Bahasa dan Sastra  Sebagai Kekuatan Bangsa
0 Komentar 1465 pembaca
Cover Tabloid Tanjak Edisi 5

Bahasa dan Sastra Sebagai Kekuatan Bangsa

Berita

             “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.” (Gurindam 12, Pasal 5). Raja Ali Haji sastrawan abad ke-19 ini, menyadari betul bahwa bahasa menjadi kekuatan menyatukan manusia dan bangsa. Dengan bahasa ada gambaran bangsa yang kokoh. Kekuatan bahasa ini pulalah yang menjadi spirit pemuda-pemudi Indonesia menyatukan ratusan suku bangsa yang mendiami Indonesia ini. Dengan keyakinan menyatukan bangsa, maka pada tanggal 28 Okoteber 1928, pemuda-pemudi Indonesia bersumpah bersatu padu dalam ikatan Sumpah Pemuda.
        Sumpah Pemuda adalah puisi (karya sastra) memiliki kekuatan bahasa dan makna tetap menjadi ‘sakti’ menyatukan Bangsa Indonesia sampai saat ini. Bisa dibayangkan, apabila Sumpah Pemuda ini diikrarkan tanpa mencantumkan “Kami putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”, tiada perekat persatuan bangsa ini. Bahasa melambangkan bangsa.
        Sejarah harus tetap dikenang dan peristiwa Sumpah Pemuda merupakan sejarah molek menyatrukan bangsa Indonesia. Saiman, M.Si, akademisi Fisipol Universitas Riau menjelaskan kepada Tim Tabloid Tanjak, bahwa sejarah bangsa ini harus tetap di kenang. Sejarah Sumpah Pemuda, kata Saiman, merupakan bentangan kenangan perjuangan para pemuda-pemudi Indonesia untuk menyatukan berbagai suku dengan bahasa menjadi kekuatannya.
        “Mari kita cintai sejarah agar menumbuh kembangkan pradigma kita tentang sejarah para pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa mereka demi bangsa ini. Dan menepatkan bahasa Indonesia sebagai insturumen yang mampu menyatukan bangsa ini melalui bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia,” ucap Saiman ditemui di kampusnya.
        Saiman juga menjelaskan bahwa keberadaan bahasa Indonesia menjadi kekuatan dalam menyatukan bangsa ini. Seandainya tidak ada bahasa Indonisea, kata Saiman, dipastikan bangsa ini akan terceraiberai, tidak bisa disatukan dan sulit untuk dipertemukan.
        “Konsensus yang berhasil dari pejuang-pejuang bangsa pada masa perjuangan, menjadikan bahasa Indonesia, bahasa pemersatu. Coba kita bayangankan, jika tidak ada bahasa persatuan bahasa Indonesia, maka akan hancur bangsa ini. Tidak ada komunikasi yang produktif menyatukan bangsa ini,” ujar Saiman.
        Saiman juga menilai bahwa sastra yang medianya adalah bahasa turut menyumbang kekuatan persatuan bagi bangsa ini. Karya sastra, kata Saiman, tingkatan seni yang melambangkan kebudayaan-kebudayaan. Sastra mampu melakukan artikulasi terhadap Negara Kesatuan Republic Indonesia. Karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan di berbagai daerah Indonesia ini, kata Saiman, memperlihatkan kebenikaan yang menyuarakan persatuan.
        “Sastra sebagai instrument yang juga ikut merekatkan Negara Kesatuan Repulik Indonesia. Sumbangan dunia sastra sangat terasa sebagai kekuatan mencintai bangsa ini,” jelas Saiman.
      Dari bahasa dan sastra melahirkan rasa nasionalisme. Banyak karya-karya sastra yang mendedahkan rasa cinta tanah air dengan ‘suara-suara’ berlawanan dengan pandangan umum. Namun demikian, hal ini adalah upaya para sastrawan membuka cara berpikir baru tentang nasionalisme.
        Menurut Saiman, masionalisme merupakan identitas kebangsaan. Berbicara bahasa Indonesia dan bendera merah putih merupakan bendera kebangsaan sebagai identitas, maka akan menjelaskan sebuah nasionalisme terhadap identitas bangsa. Harus punya semangat mempertahankan identitas bangsa.
        “Nasionalisme merupakan semangat kebangsaan yang harus kita miliki. Untuk membangkitkan nasioanalisme melalui sastra, maka kita bangkitkan atau dorongan penulis karya sastra dan budayawan untuk menumbuhkembangkan cinta akan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui karya-karya mereka. Karya sastra sebagai instrumen kebudayaan harus mendorong semangat nasionalisme. Hal ini sangat penting,” ucap Saiman.
        Ketika Tim Tabloid Tanjak bertanya kaitan politik dan Bulan Bahasa (Sumpah Pemuda), Saiman dengan lancar menjelaskan. Menurut Saiman, terkait dengan semangat eroisme, bagaimana Bung Tomo waktu itu melakukan perlawanan melawan penjajah semangat eroisme dan herowiksme Bung Tomo disebarkan melalui Jong Java, Jong Sumatrra dan lain-lain sebagainya.
        “Kita tidak tahu persisnya bulan berapa? Tapi kemudian ini kan hasil sebuah konsensus nasioanl. Konsensus itu adalah kesepakatan para paningpader, orang yang terlibat merumuskan Indonesia raya ini, kemudian sepakat bulan Oktober dijadikan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda. Ini merupakan kesepakatan dari para pejuang yang mengurus negara waktu itu. Dapatlah kesepatan bersama bahwa Bulan Bahasa kemudian Sumpah Pemuda itu jatuh pada bulan Oktober tepatnya tanggal 28 Oktober. Tapi kenapa bulan Oktober itu dipilih, lebih tepatnya kalian tanya kepada ahli sejarah. Saya pun kurang mengulas tentang hal ini,” ujar Saiman.
        Sementara itu, Drs. Rosman, M. Hum., dosen FIB Unilak menjelaskan bahwa bahasa Indonesia telah diatur dalam UUD 1945 pasal 36. Segala sesuatu yang sudah ditulis dalam UUD merupakan kewajiban seluruh warga negara untuk melaksanakan. Kata Rosman, pahlawan rela berkorban demi mempertahankan Negara Indonesia, peran generasi muda hari ini adalah mempertahankan kesatuan Bangsa Indonesia memalui bahasa. Melalui bahasalah kita dapat mempertahankan Bangsa Indonesia. Dalam dunia pendidikan, berkomunikasi harus menggunakan bahasa Indonesia, lalu kita terapkan di masyarakat agar bahasa itu dimiliki oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali dari suku apa pun itu.
        “Mulai dari tahun 1928 sampai dimasukan ke UUD 1945 sudah menjadi kewajiban dan tidak ada tawar menawar lagi. Jika Bahasa Indonesia diganti maka dipertanyakan mau dibawa kemana negara ini? Persoalan penggunaan bahasa ibu dalam rumah tangga ataupun keluarga tidaklah menjadi masalah, namun jika sudah memasuki ranah akademik dan instansi resmi apalagi pemerintahan maka wajib untuk menggunakan Bahasa Indonesia,” jelas Rosman.
    Dijelaskan Rosman, dilihat dari sudut pandang bahasa, bahasalah yang mengantarkan apa yang ada dalam pikiran dan hati seseorang kepada orang lain. Dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tidak ada lagi kesalah pahaman dalam apa yang kita ucapkan. Oleh karena itu berkomunikasi pun akan semakin lancar. Jika dikaitkan dengan sastra, jelas Rosman, karya sastra yang begitu imajinatif dapat disampaikan dengan baik kepada pembaca tidak lain dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Meski terdapat banyak konteks lokalitas dalam berbagai karya sastra tetap disampaikan dalam Bahasa Indonesia.
         “Dengan dicetusnya Sumpah Pemuda dengan beberapa promotor seperti Jong Java, Jong Sumatera dan lain-lainnya dari organisasi kepemudaan bersatu secara nasional. Hal ini menjadi patokkan awal bahwa di zaman dulu, sebelum Indonesia belum merdeka, pemuda pada saat itu mempersatukan Indonesia sumpah dan pada saat itu lah ditetapkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1945,” ujar Rosman.
    Sementara itu, Rosman juga menjelaskan sastra sebagai wahana kekuatan bangsa untuk memupuk nasionalisme. Dengan karya sastra dapat mengetahui betapa hebatnya sebuah bahasa menyatukan kekuatan bangsa ini dengan menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Cara meningkatkan nasionalisme terhadap sastra adalah dengan menganalisis karya tersebut sekaligus mengungkapkan pesan-pesan yang ada di dalam karya tersebut agar masyarakat mengetahui pesan yang disampaikan.
    Rosman juga menjelaskan konsep nasionalisme atau penyatuan Indonesia dalam karya sastra. Menurut Rosman, nasionalisme dalam karya sastra merupakan konsep yang universal. Sesuatu yang konsepnya universal adalah segala sesuatu yang berada dalam lingkungan di sekitar manusia yang mendiami suatu daerah.
        Griven H Putra seorang penggiat sastra di Riau mengungkapkan, Sebagai rakyat indonesia yang mencintai bangsa tanah kelahiran , tentu peting bagi kita mengetahui  bahwa bahasa dan sastra memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga kekuatan bangsa. manusia sangat tergantung existensinya ketika pandai berbahasa,  seorang anak dengan bahasa tangis merupakan bahasa isyarat, dengan isyarat tangisnya dia berbicara pada si ibu kalau dia lapar denagan tangisnya ia mengatakan ia haus.
        Bahasa dan sastra tidak bisa di pisahkan tanpa bahasa, Sastra tidak hanya berbicara soal keindahan. Karya sastra berperan penting dalam membentuk karakter bangsa. Kita ketahui bahwa, teks prokalmasi, sumpah pemuda, pancasila, itu di dalamnya bernuansakan sastra. Kata-kata yang tersusun menjadi kalimat, terangkai indah, tegas dan bermaknakan yang sangat luar biasa. “Bulan Oktober merupakan bulan bahasa, pantasnya kita memperingati hal tersebut, tanpa bahasa, tak kan ada bangsa ini,” ujar Griven penggiat sastra di Riau.
        “Sastra sebagai alat dan media dalam dunia pendidikan. Contohnya, bagaimana tatakrama orang Melayu, adat orang Melayu, itu bisa kita ketahui melalui karya sastra. Permasalahnya apakah karya sastra sudah meluas di kalangan dunia pendidikan dan seberapa dalam karya sastra dipelajari di tingkat SD, SMP dan SMA. Padahal karya sastra sendiri sangat berperan terhadap dunia pendidikan, sehingga kita bisa mengetahui kebiasaan yang dilakukan dalam masyarakat setempat. Untuk itulah pemerintah harus berperan terhadap perkembangan karya sastra,” jelas dosen Sastra Indonesia FIB Unilak ini.
        Tidak jauh berbeda dengan Saiman dan Rosman, Bambang Kariyawan, Sastrawan Riau menjelaskan bahwa hubungan bahasa dan sastra, bahasa adalah unsur penting dalam dunia sastra. Bahasa sebagai jembatan penghubungan sastrawan dalam menyampaikan gagasannya kepada kalangan masyarakat luas. “Ibarat sebuah pintu, bahasa adalah kunci yang akan membuka pintu jagat kesastraan untuk diterima masyarakat,” jelas Bambang Kariyawan.
        Selain hubungan bahasa dan sastra, Bambang juga menjelaskan mengenai pentingnya mengingat Bulan Bahasa. Bulan Bahasa menjadi momen bahwa bangsa ini pernah dan akan selalu punya pemersatu bangsa yang agung yaitu Bahasa Indonesia. Lewat momen Sumpah Pemuda ini, dapat mengukur kadar cinta, paham dan minat warga negeri ini akan bahasanya
        “Bahasa dan sastra memiliki kekuatan apabila kita bersedia mempelajarinya. Bahasa dan sastra memiliki kekuatan mengubah ketidakadilan. Ia juga pengawal akan kepribadian suatu bangsa. Nasionalisme adalah ideologi yang menjadi inspirasi menarik hadirnya karya-karya sastra yang membangkitkan. Nasionalisme lewat karya sastra, menggoreskan karya-karya dengan nafasnya Indonesia. Dukanya Indonesia. Senyumnya Indonesia. Apapun genrenya namun terangkai dalam nyanyian panjang tentang Indonesia,” jelas Bambang.
        Penyatuan Indonesia dalam karya sastra, kata Bambang, tampilnya rajutan-rajutan tentang pernik-pernik yang merangkai Indonesia. Segala diferensiasi sosial sebagai sumber ide tiada batas namun dirangkai dalam bingkai kebhinekaan. “Sastra dapat memupuk nasionalisme dalam diri manusia bila dibaca dan dipelajari secara khusuk sehingga teresapi makna-makna nasionalisme atas karya-karya berbau Indonesia,” ucap sastrawan Riau dan juga guru SMA Cendana Pekanbaru ini.

                                                                                                                             Tim tabloidtanjak.com

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas