Membaca Gairah Sastra di Riau
0 Komentar 800 pembaca
Gambar Tim Matahari Sastra Riau

Membaca Gairah Sastra di Riau

Lapsus

    Sastra merupakan hasil cipta atau karya manusia yang dituangkan melalui ekspresi berupa tulisan serta menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra juga merupakan hasil karya seseorang yang diekspresikan melalaui tulisan yang indah, sehingga karya yang dinikmati mempunyai nilai estetis dan menarik para pembaca untuk menikmatinya. Karya-karya yang indah ini dapat berupa cerpen, puisi, novel serta drama.
    Pada dunia modern, peran sastra juga memberikan dampak positif dalam pikiran dan perasaan manusia. Di bentangan karya sastra, manusia dapat berfikir kritis, kreatif, inovatif serta dapat menyedu wawasan yang luas pula. Karya sastra menghadirkan ketajaman hati nurani dalam menyingkapi hidup ini. Inilah yang menjadi misi para pengarang karya sastra; menjadikan karya yang dihasilkan sebagai penyeimbang hidup ini.
Karya sastra juga dapat memberikan pesan dan amanat kepada pembaca untuk lebih bersikap arif dalam menentukan sikap, bertengang rasa dan memahami satu dengan yang lainnya. Pembaca diajak untuk menjunjung tinggi norma-norma etika, moral menuju manusia yang menjunjung nilai kemanusiaan. Dengan latar belakang inilah, karya sastra berfungsi sebagai penyadar manusia akan peran sertanya dalam kehidupan sosial.
    Tentu saja, karya sastra sebagai bagian dari kebudayaan tidak luput pula dari ‘gempuran’ pasang surut perkembangan zaman. Walaupun demikian, karya sastra tetap dan terus dihasilkan oleh sastrawan. Bahkan para sastrawan ‘berkawan’ memanfaatkan perkembangan zaman, dalam hal ini teknologi, untuk menyebarluaskan karya-karya mereka. Di era teknologi canggih ini, karya sastra pun dapat dinikmati atau dibaca oleh orang ramai melalui handphone dan dibaca di mana-mana.  
Namun demikian, tidak jarang juga, perkembangan zaman dengan ditemukan teknologi canggih ini, dapat mengikis minat baca karya sastra, sebab teknologi memudahkan menyediakan visual video. Hal ini menyebabkan generasi sekarang ini terbiasa dan menyukai menikmati visual video dibandingkan membaca.
   Provinsi Riau, sebagai gudangnya para sastrawan terkemuka di Indonesia, dalam perkembangan kesusastraannya, juga mengalami pasang surut. Walaupun demikian, sampai saat ini, generasi-genarasi muda muncul dengan karya-karya yang tidak kalah dengan senior mereka.
Kunni Masrohanti yang merupakan salah satu penggiat sastra di Riau menjelaskan, kehidupan sastra di Riau sangat mengasyikkan, hidup, dan memiliki jiwa semangat. Tidak hanya puisi, karya sastra yang lain seperti cerpen, novel, dan esai sastra terus dihasilkan. Sastrawan baru juga, kata Kunni, bermunculan. Banyak sastrawan muda yang muncul saat ini. Menurut Kunni, para penulis muda Riau tidak hanya tumbuh kembang di Riau tapi mereka juga mengembangankan sayap ke luar Riau, ke daerah-daerah lain. Bahkan berkembang ke manca negara.
“Sastra di Riau pada saat ini sedang bersemangat, tetap bersemangat dan lebih bersemangat lagi,” ujar Kunni.
Kunni Masrohanti mencontohkan, seperti di Unilak, sedang riuh mengadakan event-event mengenai puisi dan melahirkan penyair muda. Hal ini membuktikan sastra itu sudah memiliki gairah tersendiri, tumbuh kembang dalam jiwa penulis atau penggiat sastra. Maka dari itu sastra tidak hanya penting pada saat ini, akan tetapi pada masa lalu dan juga masa akan datang.
    Para penggiat sastra khususnya di Riau tentu memiliki kendala untuk menghidupkan dan menyosialisasikan karya mereka. Menurut Kunni, kendala itu bukan membunuh semangat, namun menjadi kekuatan untuk menghasilkan karya lebih baik lagi. Menughasilkan karya sastra, tidak semudah membalik telapak tangan.
“Kendala itu pasti ada, takkan mungkin selalu mulus dalam menghasilkan karya sastra. Memang diperlukan semangat yang ekstra untuk menghadirkan karya sastra pada saat ini,” ujar Kunni.
    Dalam hal generasi penulis muda di Riau,  di generasi milenial hari ini, ada pandangan bahwa mereka kurang diberikan ruang dan jarang dilibatkan dalam perhelatan sastra. Selain itu, minimnya pengetahuan mereka mengenai sastra dan kurangnya kemamuan mereka terhadap karya sastra, Kunni menjelaskan bahwa ruang sastra tidak pernah ada sekatnya, antara yang muda dan yang tua. Pro aktif untuk lebih tahu, harus ditanamkan kepada genarasi muda hari ini.  
Kunni juga menyampaikan harapan pada setiap generasi untuk tetap berkarya dan terus berjuang untuk sastra di Riau. “Walaupun jalan kita berbeda tetapi tetap menyuarakan dunia sastra. Menyuarakan sastra dan mengajak orang-orang lebih dekat dengan karya-karya sastra,” jelas Kunni.
Bagaimana juga bangsa ini lahir dari karya sastra. Sumpah Pemuda merupakan mahakarya puisi yang menyatukan bangsa ini.  Bagaimana pun juga generasi harus tetap mengeksplor diri. Tetap melestarikan sastra dan membaginya pada orang banyak.
“Jadi, jangan kaya pada diri sendiri, namun bagikanlah kepada orang lain, kepada generasi-generasi selanjutnya. Sebab bukan saatnya kita membicarakan mengenai aku yang rindu tapi menceritakan kita semua, tentang alam, sosial, budaya, dan bahkan politik,” tambah Kunni.
Gairah sastra, tidak saja berada di kota. Di ceruk-ceruk kampung juga generasi muda Riau terus bergeliat dengan menghasilkan karya sastra. Walaupun berada jauh dari pusat kota (ibu kota provinsi), namun gairah sastra di kampung seperti gelombang, terus melahirkan riak-riak anak mudanya. Keberadaan jauh berada di pusat kota, menyebabkan beberapa kesulitan yang dihadapi.
Jasman Bandul, salah seorang sastrawan Riau yang berdomisili di daerah perkampungan Meranti, tepatnya di Desa Tasik Putri Puyu, menjelaskan bahwa kurangnya media sastra di kampung menjadi kendala utama dalam perkembangan sastra.
“Sebenarnya banyak anak-anak di kampung  memiliki talenta yang bagus dalam minat sastra, hanya saja terkadang media tempat dia mencurahkan itu kurang. Saya bertanggung jawab secara moral sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Membuka media di kampung dengan cara membentuk suatu komunitas. Sekilas terlihat seperti tempat bermain, bersenda gurau, namun cukup berisi dan tempat diskusi,” terang Jasman.
Jasman sendiri merupakan pendiri Komunitas Gemar Menulis dikampungnya. Komunitas yang didirikan Jasman ini telah pulau menghasilkan penulis-penulis muda Riau. Komunitas ini, kata Jasman, sebagai wadah anak-anak untuk menuangkan tulisan anak-anak muda di kampungnya.
“Harapan saya, secara umum bagi generasi  millenial anak sastra adalah menjadi penulis. Menjadi kreatif di bidang sastra di manapun mereka berada. Dengan belajar sastra kita menjadi lembut, indah dan berani. Kata Ali Bin Abi Thalib,  “kalau kau bukan anak ulama atau bukan anak raja jadilah kau penulis”. Kata Umar Bin Khattab, ajari anakmu sastra maka ia akan menjadi pemberani,” tutur penulis lahir pada 10 juni 1984 ini.
    Sejalan dengan Kunni Masrohanti dan Jasman Bandul, Griven H Putra, salah seorang sastrawan Riau yang telah menghasilkan karyanya di media nasional ini, juga mendirikan sebuah komunitas yang ikut andil dalam mengobarkan gairah sastara di Riau. Tim Matahari Sastra Riau yang digagas olehnya cukup gesit untuk menyosialisasikan sastra. dengan komunitas yang didirikannya, Tim Matahari berkunjung ke sekolah-sekolah, memberikan ruang yang cukup baik untuk dimanfaatkan oleh siswa SMA. Ini salah satu kegiatan pemancing agar siswa atau anak-anak zaman sekarang mulai tahu akan sastra.
    Lain hal dengan Pak Zamhir Arifin atau yang lebih dikenal Zamhir Rempak. Zamhir lebih suka mengapresiasikan dan menyuarakan sastra secara langsung dalam artian, membaca puisi atau kunjungan-kunjungan ke sekolah dalam bentuk diskusi-diskusi sastra dan pengenalan puisi-puisi.  Bagi beliau melalui cara tersebut dapat  berkomunikasi secara dua arah dan lebih interaktif. Zamhir juga menjelaskan melakukan hal ini generasi muda akan lebih dekat dan mudah mendalami karya sastra.

                                                                                                                                           Tim tabloidtanjak.com

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas