Secuil Tentang Mendu
0 Komentar 571 pembaca

Secuil Tentang Mendu

Khazanah

Oleh Eric Febrian

Teater Mendu merupakan teater tradisi/ teater bangsawan bernuansa kerakyatan. B.M. SYAMSUDIN (1987), mengatakan bahwa mendu yang berkembang di daerah Buguran berasal dari Wayang Parsi yang berkembang di Pulau Penang sekitar tahun 1780-1880. Dahulu mendu hanya dimainkan oleh kaum laki-laki, namun sekarang mulai tahun 70-an, tidak hanya milik laki-laki semata tetapi perempuan juga ikut ambil bagian dalam pementasan mendu. Kesenian mendu menyebar diberbagai tempat yaitu Bunguran Timur (ranai dan sepempang), Siantan (terempa dan langi), dan Mindai serta Tanjung Pinang.

Kesenian tradisional dulunya merupakan bagian dari adat istiadat atau ritual kepercayaan yang sakral. Akan tetapi, pada perkembangannya, unsur seni dan hiburannya semakin menonjol, sementara unsur sakralnya semakin berkurang bahkan dihilangkan. Begitu pula teater mendu. Dahulu, teater ini dimulai dengan ritual-ritual tertentu yang tujuannya memanggil roh-roh untuk hadir dan menjaga selama pertunjukan berlangsung.

Keunikan cerita teater mendu ini adalah cerita yang dilakonkan/dimainkan tanpa menggunakan naskah. Dialog yang digunakan merupakan tarian dan nyanyian. Adapun lagu-lagu dinyanyikan antara lain: Air Mawar, Jalan Kunon, IlangWayat, Perang, Beremas, Ayuhai, Tale Satu, Pucok Labu, Sengkawang, Nasib, Numu Satu Serawak, Setanggi, Burung Putih, Wakang Pecah, Mas Merah, Indar Tarik Lembu, Numu Satu, Lemak Lamun, Lakau, dan Catuk. Sedangkan tarian-tariannya adalah: Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, Ladun, Jalan Runon, dan Baremas.

Teater tradisi Mendu bisa digolongkan sebagai teater bangsawan yang merupakan prototype teater tradisional yang umumnya terdapat di Sumatera dengan latar belakang pendukung dominan; rumpun budaya Melayu. Kesenian tradisional ini dikenal menjelang awal abad ke- XX. Pengaruh teater bangsawan banyak ikut campur dalam urusan ini seperti menggunakan panggung secara lengkap dengan layar sebagai dekorasi. Karena jamaknya, hingga terasa banyak kesamaan antara Mendu dan Wayang Bangsawan. Sepanjang hayatnya adaptasi bangsawan mendapat ciri-ciri khasnya sendiri. Ia mulai menyerap unsur-unsur setempat misalnya nama-nama tempat dan istilah-istilah lokal dan kebiasan-kebiasaan yang lazim dalam Wayang Bangsawan.

Dari penelitian dan literatur dapat dihimpun sebuah penjelasan bahwa sumber utama yang menjadi dasar lakon Mendu ini adalah cerita hikayat tentang Jewa, jin dan putri-putri seperti disadur lakon Komedi Stambul dari hikayat 1001 malam epos atau cerita lama dan unsur cerita rakyat lokal. Kadangkala dicampur juga dengan keadaan kehidupan masyarakat setempat. Sementara musik adalah bagian integral dari pertunjukan ini, dimana naskah dan alur cerita dikisahkan oleh oleh Mahnijar (sutradara) secara lisan kepada para pelaku. Pementasan ini dilakukan di atas panggung dengan dekorasi yang sangat sederhana yaitu lukisan di atas kain atau triplek yang menggambarkan hutan, istana dan sebagainya selaras dengan seting cerita yang dibawakan.

Cerita yang dimainkan dalam teater mendu adalah Hikayat Dewa Mendu. Konon, pementasan teater mendu ini dipentaskan selama tujuh hati tujuh malam berturut-turut. Tetapi, sesuai dengan perkembangan zaman tidak lagi mementaskan teater mendu selama itu, melainkan mengambil fragmen perbabak dari naskah tersebut.

Cerita itu terbagi dalam tujuh episode. Ketujuh episode tersebut sebagai berikut:

  1. Episode pertama, menceritakan kehidupan di kayangan dan turunnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke dunia yang fana.
  2. Episode kedua, menceritakan berpisahnya Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi akibat perbuatan jin jahat yang diutus oleh Raja Laksemalik
  3. Episode ketiga, menceritakan perjalanan Siti Mahdewi, kelahiran anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya, dan perjumpaannya dengan Nenek Kabayan
  4. Episode keempat, mengisahkan tentang perjalanan Dewa Mendu yang kemudian sampai di sebuah kerajaan yang rajanya bernama Bahailani
  5. Episode kelima, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Majusi.
  6. Episode keenam, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Firmansyah
  7. Episode ketujuh, mengisahkan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Kilan Cahaya yang diawali dengan perkelahian antar keduanya. Cerita Dewa Mendu ini dapat dimainkan dalam beberapa versi, namun inti ceritanya tetap sama.

Tokoh-tokoh dalam seni pertunjukan Mendu, di samping Dewa Mendu adalah: Angkara Dewa, Siti Mahdewi, Maharaja Laksemalik, Kilan Cahaya, Nenek Kebayan, Raja Bahailani, Raja Majusi, Raja Firmansyah, Raja Beruk, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang jenaka seperti Tuk Mugok dan Selamat Salabe. Kedua tokoh ini seperti tokoh Punakawan dalam pewayangan yaitu sebagai humoris dalam cerita Mendu. Oleh karena itu, mereka menjadi bagian yang penting dan sangat disenangi oleh penonton.

Pertunjukan dibuka dengan ladun yaitu tarian pembuka. Para pemain keluar berpasang-pasangan dan berperan sebagai rakyat jelata serta wakil rakyat, mereka menari sambil berpantun. Selesai berladun, beduk ditabuh dan para pemain mengambil posisinya masing-masing. Tontonan rakyat ditutup dengan Beremas yang artinya berkemas-kemas untuk pulang. Yang unik pada bagian Beremas ini adalah lagunya dikemas menyentuh perasaan, tidak ada penonton yang bercucuran air mata mendengarnya.

Untuk pementasan pemainnya berjumlah minimal 25 tetapi lebih baiknya 35 orang karena dengan itu pembagian tugas sama. Panggung yang digunakan untuk pementasan adalah berukuran 4x14 meter yang terdiri atas tiga bagian yaitu ruang rias, balai penghadapan, dan area berlandun. Pementasan mendu ini mempunyai urutan yaitu urutan pertama pertunjukan diawali dengan pengantar yakni pemberitahuan bahwa mendu akan dipentaskan dengan memukul alat perkusi. Kedua madah yang dilakukan oleh Syekh. Ketiga berlandun yaitu semua pelakon menari dan bernyanyi bersama membentuk lingkaran, lalu berpasangan dan berpantun yang berisi ucapan selamat datang serta permohonan maaf jika nanti pementasan kurang memuaskan. Keempat para pelakon menyanyikan lagu wayat. Kelima adegan pertama menggambarkan suasana kerajaan. Keenam pementasan Mendu, dan Ketujuh penutupan atau beremas.

Pementasan Teater Mendu pernah dipentaskan dan digarap oleh sanggar Teater Matan di Pekanbaru. Monda Gianes selaku sutradara (Mahnijar) dalam garapan mendu memodifikasi cerita mendu yang sudah ada menjadi sebuah bentuk baru sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini serta tidak menghilangkan esensi-esensi penting dalam cerita mendu. Hanya saja para pelakon dituntut melakukan sebuah improvisasi agar jalan cerita tersampaikan sesuai dengan plot yang telah diarahkan oleh sang sutradara (Mahnijar). Itu yang membedakan teater tradisional dan teater modern. Pada teater modern, aktor terikat pada naskah untuk setiap pementasan. Sementara pada teater tradisional, naskah hanya menjadi rambu untuk aktor. Selain naskah, faktor penonton juga menjadi pembeda teater tradisional dengan teater modern. Pada teater tradisional, termasuk mendu, penonton menjadi bagian dari pementasan. Penonton dapat berinteraksi dengan aktor yang berada di panggung. Sedangkan pada teater modern, penonton bukan bagian pementasan. Jadi, ada batas yang tegas antara penonton dan aktor pada teater modern.

Semoga kehadiran Teater Mendu digenerasi zaman sekarang akan menjadi sebuah pertunjukan yang menarik minat masyarakat khususnya di Pekanbaru, Riau. Karena kalau tidak pada generasi sekarang sebagai penerus teater tradisi yang ada di daerah kita masing-masing, siapa lagi yang akan mempertahankannya. Sekian ulasan yang masih banyak kekurangan ini dan penulis berharap semoga para pembaca dapat memberikan masukan dan kritik saran yang membangun.


SUMBER:
http://riaupos.co/3328-spesial-mendu.html#.Wkhgi9KWbDc
http://ruangsekolahku.blogspot.co.id/2016/12/teater-mendu-dari-kepulauan-riau.html
https://www.kompasiana.com/hafash/analisa-teater-tradisi-mendu-natuna-dalam-konteks-seni-pertunjukan_55090706813311891cb1e2d6

Eric Febrian adalah mahasiswa semester 2 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas