Mengintai Siswa Membaca Karya Sastra
0 Komentar 1158 pembaca
Ilustrasi siswa membaca buku (f. int)

Mengintai Siswa Membaca Karya Sastra

Lapsus

TabloidTanjak.com, PEKANBARU - Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang kita dapatkan, walaupun terkadang informasi itu kita dapatkan secara tidak langsung.

Banyak orang mengatakan bahwa buku merupakan jendela dunia. Mengapa demikian? Karena buku itu sendiri dapat membuka wawasan yang sangat luas. Tidak hanya informasi yang ada dalam negeri, melainkan informasi tentang dunia, bahkan alam semesta.

Namun sangat disayangkan, pada zaman sekarang ini, jarang kita temukan pelajar yang gemar membaca mulai dari SD SMP dan SMA bahkan mahasiswa pun sangat sedikit yang gemar membaca. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bermain game, pergi ke warnet (warung internet), nongkrong atau sekedar jalan-jalan bersama teman keluar rumah. Namun demikian, masih ada sebagian dari mereka yang menanamkan sikap gemar membaca. Salah satu contohnya membaca buku novel. Itu tak menjadi masalah. Selagi mereka masih dapat memanfaatkan waktu luang dengan mengisi hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca atau belajar.

Namun pada kenyataannya, minat baca karya sastra kawula muda sekarang ini sangatlah rendah. Banyak faktor-faktor yang membuat remaja saat ini jarang memegang buku. Remaja saat ini lebih bersahabat dengan handphone pintar namun tidak dimanfaatkan sebaiknya. Padahal, banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari menggunakan benda canggih tersebut salah satunya membaca. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca remaja. Salah satunya adalah karena semakin berkembangnya teknologi.

Untuk mewujudkan bangsa berbudaya membaca ataupun menulis, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa.

Pada usia sekolah dasar, anak mulai dikenalkan dengan huruf, belajar mengeja kata dan kemudian belajar memaknai kata-kata tersebut dalam satu kesatuan kalimat yang memiliki arti. Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Setelah anak-anak mampu membaca, anak-anak perlu diberikan bahan bacaan yang menarik sehingga mampu menggugah minat anak untuk membaca buku. Minat baca anak perlu dipupuk dengan menyediakan buku-buku yang menarik dan representatif bagi perkembangan anak sehingga minat membaca tersebut akan membentuk kebiasaan membaca. Apabila kebiasaan membaca telah tertanam pada diri anak maka setelah dewasa anak tersebut akan merasa kehilangan apabila sehari saja tidak membaca. Dari kebiasaan individu ini kemudian akan berkembang menjadi budaya baca masyarakat.

Mengenai minat baca terhadap karya sastra dimata pelajar atau siswa. Belakangan ini minat baca terhadap karya sastra sangat minim peminatnya dikalangan remaja. Siswa baik itupun SMP dan SMA banyak yang tidak tahu akan karya sastra. Dimata pelajar saat ini “Membaca adalah sesuatu yang membosankan”. Benar, membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Mungkin ketika kita ditanya bagaimana cara untuk pintar, kata pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah banyak membaca.
Ketika ditemui oleh Tim Tabloid Tanjak di salah satu tempat tongkrongan anak SMA, 6 dari 22 siswa SMA gemar membaca tahu tentang karya sastra. Dari ke 6 orang tersebut adanya yang menyukai puisi, novel, dan juga cerpen. Mereka lebih menyukai karya sastra yang berbau kekinian atau tentang percintaan. Jika ditanyai tentang koleksi buku, 2 dari 6 siswa tersebut juga mengkoleksi buku-buku karya sastra seperti buku puisi dan novel.

Salah seorang siswa yang gemar menulis dan membaca karya sastra ia juga pandai membuat puisi dan mengkoleksi puisi, namun puisi-puisinya tersebut hanya dipublikasikan dimedia sosial. Kegemarannya membaca dan berpuisi, Ridho siswa yang menyukai puisi tersebut pernah mengikuti ajang perlombaan baca puisi tingkat Kecamatan. Sebagian kecil siswa yang menyukai sastra, menulis karya sastra merupakan sesuatu yang menyenangkan.

“Dimana lagi tempat kita untuk berekspresi dan mengindahkan hasil pikiran? Ya pastinya melalui tulisan,” ujar Ridho.
Menurut Ridho, menulis dan menciptakan karya sastra seperti puisi, cerpen maupun novel tidaklah mudah, perlu proses dan suasana hati yang baik atau mood untuk berkarya. “Menulis yang baik harus ditumbuhkan lewat kebiasaan membaca yang baik pula” tambah Ridho.

Dari kuisioner yang disebarkan kepada beberapa siswa SMA yang ada di Pekanbaru, seperti SMA N 13 dan SMA Budi Luhur Pekanbaru, kebanyakan siswa membaca karya disebabkan tugas guru Bahasa Indonesia. Selain itu ada juga siswa membaca karya sastra, dalam hal ini puisi, disebabkan mengikuti lomba.

Dari pertanyaan mengapa mereka tidak membaca karya sastra, kebanyakan mereka menjawab karya sastra sukar memahaminya. Walaupun demikian, dari 50 kuisioner yang disebar ada 10 siswa membaca karya sastra. Rata-rata mereka membaca cerita pendek yang bertemakan percintaan. Tentang pemahaman terhadap karya sastra merupakan hal yang menyebabkan siswa tidak membaca.

Sementara itu, penulis karya sastra yang mereka kenal rata-rata menulis nama Chairil Anwar. Ini artinya, Chairil Anwar menjadi sangat dikenal disebabkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, karya Chairil Anwar dicantumkan. Sedangkan nama-nama sastrawan Riau, tidak ada yang mereka kenal satu pun. Menurut siswa tidak tersedianya buku-buku yang ditulis oleh penulis Riau menjadi alasan utama.

Walaupun mereka tidak membaca karya sastra, ada harapan mereka agar karya-karya sastra yang diciptakan oleh penulis Riau dapat masuk sekolah dan mudah dicari di toko-toko buku.

Tentu saja kenyataan ini menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga dan juga penulsi karya sastra di Riau membuat terobosan baru dalam menyosialisasikan karya-karya mereka. Salah satu cara adalah dengan mengadakan perhelatan seperti sastrawan masuk sekolah. Dengan program ini, siswa dapat lebih mengenal karya sastra berserta penulisnya.

Tentu saja hal ini tidaklah mudah, harus ada kesepakatan dan juga kerja sama antara Pemerintah Daerah Riau dengan sastrawan Riau. Pemerintah Daerah Riau harus menfasilitasi dengan menerbitkan buku karya penulis Riau dan menyosialisasikan ke genetrasi muda dalam hal ini adalah siswa. (Tim TabloidTanjak)

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas