Analisi Heuristik dan Hermeneutik Puisi "Permintaan" Karya Muhammad Yamin
0 Komentar 989 pembaca

Analisi Heuristik dan Hermeneutik Puisi "Permintaan" Karya Muhammad Yamin

Telaah

Leli Nuryati

Pendahuluan
Karya sastra merupakan hasil cipta karsa manusia yang memiliki pesan kepada pembaca yang bersifat naratif dan imajinatif, namun berasal dari sebuah kebenaran yang pernah dirasakan dan dilihat oleh pengarang. Nurgiantoro mengatakan bahwa “ kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang seseuai dengan keyakinan pengarang, kebenaran yang telah diyakini “keabsahannya” sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan” (2010: 5). Karya sastra terbagi menjadi dua jenis yaitu prosa dan puisi. Karya sastra khususnya puisi membutuhkan analisis secara mendalam untuk mengetahui pesan yang terkandung di dalamnya. Puisi merupakan salah satu karya sastra yang terikat oleh rima dan irama. Melalui puisi pengarang atau penyair mampu mencurahkan perasaannya dan dapat mengasah proses kreatif mereka. Puisi adalah sebagai media bagi pengarang dalam menuangkan aspirasinya dalam melihat alam sekitar dan kehidupan di sekelilingnya. Selain itu puisi juga dapat dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain atau pembaca agar dapat menangkap pesan yang ada dalam puisi tersebut baik secara fisik maupun bathin.

Puisi yaitu sebuah karya sastra yang banyak mengandung simbol dan penuh dengan nilai-nilai. Puisi dapat mentransfer jiwa seseorang kepada dunia lain, puisi dapat menggambarkan suatu kegelisahan dan pemberontakan batin seseorang. Dalam menulis sebuah puisi tidak jarang seorang pengarang atau penyair menempatkan dirinya sebagai warga dunia sehingga ia merasa bersatu nasib dengan bangsa-bangsa lain. Dalam sebuah puisi berisi berbagai macam simbol dan tanda-tanda yang mewakili sesuatu hal. Simbol dan tanda pada puisi dapat dianalisi menggunakan pendekatan semiotik. Pendekatan semiotik yaitu pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui makna pada suatu tanda atau simbol yang dimiliki dalam karya sastra salah satunya puisi.

Puisi memiliki banyak makna tergantung pada teori yang digunakan pembaca dalam menganalisis puisi yang akan dianalisisnya, sehingga akan menghasilkan makna yang berbeda pada setiap teorinya. Puisi dapat dikaji dari berbagai macam aspek diantaranya pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Dalam makalah ini penulis akan menganalisis puisi Permintaan karya Muhammad Yamin, puisinya adalah sebagai berikut:

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku

Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku

Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur

Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.

Juni 1921

Puisi di atas akan penulis analisis berdasarkan pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik yang dikemukakan oleh Michael Riffaterre. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui makna dari simbol-simbol (kata-kata) yang digunakan pengarang atau penyair dalam menciptakan puisinya.

Landasan Teori
Secara umum hermeneutik berarti penafsiran atau menafsirkan. Kajian hermeneutik menggunakan pendekatan semiotik dalam menganalisisnya. Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda. Simbol dan tanda pada puisi berupa kata-kata yang diciptakan pengarang atau penyair dalam puisinya dan kata-kata itulah yang ditafsirkan pembaca agar dapat menemukan makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Dalam teori Riffaterre ada empat hal yang harus diperhatikan dalam memahami dan memaknai sebuah puisi yaitu: (1) puisi adalah ekspresi tidak langsung, menyatakan suatu hal dengan arti yang lain, (2) pembacaan heuristik dan hermeneutik (retroaktif), (3) matriks, model, dan varian, dan (4) hipogram. Analisis ini berfokus pada pembacaan heuristik dan hermeneutik (retroaktif).

Pembacaan heruistik merupakan pembacaan sajak atau puisi sesuai dengan tata bahasa normatif, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pembacaan heruistik merupakan pembacaan tahap pertama yang akan menghasilkan arti secara keseluruhan berdasarkan tata bahasa normatif. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu pembacan hermeneutik atau retroaktif. Pembacaan hermeneutik merupakan tahap kedua dan pada tahap inilah dilakukan pemaknaan sesungguhnya. Pada pembacaan hermeneutik, pembaca berusaha melihat kembali dan melakukan perbandingan dengan yang telah dibaca pada proses pembacaan tahap pertama. Jadi pembacaan heuristik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan kata-kata, bait-bait dan trem-trem yang ada di dalamnya. Pembacaan hermeneutik adalah penafsiran secara keseluruhan teks pada karya sastra tersebut.

Dalam puisi pemilihan kata-kata harus dilakukan dengan baik agar pembaca dapat memahami makna dari kata-kata tersebut. Pemilihan kata tersebut dilakukan karena puisi merupakan karya sastra yang dengan yang dengan sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, itulah sebabnya pemilihan kata-kata harus dilakukan dengan tepat agar pembaca tidak bingung ketika membaca puisi tersebut.

Pembahasan
Berikut ini adalah pembahasan puisi Permintaan karya Muhammad Yamin dilihat dari pembacaan heuristik dan hermeneutik:

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku

Bait pertama pada puisi ini terdiri dari 4 baris yang berisi 17 kata dan 43 suku kata. Jumlah kata dan suku kata pada baris pertama sama dengan jumlah kata dan suku kata pada baris ketiga dan keempat yang terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata.

Mendengarkan ombak pada hampirku (baris I)
Terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata:

Mendengarkan ombak pada hampirku (4 kata)
Men-deng-ar-kan om-bak –pa-da- ham-pir-ku (11 suku kata)

Debar-mendebar kiri dan kanan (baris II)
Terdiri dari 5 kata dan 10 suku kata:

Debar–mendebar kiri dan kanan (5 kata)

De-bar-men-de-bar- ki-ri- dan- ka-nan (10 suku kata)

Melagukan nyanyi penuh santunan (baris III)
Terdiri dari 4 kata dan 11suku kata:

Melagukan nyanyi penuh santunan (4 kata)

Me-la-gu-kan- nya-nyi- pe-nuh- san-tu-nan (11 suku kata)

Terbitlah rindu ke tempat lahirku (baris IV)
Terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata:

Terbitlah rindu ke tempat lahirku (4 suku kata)

Ter-bit-lah- rin-du- ke- tem-pat- la-hir-ku (11 suku kata)

Rima pada bait pertama puisi ini yaitu abba:

 

Mendengarkan ombak pada hampirku (a)

Debar-mendebar kiri dan kanan (b)

Melagukan nyanyi penuh santunan (b)

Terbitlah rindu ke tempat lahirku (a)

Pada bait pertama jika dilihat dari pembacaan hermeneutik yakni tentang perasaan pengarang yaitu Muhammad yamin tentang tanah kelahirannya yang membuatnya rindu akan tanah kelahirannya. Bagi pengarang tanah kelahirannya merupakan tempat yang indah yang dikelilingi oleh lautan yang menghasilkan suara hempasan yang keras, hal ini terlukis pada lirik Mendengarkan ombak pada hampirku. Dari lirik ini pengarang mencoba melukiskan suara ombak yang menghempas batu karang ketika ia berada di sana, maka suara yang dihasilkan oleh hempasan ombak itu akan sangat kesar dan menakjubkan. Kemudian diperjelas pada lirik kedua Debar-mendebar kiri dan kanan, ombak yang menghempas batu karang itu akan terombang-ambing ke kiri dan ke kanan yang menciptakan pemandangan yang indah dari ciptakan yang Maha Kuasa. Melagukan nyanyi penuh santunan pada lirik ini berisi tentang nyanyian alam yang memberikan ketenangan dan kesejukan. Nyanyian alam yang dimaksud di sini adalah suara hembusan angin yang menghasilkan sebuah lagu yang indah yaitu tiupan yang menyejukkan. Terbitlah rindu ke tempat lahirku merupakan inti dari bait ini yang maksudnya hempasan ombak dan nyanyian yang penuh makna itu membuat pengarang sangat rindu akan tanah kelahirannya. Jadi makna secara keseluruhan pada bait pertama yaitu Muhammad Yamin yang merasakan kerinduan terhadap tanah kelahirannya yang dapat terdengar suara ombak yang dapat mengetarkan hati dan nyanyian alam yang memberikan ketenangan kepadanya sehingga ia sangat merindukan tempat itu.

Bait kedua pada puisi Permintaan karya Muhammad Yamin yaitu:

Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku

Pada bait kedua ini terdiri dari 4 baris yang berisi 16 kata dan 44 suku kata. Jumlah kata dan suku kata baris kedua sama dengan jumlah kata dan suku kata pada baris keempat yang terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata.

Sebelah timur pada pinggirku ( baris I)
Terdiri dari 4 kata dan 10 suku kata:

Sebelah timur pada pinggirku (4 kata)

Se-be-lah- ti-mur- pa-da- ping-gir-ku ( 10 suku kata)

Diliputi langit berawan-awan (baris II)
Terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata:

Diliputi langit berawan–awan (4 kata)

Di-li-pu-ti- lang-it- ber-a-wan-a-wan (11 suku kata)

Kelihatan pulau penuh keheranan (baris III)
Terdiri dari 4 kata dan 12 suku kata:

Kelihatan pulau penuh keheranan (4 kata)

Ke-li-ha-tan- pu-lau- pe-nuh- ke-he-ra-nan (12 suku kata)

Itulah gerangan tanah airku (baris IV)
Terdiri dari 4 kata dan 11 suku kata:

Itulah gerangan tanah airku (4 kata)

I-tu-lah- ge-rang-an- ta-nah- a-ir-ku (11 suku kata)


Rima pada bait kedua sama dengan bait pertama yaitu abba:

Sebelah timur pada pinggirku (a)
Diliputi langit berawan-awan (b)
Kelihatan pulau penuh keheranan (b)
Itulah gerangan tanah airku (a)

Pembacaan hermeneutik pada bait kedua adalah berisi rasa bangga dan rasa sayang Muhammad Yamin sebagai pengarang dengan tanah airnya. Sebelah timur pada pinggirku maksud dari lirik ini yaitu tempat kelahiran Muhammad yamin berada di pesisir sumatera yang di kelilingi oleh lautan. Kemudian dilanjutkan pada lirik berikutnya Diliputi langit berawan-awan lirik ini memiliki makna bahwa pesisir Sumatera merupakan tempat yang cerah dan indah, serta damai yang menakjubkan dan dapat memukau setiap orang yang berkunjung ke sana. Hal ini terlukis pada lirik berikutnya Kelihatan pulau penuh keheranan dari lirik ini terlukis betapa indahnya pulau Sumatera yang dapat membuat orang-orang terheran ketika melihatnya. Itulah gerangan tanah airku dari lirik ini terlihat kebanggaan Muhammad Yamin terhadap pulau Sumatera yang merupakan tempat kelahirannya dan tempat yang selalu memberikan keindahan bagi manusia. Makna bait kedua ini jika dihubungan setiap liriknya yaitu tempat yang dikatakan oleh Muhammad Yamin dalam puisinya terletak di pesisir Sumatera yang merupakan salah satu pulau yang indah di Indonesia yang di kelilingi lautan. Tempat itu memiliki alam yang indah dan menakjubkan, hal ini yang membuat Muhammad Yamin menjadi semakin bangga dengan tanah kelahirannya.

Bait ketiga pada puisi Permintaan karya Muhammad Yamin:

Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur

Bait ketiga pada puisi ini terdiri dari 3 baris yang berisi 12 kata dan 32 suku kata. Jumlah kata dan suku kata pada baris pertama sama dengan jumlah kata dan suku kata pada baris kedua yang terdiri dari 4 kata dan 10 suku kata.

Di mana laut debur-mendebur (baris I)
Terdiri dari 4 kat dan 10 suku kata:

Di mana laut debur–mendebur (4 kata)

Di- ma-na- la-ut- de-bur-men-de-bur (10 suku kata)


Serta mendesir tiba di pasir (baris II)
Terdiri dari 4 kata dan 10 suku kata:

Serta mendesir tiba di pasir (4 kata)
Ser-ta- men-de-sir- ti-ba- di- pa-sir (10 suku kata)

Di sanalah jiwaku, mula tertabur (baris III)
Terdiri dari 4 kata dan 12 suku kata:

Di sanalah jiwaku, mula tertabur (4 kata)

Di- sa-na-lah- ji-wa-ku,- mu-la- ter-ta-bur (12 suku kata)

Rima pada bait ketiga ini yaitu aaa:

Di mana laut debur-mendebur (a)
Serta mendesir tiba di pasir (a)
Di sanalah jiwaku, mula tertabur (a)

Pada bait ketiga puisi Permintaan karya Muhammad Yamin dilihat dari pembacaan hermeneutik berisi tentang penegasan Muhammad Yamin tentang tanah kelahirannya yang berada di sebuah pulau yang memiliki laut yang indah. Di mana laut debur-mendebur lirik ini menjelaskan bahwa tempat lahir pengarang terletak di pesisir Sumatera yang memiliki lautan dengan hempasan ombaknya yang membuat jantung berdegup kencang. Kemudian dilanjutkan pada lirik berikutnya Serta mendesir tiba di pasir, pada lirik ini semakin terlihat tempat kelahiran pengarang yang membuat pengarang sangat meyanyangi tempat itu. Pada tempat itu bukan hanya ombaknya yang menakjubkan tetapi desir pasirnya dapat membuat hati menjadi tenang yang membuat pengarang semakin mencintai tempat itu. Di sanalah jiwaku, mula tertabur dari lirik ini dapat dijelaskan bahwa pengarang yakni Muhammad Yamin merasa bahwa hempasan ompak dan desiran pasir di pantai menantikan kelahirannya dan baginya itulah yang dapat memberikan ketenangan dan kedamaian pada jiwanya.

Bait keempat pada puisi Permintaan karya Muhammad Yamin:

Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur

Bait keempat pada puisi ini terdiri dari 3 baris yang berisi 12 kata dan 35 suku kata. Jumlah kata pada masing-masing baris sama, namun jumlah suku kata pada masing-masing baris berbeda yaitu baris pertama terdiri dari 4 kata dan 10 suku kata, baris kedua terdiri dari 4 kata dan 13 suku kata dan baris ketiga terdiri dari 4 kata dan 12 suku kata.

Di mana ombak sembur-menyembur (baris I)
Terdiri dari 4 kata dan 10 suku kata:

Di mana ombak sembur–menyembur (4 kata)
Di- ma-na- om-bak- sem-bur-me-nyem-bur (10 suku kata)

Membasahi Barisan sebelah pesisir (baris II)
Terdiri dari 4 kata dan 13 suku kata:

Membasahi Barisan sebelah pesisir (4 kata)

Mem-ba-sa-hi- Ba-ri-san- se-be-lah- pe-si-sir (13 suku kata)

Di sanalah hendaknya, aku berkubur (baris III)
Terdiri dari 4 kata dan 12 suku kata:

Di sanalah hendaknya, aku berkubur (4 kata)
Di- sa-na-lah- hen-dak-nya,- a-ku- ber-ku-bur (12 suku kata)

Rima pada bait keempat yaitu:

Di mana ombak sembur-menyembur (a)
Membasahi Barisan sebelah pesisir (a)
Di sanalah hendaknya, aku berkubur (a)


Bila dilihat dari pembacaan hermeneutik bait keempat pada puisi Permintaan karya Muhammad Yamin bahwa ia ingin dikuburkan di tempat kelahirannya yang dapat membuat jiwanya tenang dan damai. Di tempat yang ia inginkan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir adalah tempat Di mana ombak sembur-menyembu maksudnya adalah lautan yang selalu memiliki ombak yang tiada henti. Membasahi Barisan sebelah pesisir maksud dari lirik ini adalah ombak pada lautan itu sampai ke bibir pantai yang menghasilkan pemandangan yang indah kala melihatnya. Pada lirik kedua pada bait ini terlihat jelas bahwa tempat kelahiran yang dimaksud oleh Muhammad Yamin yaitu pesisir Sumatera, ini terbukti dari kata “Barisan” yang ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada awal kata Barisan. Kata Barisan dapat diartikan sebagai Bukit Barisan yang ada di Sumatera bagian pesisir, jadi oleh karena itu tempat kelahiran yang dimaksud oleh Muhammad Yamin dalam puisinya yaitu pesisir Sumatera. Di sanalah hendaknya, aku berkubur makna dari lirik ini yaitu Muhammad Yamin ingin menjadikan tempat itu sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir dan dapat memberikan kedamaian kepada jiwanya.

Kesimpulan
Setelah menganalisis puisi Permintaan karya Muhammad Yamin, dapat disimpulkan bahwa pembacaan hermeneutik dapat dijadikan sebagai alat untuk menganalisis sebuah puisi. Pembacaan hermeneutik membicarakan tentang penafsiran dan pemaknaan dalam sebuah puisi. Dalam pembacaan heuristik yang menganalisis puisi berdasarkan kata-kata, bait-bait dan trem-trem dalam puisi. Pembacaan hermeneutik puisi Permintaan karya Muhammad Yamin dapat memberikan makna bahwa Muhammad Yamin sebagai pengarang sangat menyayangi dan memuji tanah kelahirannya yang berada di pesisir Sumatera yang dikelilingi oleh lautan. Ia sangat merindukan tanah kelahirannya yang indah dan damai serta ia sangat bangga akan tanah kelahirannya sehingga ia menginginkan jika kelak ia mati haruslah ia dikuburkan di tanah kelahirannya.

Dalam pembacaan heuristik puisi Permintaan karya Muhammad Yamin merupakan puisi modern yang masih menggunakan kaidah-kaidah lama, dengan lirik dan bait yang disusun 4-4-3-3 serta sajaknya yang bebas a-b-b-a dan a-a-a. Melalui puisi ini Muhammad Yamin sebagai pengarang memberikan kata-kata dan imajinasi yang mudah dimengerti dan memiliki nilai keindahan bila dibaca dan dinikmati. Puisi ini memiliki makna keseluruhan yang kuat bahwa penyair sangat mencintai dan merindukan tanah kelahirannya.

Daftar pustaka

Nurgiyantoro,Burhan.2010.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
http://tikuskepleset.blogspot.com/2012/03/puisi-pengertian-dan-jenisnya.html
https://bambangsantoso.wordpress.com/2012/12/03/mengenal-semiotika-michael-riffaterre/
https://sayukelabu.wordpress.com/2013/07/26/kajian-hermeneutik-puisi-kucari-jawab-karya-j-e-tatengkeng/

Leli Nuryati adalah alumni Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas