Umbut Muda
0 Komentar 1005 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Umbut Muda

Khazanah

Sungai Siak belum bernama Sungai Siak. Sungai Jantanlah namanya. Pada masa itu hiduplah seorang janda dengan anak perempuannya, bernama Umbut Muda. Umbut Muda dikaruniai kesempurnaan dengan kecantikan yang luar biasa. Tiada seorang pun perempuan di sepanjang Sungai Jantan itu, dapat menandingi kecantikan Umbut Muda. Namun berkah kecantikan yang diberikan oleh Sang Pencipta, membuat Umbut Muda menjadi sombong kepada siapapun juga, termasuk kepada ibunya.

Ayah Umbut Muda meninggal dunia ketika umur Umbut beranjak satu tahun. Semasa hidupnya, ayah Umbut Muda berkerja sebagai pedagang. Ketekunan ayahnya berdagang membuahkan hasil harta yang berkecukupan. Sampai akhirnya, ayah Umbut Muda meninggal dunia sewaktu berlayar. Harta yang ditinggalkan ayahnya, semakin hari semakin habis juga, selain untuk membayar hutang ayahnya kepada orang lain, harta itu jugalah yang digunakan ibunya untuk menghidupi Umbut Muda, sampai Umut Muda tumbuh sebagai perempuan dewasa.

Kecantikan Umbut Muda tidak luntur sampai dia dewasa. Perempuan sebaya dengan Umbut Muda selalu menjadikan dirinya sebagai panutan perihal kecantikan. Alis matanya meruncing seperti taji ayam. Bibirnya merah merekah seperti buah delima. Dagunya seperti sarang lebah bergayut. Rambutnya penjang selalu terurai. Pokoknya Umbut Muda sangat sempurna menjadi searang perempuan.

Agar Umbu Muda selalu kelihatan lebih cantik, ibu Umbu Muda pun memebelikan perhiasan untuk anaknya. Ibu Umbut Muda rela menyisakan uang peninggalan suaminya untuk kepentingan anaknya. Ibu Umbut Muda berpikir bahwa seorang anak perempuan agar bertambah cantik kelihatan harus dihiasi dengan perhiasan emas atau pun yang lainnya. Ibu Umbut Muda rela melakukan itu semua, dan dengan demikian, dia harus bekerja keras untuk kebutuhan sehari-hari. Dia pun bekerja mengambil upah menenun kain songket. Kemanapun orang mengajaknya bekerja, maka ibu Umbut Muda tidak akan pernah menolaknya.

Ibu Umbut Muda sangat menyayangi anak satu-satunya. Rasa sayang kepada Umbu Muda melebihi rasa sayang pada dirinya. Pernah, ketika ibu Umbut Muda terserang demam, dan air hujan lebat, ada pekerjaan menenun songket ditawarkan oleh seseorang. Dengan tidak memperdulikan demam yang dideritanya, ibu Umbut Muda pun pergi menenun songket tersebut. Hujan deras dilalui, panas badannya bukan halangan, bagi ibu Umbut Muda pekerjaan harus dilakukan untuk si buah hatinya, Umbut Muda. Begitulah  ibu Umbut Muda.

Tersebab disayangi berlebihan, Umbu Muda bertambah tinggi hati dan angkuh. Perhiasan yang dibelikan oleh ibunya, selalu dikenakan oleh Umbu Muda siang ataupun malam. Tidak perduli ada pesta ataupun tidak, perhiasan tetap dikenakan oleh Umbut Muda. Agar kecantikan terus terjaga, hari-hari Umbut Muda dihabisi di depan cermin. Setiap waktu, setiap detik, Umbut Muda pasti bercermin. Pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci dan menyapu rumah, tidak pernah dilakukan oleh Umbut Muda. Ibunya sesekali menasehati Umbut Muda, namun Umbut Muda tidak pernah mendengar nasehat itu, malahan ibunya yang dimarahi Umbut Muda.

“Semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab seorang ibu! Apa guna aku memiliki, ibu, kalau pekerjaan memasak, mencuci, menyapu aku juga yang mengerjakannya!” hardik Umbut Muda ketika ibunya meminta tolong menyapu lantai rumah.

“Seorang perempuan, Nak, haruslah mampu mengerjakan pekerjaan rumah, dan itu sudah menjadi keharusan perempuan,” jelas ibunya.

“Untuk apa ibu ada? Bukankan ibu perempuan juga, dan kewajiban ibu harus melakukan pekerjaan untuk anaknya!” Umbut Muda berkata dengan keras.

“Umbut Muda, ibu tidak memaksa kamu, tetapi kamu harus belajar dari sekarang, sehingga kalau kamu sudah berumah tangga, kamu tidak akan payah lagi mengerjakan pekerjaan rumah,” ibunya tetap menasehati Umbut Muda dengan suara lembut.

“Itu bukan urusan ibu! Pandailah aku mencari suami yang sepadan dengan aku. Tidak mungkinlah wajah aku yang cantik ini  aku sia-siakan mencari suami yang miskin. Paling tidak, aku harus mencari suami anak datuk-datuk pembesar kerajaan!” ucap Umbut Muda dengan sombongnya.

Mendengar perkataan Umbut Muda yang sombong dan angkuh itu, ibunya hanya mampu mengurut dada. Pada satu sisi, ibunya menyesali menyayangi Umbut Muda berlebihan, dan pada satu sisi lagi, tidak mungkin seorang ibu membiarkan anaknya tanpa kebahagiaan. 

Di balik kecantikan pisik Umbut Muda rupanya tidak menjamin hatinya baik pula. Kesombongan, keangkuhan melekat pada dirinya, sehingga Umbut Muda tidak disukai oleh perempuan sebaya dengannya. Untuk itulah, tidak heran Umbut Muda hanya selalu berada di rumah dibandingkan berada di luar rumah. Umbut Muda tidak memiliki teman, hanya ibunya sajalah sebagai teman sekaligus orang tuanya.

Pernah suatu hari beberapa perempuan sebaya datang ke rumah Umbut Muda. Kedatangan mereka ke rumah Umbut Muda hanya untuk bermain. Mereka kadang kala merasa ibi juga kepada Umbut Muda yang tidak memiliki kawan, disebabkan sikap Umbut Muda. Untuk menghibur hati Umbut Muda itulah mereka berkunjung ke rumah Umbut Muda. Namun harapan mereka mau berteman dengan Umbut Muda, terhempas dan kandas oleh sikap Umbut Muda yang kasar dan angkuh.

“Kalian datang ke rumahku, pasti ingin mencuri perhiasanku kan?” ujar Umbut Muda dengan angkuhnya kepada kawan-kawannya.

“Tidak. Kedatangan kami ke rumah Umbut Muda hanya ingin berkawan,” jawab salah seorang perempuan itu.

“Tidak usah kalian berbohong. Aku tahu selama ini kalian semua iri kepadaku. Selain memiliki wajah cantik, aku juga memiliki banyak perhiasan. Kalian mau mencuri kan?” suara Umbut Muda semakin sinis.

“Umbut Muda, untuk apa memiliki wajah cantik dan perhiasan yang banyak, kalau engkau tidak memiliki kawan. Kedatangan kami hanya untuk berkawan dengan kamu, dan tidak ada maksud lain,” tambah yang lain pula.

“Kami kasian melihat kamu sendirian di rumah, itu sebabnya kami mau berkawan dengak kamu, Umbut,” jelas perempuan lainnya lagi.

“Aku tidak butuh kawan! Apalagi kawan seperti kalian, anak-anak orang yang tidak berada. Seharusnya kalian sadar diri, bahwa kalian tidak sebanding berkawan dengan-ku!” ujar Umbut Muda dengan sombongnya.

Mendengar Umbut Muda semakin sombong, perempuan-perempuan sebaya dengan Umbut Muda pun merasa sakit hati dihina seperti itu. Kedatangan mereka dicurigai hendak mencuri, padahal niat mereka tulus mau mengajak Umbut Muda menjadi teman. Mereka kasian juga melihat Umbut Muda selama ini tidak memiliki kawan. Tapi apa mau dikata, keangkuhan dan kesombongan Umbut Muda menyebabkan mereka tersinggung.

“Umbut Muda, banyak kawan lebih berharga dibandingkan dengan banyak perhiasan!” ujar seorang perempuan itu dengan kesal.

“Itu bagi kalian yang tidak memiliki perhiasan!” balas Umbut Muda pula.

Tanpa permisi lagi, perempuan-perempuan yang ingin menjadi kawan Umbut Muda pun pergi meninggalkan Umbut Muda. Mereka terlihat sangat kesal.

“Pura-pura mau jadi kawan, padahal mau mencuri perhiasan aku,” ujar Umbut Muda di dalam hati dengan wajah sinis.

Selain memiliki perhiasan gelang, rantai dan cicin emas, Umbut Muda juga memiliki pakaian yang mewah. Umbut Muda tidak akan pernah menggunakan pakaian biasa, dia selalu mengenakan pakaian yang kainnya terbuat dari bahan yang mewah pula. Untunglah ibu Umbut Muda pandai menggunakan uang dari suaminya, sehingga untuk keperluan Umbut Muda selalu dapat dipenuhi. Walaupun demikian, semakin hari, permintaan Umbut Muda semakin besar, sementara itu uang dari almarhum suaminya sudah habis.

Untuk memenuhi permintaan Umbut Muda, ibunya harus membanting tulang lebih lagi, bekerja tanpa memikirkan waktu. Ibu Umbut Muda tidak memperlihatkan kesusahannya kepada anaknya. Dia hanya memendam sendiri penderitaan itu, dia tidak mau melihat anaknya juga ikut susah. Tapi kelakuan Umbut Muda semakin menjadi. Sedikit pun Umbut Muda tidak pernah memikirkan penderitaan ibunya.

“Ibu ini hanya ikut-ikut senang saja menghabisi harta pusaka dari ayah. Ibu harus bekerja keras, kebutuhan aku semakin besar. Dasar ibu pemalas!” bentak Umbut Muda.

Ibunya ingin meneteskan air mata, namun dia tidak mau memperlihatkan kesedihan kepada anaknya.

“Kenapa ibu tidak bekerja hari ini?” tanya Umbut Muda dengan suara keras.

“Ibu sakit, Nak. Sakit kali ini membuat badan ibu menjadi lemas. Ibu tak terdaya pergi menunun, Nak,” ucap ibu Umbut Muda dengan suara gemetar.

“Alasan ibu saja mau bersenang-senang di rumah! Malam ini ibu tidak boleh tidur di dalam rumah, ibu harus tidur di serambi depan! Ini hukuman bagi orang pemalas!” suara Umbut Muda meninggi dan kasar.

“Ibu benar-benar sakit, Nak. Jangan siksa ibu tidur di luar, Nak. Ibu benar-benar tidak kuat bekerja hari ini,” ibu Umbut Muda mengiba.

Umbut Muda tidak perduli. Degan kasar, Umbut Muda menarik tubuh ibunya, dan meletakkan di luar rumah. Setelah ibunya berada di luar, Umbut Muda pun menutup pintu rumah, ditinggalnya ibunya sendiri.

Ibu Umbut Muda tidak mampu membendung air matanya. Dia menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu apa dosa yang telah diperbuat, sehingga anaknya, Umbut Muda membuat dia seperti ini. “Apakah kesalahan besar, apabila terlalu memanjakan anak?” ibu Umbut Muda membatin.

Ibu Umbut muda berusaha membujuk anaknya agar membuka pintu, namunUmbut Muda pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan ibunya di luar.

“Di luar dingin dan banyak nyamuk, Nak. Ibu kedinginan,” suara Ibu Umbut Muda semakin lirih.

Umbut Muda tidak peduli. Dia tetap berada di kamarnya sambil bersolek. Sesekali Umbut Muda berdiri dan berjalan seperti seorang foto model di depan cermin. Dan bekali-kali pula Umbut Muda mendekatkan mukanya di depan cermin, melihat apakah ada yang kurang di wajahnya. Sementara ibunya memanggil-manggil Umbut Muda di serambi depan rumah.

“Rasakan hukuman aku, ibu. Tadi aku suruh mengambilkan sisirku jatuh, ibu banyak alasan. Badan sakitlah, sedang memintal benaglah, benang kusutlah,” ujar Umbut Muda di depan cermin sambil tersenyum.

Ibunya terus memanggil Umbut Muda dari laur, makin lama, semakin pelan suara ibu Umbut muda. Dan pada akhirnya menghilang.

“Tertidur juga orang tua tidak sadarkan diri itu,” bisik Umbut Muda mengatai ibunya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Pagi harinya. Beberapa orang datang ke rumah Umbut Muda. Mereka terkejut melihat Ibu Umbut Muda berbaring di serambi rumah.

“Ibu Umbut..., Ibu Umbut..., Ibu Umbut,” teriak salah seorang dari mereka.

Di sepanjang perjalanan, Umbut Muda berada di depan, sementara ibunya berada di belakang, sambil memayungi Umbut Muda. Dengan gaya bak seorang anak bangsawan besar, Umbut Muda melangkahkan kakinya penuh dengan gaya. Orang-orang melihat Umbut Muda terpana, mereka seakan seperti melihat seorang putri raja. Semakin banyak orang yang kagum melihat dirinya, semakin besarlah hati Umbut Muda. Dengan senyuman dibuat-buatnya, Umbut Muda melirik setiap orang yang memandang dirinya.

Sampai di jembatan penyeberangan, ketika meniti papan jambatan, tiba-tiba kaki Umbut Muda tersangkut. Untung tangan Umbut Muda cepat bergerak merangkul tiang, sehingga tubuhnya tidak jatuh ke sungai. Namun ketika Umbut melihat tangan kananya, dua gelang emas yang melingkar di pergelangannya tadi, sudah tidak ada. Umbut Muda yakin, bahwa gelangnya jatuh ke sungai. Dia pun teringat dengan ibunya di belakang.

“Ibu, gelangku jatuh ke sungai. Cepat terjun, ambil gelangku itu!” perintah Umbut Muda dengan suara keras.

“Arus air sungai deras, Nak, ibu takut beranang,” Ibu Umbut Muda meminta anaknya mengasihani dirinya.

Namun Umbut Muda sedikitpun tidak menaruh kesian kepada ibunya. Umbut Muda menatap tajam-tajam ke arah ibunya, memerintahkan ibunya untuk turun ke sungai. Ibunya menggelengkan kepala, penuh dengan ketakutan.

“Ibu tak berani, Nak,” suara ibu Umbut Muda gemetar.

Umbut Muda tidak peduli, dan dia pun mendorong ibunya ke sungai.

“Cepat menyelam bu, cari gelang emasku!” perintah Umbut Muda dari atas jembatan.

Ibunya memeluk tiang jambatan. Kelihatan sekali ibunya ketajutan, dan kuat-kuat memegang tiang jambatan itu. Arus sungai mengalir dengan kencangnya. Lengah sedikit saja ibu Umbut Muda memegang tiang jembatan, maka tubuhnya akan di bawa arus.

Melihat ibunya tidak menyelam, dan hanya berpaut pada tiang jembatan, Umbut Muda kesal. Umbut Muda mencari kayu bercabang, setelah dapat jayu bercabang Umbut Muda menekan tubuh ibunya dari atas menggunakan kayu bercabang tersebut. Tubuh ibu Umbut Muda terdorong ke dalam air, namaun tangannya masih berpaut pada tiang jembatan. Beberapa saat kemudian, tubuh ibu Umbut Muda, timbul kembali.

“Cari gelang aku sampai dapat, Bu,” teriak Umbut Muda sambil menekan kayu ke tubuh ibunya.

Tubuh ibunya tenggelam lagi, dan kemudian timbul lagi. Begitulah beberapa kali Umbut Muda menekan tubuh ibunya dengan menggunakan kayu bercabang untuk menyuruh ibunya mencari gelang emasnya di dasar sungai.

Ketika Umbut Muda hendak menekan kembali tubuh ibunya dengan kayu bercabang itu, tiba-tiba angin puting beliung pun datang, dan langsung saja mendorong Umbut Muda. Umbut Muda terpelanting, dan jatuh ke sungai. Umbut Muda pun berteriak-teriak minta tolong kepada ibunya.

“Ibu, tolong Umbut, Bu.”

Namun ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, karena arus sungai sangat deras. Ibu Umbut Muda hanya melihat anaknya dengan air mata.

“Ibu, tolong Umbut, Bu,” suara Umbut Muda semakin jauh kedengarannya.

“Ibu, Tolong Umbut, Bu,” lama kelamaan suara Umbut Muda pun menghilang di dalam Sungai Jantan.

Ibu Umbut Muda menangis sejadi-jadinya, sambil berpaut pada tiang jembatan. Dia menyesali telah menidik Umbut Muda dengan kemanjaan berlebihan. Sekarang Ibu Umbut  Muda tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan dia ikhlas kehilangan anak satu-satunya.

“Mungkin inilah yang terbaik untukmu, Umbut Muda,” ujar Ibu Umbut Muda dengan air mata bercucuran.   

 

Dituliskan kembali oleh Hang Kafrawi

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas