

Eric juga harus menanggung "dosa" lantaran ligthing tidak mendukung, begitu juga mekeup dan properti lainnya yang sangat minim sehingga tak "terbaca" Tua sedang berada dimana. Bahkan, kursi yang menjadi "peran pembantu" sangat tidak mewakili Tua. Paling tidak kursi yang digunakan malam itu, kursi rotan atau kursi malas yang secara umum selalu diduduki orang tua. Tapi properti kursi malam itu digunakan Eric adalah kursi roda kantor.

Apa boleh buat, malam itu Eric tak berhasil memerankan Tua. Hanya pada ending cerita Eric sedikit mencerahkan imajinasi penonton bahwa dia sedang merenung masa akan datang, dengan duduk di kursi. Meskipun Eric tak berhasil menyapaikan pesan dalam monolog itu, penonton sangat memakluminya lantaran bukan penampilan tunggal Eric. Sehingga panggung, properti, ligthing dan pendukung lainnya tak bisa disetting. Lebih tepatnya, malam itu Eric dibunuh oleh keadaan bukan dibunuh Tua.

Taufik Hidayat mahasiswa Program Studi Sastra Daerah (Melayu) FIB Unilak

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas