Untuk Kejayaan, Penyair Menyulam Mimpi Lewat Puisi
0 Komentar 1735 pembaca
Pompa Angguk (f. net)

Untuk Kejayaan, Penyair Menyulam Mimpi Lewat Puisi

Telaah

Oleh Hang Kafrawi

“Jangan pernah tidak bermimpi” ujar Almarhum Hasan Junus (HJ), Biksu Sastra Riau,  ketika masih hidup. Kalimat itu selalu disampaikan oleh Hasan Junus kepada penulis muda Riau yang handak ‘mencuri’ ilmu darinya. Hasan Junus yang sangat tunak dengan menulis karya sastra, tidak pernah lokik memberikan ilmu kepada siapa saja yang mau menuntut ilmu kepadanya.

Kalimat yang diucapkan HJ itu adalah motivasi kepada penulis, terutama penulis muda Riau, bahwa menulis karya sastra adalah bermimpi. Bermimpi di sini diartikan, manusia memiliki keinginan dan harapan yang harus diwujudkan. Menulis karya sastra adalah menulis keinginan dan pada akhirnya akan menghasilkan keinginan pula yaitu keinginan pembaca karya tersebut. Pembaca pun menyulam mimpi dengan membongkar mimpi-mimpi lewat kata-kata yang dirangkai dalam karya sastra.    

Tentu saja, masing-masing manusia memiliki mimpi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pengaruh kenyataan di sekitar manusia sangat berpengaruh besar membentuk mimpi. Seseorang yang dekat dengan kaum tertindas, misalnya, akan mewujudkan mimpi mereka untuk bebas dari penderitaan dan sekaligus memprotes kesenjangan yang menyebabkan mereka hidup dalam penderitaan.

Bermimpi adalah pembebasan diri. Dengan bermimpi manusia dapat menyulam dirinya menjadi apapun juga. Sebagai wadah untuk bermimpi, karya sastra membuka peluang-peluang menuangkan mimpi. Tidak jarang pula, tersebab karya sastra tidak membatasi menampung mimpi, maka banyak sekali karya-karya sastra terasa aneh, tidak sesuai dengan kenyataan dengan keseharian sebagai inspirasinya. Hal ini disebabkan, karya sastra bermain pada wilayah simbolis-simbol. Dari simbol-simbol ini pembaca diajak mengembara, berkenalan, bercumbu dengan mimpi-mimpi yang pada akhirnya berbuah kepada kesadaran untuk berubah dari keadaan yang tidak nyaman ke keadaan yang nyaman.

Roland Barthes, seorang ahli di bidang sastra bernegara Perancis, menjelaskan bahwa hakikat karya sastra adalah penyampaian bahasa kedua. Maksudnya, karya sastra itu bermakna apabila kita dapat menangkap pesan di balik karya sastra itu. Teks karya sastra yang terwujud dari bahasa memiliki pesan di baliknya.

Mimpi yang dituang oleh para penyair Riau kaya akan simbol-simbol khazanah, peradaban dan juga sejarah daerah ini. Penyair Riau seakan menyadari bahwa seuatu karya yang dihasilkan merupakan pewanjatahan kolektif dari kehidupan masyarakatnya, sehingga apa yang dihasilkan penyair Riau adalah mimpi masyarakat Riau. Hal ini disebabkan, Riau yang memiliki kekayaan alam yang melimpah tidak menjamin masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan. Kenyataan-kenyataan perih ini banyak sekali terlihat pada puisi-puisi penyair Riau.

Suara perlawanan menjadi wajah puisi-puisi penyair Riau. Perlawanan yang begitu mengebu-ngebu dalam puisi Riau mengokah, membongkar segala pedih, luka, perih nestapa, derita menjadikan puisi Riau terlihat pesimis. Namun untuk menangkap makna dalam puisi, pembaca harus menyingkap permukaan kata-kata dalam puisi untuk menemukan arti sebenarnya puisi tersebut. Keluakaan, kepedihan, keperihan yang berhamburan dari puisi Riau adalah upaya mengenalkan diri lebih dekat lagi. Dengan mengenal diri, maka kecintaan pun akan berkobar. Kobaran rasa cinta pada tanah Riau inilah semangat yang hendak dimunculkan oleh para penyair Riau. Maka membaca puisi-puisi yang dilahirkan oleh penyair Riau merupakan upaya menggali semangat untuk tampil sebagai pemenang.

Waktu terus bergerak, suara-suara yang dibawa oleh penyair Riau juga meningkah zaman. Setiap zaman menghasilkan penyair-penyair dengan suara-suara mengalun dan merekam peristiwa yang terjadi di zaman dimana para penyair itu hidup. Maka di setiap zaman atau waktu bermuncullah nama-nama penyair Riau. Kita pun mengenal Presiden Penyair Indonesia yang berasal dari Riau, Sutardji Calzoum Bachri. Dengan kekuatan tradisi mantra, Sutardji merecup bak bunga di taman kesusastraan Indonesia. Kata-kata di tangan Sutardji seperti sihir, menyentak, menusuk bahkan membakar jiwa.

Selain Sutardji, dunia kesusastraan Riau memunculkan nama-nama penyair yang menjulang nama Riau seperti Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, Rida K Liamsi, Armawi KH. Dekade berikutnya muncul para penyair seperti Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil, Husnu Abadi, Syafruddin Sungai Gergaji, Dasri Al Mubari, GP Ade Dharmawi. Eddy Ahmad RM, Yoserizal Zen, Hafny Mulana, Herlela Ningsih. Selanjutnya nama penyair seperti Marhalim, Murparsaulian, Musa Ismail, Kunni Masrohanti, Ramon Damora, Ahmad S Udi, Eka PN memperlihatkan karya-karya puisi yang bernas. Penyair-penyair ‘senior’ yang masih hidup terus berkarya, muncul penyair-penyair yang lebih muda, seperti M. Badri, Jefri Al Malay, Sobirin Zaini, Ahmad Ijazi dan penyair-penyair muda lainnya (maaf tidak menyebutkan satu per satu).

Merangkai Sejarah Menjadi Mimpi

Puisi dihasilkan oleh penyair seperti jembatan menuju suatu tujuan. ‘Jembatan’ yang dibangun ini meleawti proses kontemplasi yang dalam. Bahan-bahan ‘jembatan’ tersebut berasal dari resah, gelisah, cemas yang didapat dari hasil ‘menelek’ kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat.

Untuk mendedah kemenangan dan kejayaan, penyair dengan ketajaman imajinasinya meneroka ke segala ruang, waktu dan tempat. Bagi penyair, segala yang terbuka maupun tertutup di atas permukaan bumi ini dapat dijadikan sumber penciptaannya. Peritiwa masa lalu, peristiwa hari ini dan peristiwa akan datang mampu dibuhul oleh penyair untuk dijadikan puisi. 

Riau dianugerahkan kejayaan masa lalu yang cemerlang, menyebabkan banyak penyair Riau ‘menyelam’ ke masa lalu dan menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi untuk membangkitkan semangat hari ini. Coba kita baca dan simak puisi Fakhrunnas MA Jabbar berikut ini:

           

Belajar Sejarah pada Batu

sejarah ada di mana-mana

ada di batu

batu tak diam kala kusapa

 

di antara batu-batu

kubelajar sejarah

ada yang terbantai di kelam waktu

masa lalu

di holocaust memorial  ini

kuterkenang segala

kubelajar segala

tak sia-sia

kini

 

berlin, 23 okt 2014

Dalam puisi ini terbentang jelas bahwa optimisme harus senantiasa dipelihara. Masa lalu atau sejarah menjadi kata kunci dalam puisi ini. Sejarah menciptakan ruang untuk kita mengenal akan diri dan sekaligus memperkokoh keberadaan kita di muka bumi. Terkadang ketika kita berada jauh dari tanah kelahiran, rasa rindu membongkar kecintaan dalam diri. Tanah kelahiran tidak akan pernah dapat dihilangkan dari benak dan juga hati kita. Hal ini dapat ditelek dari kata Berlin, dimana puisi ini dicipta.

Penyair pun mendedahkan bahwa dengan optimis kita mampu menggali segala kekuatan yang ada pada diri. batu tak diam kusapa frase ini mempertegas kekuatan diri; benda mati pun bersaksi akan keberadaan optimisme itu. Dengan mengetahui dan sekaligus memahami sejarah maka kita diajarkan segala hal. Dimanapun kita berada, masa lalu yang melekat dalam jiwa akan menjadi kekuatan dalam mengarungi kehidupan ini.

“Kehebatan” sejarah menjadi kekuatan karya-karya puisi penyair Riau. Hal ini disebabkan kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat Riau pada hari ini sangat tidak menguntungkan. Seperti yang disampaikan di atas tulisan ini, kekayaan alam Riau tidak menjamin masyarakatnya hidup sejahtera. Sejarah Melayu (Riau) yang cemerlang dijadikan perbandingan sekaligus semangat untuk memperoleh kemenangan.

Selain itu, tokoh-tokoh dalam sejarah menjadi perbandingan untuk melakukan sesuatu demi hari ini. Taufik Ikram Jamil adalah salah penyair Riau yang selalu menggunakan tokoh-tokoh masa lalu dalam puisi-puisinya. Salah satu puisi berikut ini:

percintaan hang tuah-tun teja

kalian sampai ketika renyai

saat hari mengawal sunyi

hingga diam kalian semakin sejuk

dan kalian membiarkan semuanya

terkurung dalam isyarat

yang terbasa-basi pada malam

dikunci dalam bilik kata-kata

dengan mendustai makna

tanpa sekat setia

atau sekedar tenggat pura-pura

menyetujui setiap khianat

pada tuju yang berbeda

lalu menyatu pada yang tak suka

menghidu keinginan lain

dari sisa-sisa gelap

ditinggalkan dendam dan geram

 

tapi semuanya harus berakhir

sebelum subuh

Puisi ini mengambarkan kesetiaan selalu saja disalah artikan. Kesetiaan dijadikan jalan untuk menistakan, sehingga kesetiaan akan membuah hasil kelukaan. Begitulah perumpamaan yang dinukilkan Taufik Ikram Jamil. Hang Tuah harus rela menyerahkan kekasihnya kepada sultan, walaupun dirinya menderita. Hal yang sama dirasakan oleh orang Riau; dengan setia Riau menyerahkan kekayaan alamnya, namun yang didapatkannya adalah sengsara.

Masih banyak sederetan puisi yang mengokah sejarah menjadi kekuatan dalam puisi yang dilakukan oleh penyair Riau. Sejarah menjadi salah satu identitas karya sastra Riau. Diperlukan penjelajahan kajian mendalam lagi, sehingga mendapatkan pemaknaan sejarah dalam karya-karya penyair Riau. Tulisan ini hanya membentang secuil kekuatan sejarah dalam puisi Riau.   

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas