Asal Usul Beting Beras Kuala Merbau
3 Komentar 2467 pembaca
Ilustrasi lukisan (g. net)

Asal Usul Beting Beras Kuala Merbau

Khazanah

Seorang lelaki menggunakan pakaian pendekar berwarna hitam dan ikat kepala juga berwarna hitam, menatap jauh ke tengah laut Selat Melaka. Matanya, seperti mata elang yang sedang mengawasi mangsa, terus memandang gelombang besar yang saling berkejaran. Mata pendekar itu sepertinya tidak berkedip. Tatapannya tidak kosong, ada kegelisahan yang membelasah pikiran dan perasaannya. Gelombang saling menghempas menciptakan buih-buih dan kemudian meninggi dibawa gelombang lainnya. Keadaan Selat Melaka yang bergelora dengan gelombangnya, seakan mencerminkan kegelisahan pendekar itu.

Di tengah laut tidak terlihat satu pun sampan nelayan. Pada Musim Utara, angin lebih kencang berhembus dibandingkan musim-musim lainnya. Pada musim angin Utara ini, menjadi musim yang menakutkan bagi nelayan yang berada di kawasan Selat Melaka. Tidak ada nelayan yang berani menangkap ikan di tengah laut, paling-paling para nelayan hanya berani mengadukan nasibnya di pinggir-pinggir laut.

Sudah hampir satu jam pendekar itu menatap ke tengah Selat Melaka. Belum ada tanda-tanda ia mau beranjak dari tempatnya. Ia benar-benar ingin melepaskan segala resah dan gundah yangt bersarang di dada dan kepala. Sebagai orang yang hidup di pulau dengan dikelilingi laut, menatap laut luas menjadi salah satu cara membuang kegelisahan. Gelombang, buih, desiran angin dan burung-burung yang biasa bermian di laut, menjadi pengobat pelipur lara.

“Kenapa Panglima Ali selalu mengalalahkan hamba di segala bidang? Setelah mendapat tempat di hati Sultan, kini Panglima Ali sudah pula bertahtah di hati Siti Jamilah. Apakah benar, Panglima Ali lebih handal dibandingkan dengan hamba?” terdengar suara berat melompat dari mulut pendekar itu. Suara berat penuh kegeraman. “Hamba harus membuat perhitungan kepada Panglima Ali!” ujar panglima itu lagi.

Kini dada pendekar dengan menggunakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam itu, turun naik dengan kencangnya. Ia sepertinya tidak mampu lagi menahan kegelisahan di dalam dadanya. Ia pun menarik nafas panjang-panjang.

“Hamba lebih heeeeebaaaaattt...!!!,” panglima itu menjerit, melepaskan suaranya ke arah laut lepas Selat Melaka.

Setelah berteriak, pendekar itu sedikit dapat menenangkan dirinya. Ia rentangkan tangan kiri dan kanan, lalu mukanya dihadapkan ke langit, kemudian ia pun menarik nafas panjang-panjang. Ia ingin bebas dari perasaan gundah, namun wajah Panglima Ali masih saja bermain di benaknya.

“Aku harus benar-benar mengalahkan Panglima Ali dengan apapun caranya,” ujar pendekar itu masih merentangkan kedua belah tangannya dan muka menghadap ke langit. Matanya terpejam.

Beberapa saat kemudian, panglima mengenakan pakaian dan ikat kepala hitam itu, kembali menatap ke arah laut. Dua ekor elang menukik secara bersamaan, menerkam ikan di permukaan laut Selat Melaka itu. Panglima itu sedikit tersenyum. Ia menemukan sesuatu gagasan yang sesaat dapat menangkan dirinya.

“Menarik rambut di dalam tepung, tepung tidak berserak, rambut tidak putus. Hamba harus jadi pemenang,” ujar pendekar itu pelan tapi penuh makna.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, panglima berpakaian dan mengenakan ikat kepala berwarna itu tersenyum kembali. Kali ini senyumannya semakin merekah. Ia benar-benar-benar telah menemukan cara untuk tampil sebagai pemenang.

“Bagi seorang pendekar, kemenangan adalah hidupnya. Untuk menwujudkan kemenangan, seorang pendekar harus memiliki akal yang lebih,” kali ini, ucapan pendekar itu diikuti tawa kecil.

Merasa telah menemukan apa yang harus diperbuat, pendekar itu pun membalikkan tubuhnya membelakangi Selat Melaka. Kemudian kaki kanannya melangkah dan dikuti kaki  kiri. Begitulah seterusnya sehingga pendekar itu tidak tampak lagi di pinggir Selat Melaka. Angin berhembus kencang menciptakan gelombang silih berganti. Gemuruh air laut Selat Melaka berkelanjutan tanpa merasa penat.

***

Di istana Merbau, dua hari kemudian, pembesar-pembesar kerajaan sudah berkumpul di balairung, tempat pertemuan sultan dan pembesarnya. Sebelum Sultan Merbau masuk ke balairung, mereka membuat kelompok-kelompok kecil, sambil membicarakan dan mereka-reka, hal apa yang menyebabkan mereka dipanggil untuk menghadap. Padahal dua hari yang lalu, sultan baru saja mengumpulkan mereka. Biasanya, sultan menjemput mereka lagi untuk pertemuan seminggu setelah pertemuan dilangsungkan. Tentulah ada hal mustahak sehingga mereka dikumpulkan kembali.

“Hamba mendapat kabar, di salah satu daerah kawasan kita, perampok semakin menjadi-jadi. Bahkan perampok sudah berani naik ke darat dan merampok di rumah-rumah warga,” ucap salah seorang pembesar kerajaan.

“Hamba juga mendengar kabar itu, tapi kenapa para perampok berani naik ke darat? Bukankah sudah ada perjanjian kerajaan kita yang dipimpin Panglima Ali dan Panglima Abas dengan para perampok, bahwa perampok tidak boleh merampok di kawasan kerajaan Merbau?” ucap salah seorang pembesar kerajaan lain pula dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Mungkin saja perampok menganggap kita tidak memantau kawasan itu, sehingga apa yang mereka lakukan tidak ketahuan oleh kita,” pembesaran lain pula berandai-andai.

“Tidak mungkin. Perampok mana yang tidak mengenal Panglima Ali dan Panglima Abas dari kerajaan kita ini. Setiap kawasan di bawah pengawalan Panglima Ali dan Panglima Abas mendapat perhatian, dan para perampok tahu hal itu,” jelas pembesar kerajaan pertama.

“Atau para perampok kehabisan perbekalan, disebabkan musim Angin Utara yang semakin menjadi-jadi, sehingga mereka merampok di kawasan kita untuk mencukupi berbekalan mereka,” ucap pembesar kerajaan yang lain.

“Entahlah, mungkin saja...”

“Sultan Merbau memasuki balairung!” ucap pengawal istana.

Mendengar ucapan pengawal istana, para pembesar kerajaan bergegas mengmabil tempat mereka masing-masing. Tempat pertemuan itu seperti tapal kuda. Singgasana sultan berada di tengah, sementara kiri dan kanan tempat para pembesar kerajaan.

Dengan seksama dan wibawa, Sultan Merbau pun berjalan melewati para pembesar kerajaan menuju singgasana. Para pembesar kerajaan mengatur sembah dengan kedua telapak tangan mereka bertemu dan meletakan kedua tangan tersebut di dahi mereka sambil menunduk kepala. Suasana tenang, cuma terdengar langkah Sultan Merbau.

Sesampai di singgasana kerajaan, Sultan Merbau pun duduk sambil memandang para pembesar kerajaan yang berada kiri dan kanan. Sesaat kemudian, Sultan Merbau mempersilakan para petnggi kerajaan duduk. Dengan serentak, pembesar kerajaan Merbau duduk bersila di tempat mereka masing-masing.

“Beta berterima kasih kepada pembesar kerajaan yang telah hadir di balairung ini. Tiada yang dapat beta banggakan, selain kesetiaan para pembesar kerajaan yang tanpa pernah jemu mengabdikan diri kepada beta. Sebagai seorang sultan, beta menyadari bahwa kebesaran kerajaan ini disebabkan kesetiaan dan pengabdian dari saudara-saudara sekalian. Tentu saudara-saudara sekalian merasa heran kenapa hari ini beta memanggil suadara-saudara sekalian? Tiada masalah lain, selain permasalahan di kerajaan kita ini. Rupanya, perampok-perampok tidak juga jera, mereka membuat kekacauan di kawasan kerajaan Merbau. Kabar ini beta dapatkan dari utusan Penghulu Senggoro. Empat hari yang lalu, para perampok masuk ke kampung Senggoro. Mereka mengambil harta dan benda milik rakyat. Tentu saja, kesedihan rakyat adalah kesedihan kita semua. Sebagai sultan di kerajaan ini, beta tidak ingin kesedihan dan penderitaan rakyat berlarut-larut. Harus diselesaikan secepatnya. Untuk itulah beta mengumpulkan semua pembesar kerajaan untuk bermusyawarah, mengambil kata sepakat. Walaupun beta memiliki kekuasaan untuk memerintah, namun beta selalu menjunjung ajaran orang lama, bulat air karena buluh, bulat kata karena mufakat,” ujar Sultan Merbau dengan suara penuh wibawa.

Sultan Merbau kembali memandang pembesar kerajaan yang berada di sisi kiri dan kanan. Wajah pembesar kerajaan berubah. Mereka ikut merasakan kesedihan yang menimpa rakyat kampung Senggoro. Namun mereka belum berani menyampaikan pendapat, sebab sultan belum meminta pendapat mereka.

Sultan Merbau menarik nafas panjang. Suatu keputusan yang hendak dibuat, bukanlah perkara mudah. Perlu pertimbangan yang penuh perhitungan. Sebenarnya bukan masalah yang berat untuk menumpas para perampok di Senggoro, namun di musim angin utara ini, para perampok dari berbagai daerah yang sedang mengarungi Selat Melaka, merapatkan perahu mereka di pulau-pulau kawasan kerajaan ini. Bukan mustahil pula, ada segerombolan perampok singgah di Pulau Merbau dimana pusat kerajaan ini berada.

Dalam pikiran Sultan Merbau, harapan besar berada di pundak Panglima Ali dan Panglima Abas. Kedua panglima Merbau ini sangat berpengalaman menumpas perompak-perompak. Tidak mungkin pula, kedua panglima ini diutuskan menumpas perompak di Senggoro. Siapa pula yang menjaga pusat kerajaan ini, apabila kedua pendekar ini pergi? Tapi, siapakah dari kedua pendekar ini diutus?

Hal inilah yang merisaukan Sultan Merbau. Kedua panglima handalan kerajaan Merbau ini, memiliki lebih dan kurang. Panglima Ali yang memiliki kesabaran lebih tinggi, mampu meredam kebengisan perampok dengan diplomasi, sehingga perampok bertekuklutut. Apabila tidak mempan dengan diplomasi, Panglima Ali tidak segan-segan menundukkan perampok dengan kekerasan. Sementara itu, Panglima Abas yang memiliki emosi yang kadang kala tidak terkontrol, sehingga memunculkan pertumbahan darah. Sultan Merbau tidak ingin hal ini terjadi.

Pilihan Sultan Merbau untuk menyelesaikan permasalahan ini jatuh pada Panglima Ali. Namun sultan tidak ingin mengambil keputusan tanpa mufakat, sebab sultan tahu bahwa Panglima Ali baru bertunangan dengan Siti Jamilah, dan tiga bulan lagi akan melangsungkan pernikahan. Sultan Merbau tak ingin dikatakan pemutus kebahagiaan panglimanya. Tapi apabila yang hadir di balairung ini sepakat menunjuk Panglima Ali, sultan akan senang hati menitahkan Panglima Ali.

“Beta menyerahkan keputusan kepada yang hadir di sini. Kita tidak mungkin mengutus kedua panglima kita untuk menumpas perampok di Senggoro. Hal ini disebabkan, tidak mustahil perampok-perampok berada juga di seketar Pulau Merbau ini. Kalau Panglima Ali dan Panglima Abas kita utuskan, maka tidak ada panglima yang berpengalaman dan perkasa menjaga pulau ini. Beta minta saran dari pembesar-pembesar kerajaan semuannya,” ujar Sultan Merbau sambil memandang pembesar kerajaan.

Keinginan Sultan Merbau ini menjadi kesempatan bagi Panglima Abas. Tidak mau melepas kesempatan ini, Panglima Abas dengan penuh hormat mengangkat kedua tangannya memberi sembah.

“Ampun Tuanku, sembah patik harap diampun,” ucap Panglima Abas.

“Panglima Abas, dipersilakan,” Sultan Merbau memberi tanda kepada Panglima Abas untuk melanjutkan ucapannya.

“Bukan patik hendak mengelak dari titah sultan untuk berbakti pada kerajaan ini, namun patik merasakan Panglima Alilah yang pantas menjalankan perintah ini. Sebab Panglima Alilah yang telah menundukkan perampok di Senggoro beberapa waktu lalu. Dengan kesabaran Panglima Ali juga, perampok di Senggoro tunduk dengan perjanjian yang telah dibuat antara Panglima Ali dan perampok itu. Sekali lagi, bukan patik hendak mengelak titah ini, Tuanku,” ucap Panglima Abas dengan penuh rasa hormat.

Sultan Merbau tidak langsung menerima pendapat Panglima Abas. Terlebih dahulu sultan memandang para pembesar kerajaan. Para pembesar kerajaan mengangguk-anggukan kepala, petanda apa yang dikatakan Panglima Abas ada benarnya.

“Nampaknya, pembesar kerajaan setuju dengan apa yang dikatakan Panglima Abas. Ada yang lain memberikan usulan?” tanya Sultan Merbau.

Pembesar kerajaan diam saja. Mereka menyadari bahwa terkait permasalahan keamanan dan pertempuran, Panglima Abas dan Panglima Alilah pakarnya. Sebab itulah, apa yang diusulkan kedua panglima ini, selalu diterima. Ditambah lagi, Panglima Abas dan Panglima Ali dikenal sebagai kawan akrab, sejak dari kecil sampai menyandang pangkat panglima. Mereka berdua seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

“Baik. Beta juga berpikiran sama dengan Panglima Abas, namun demikian, beta ingin mendengar langsung dari Panglima Ali,” ucap Sultan Merbau sambil memerintahkan Panglima Ali untuk bicara.

“Ampun Tuanku, sembah patik harap diampun. Bagi patik, titah Tuanku berada di atas segala-galanya. Patik bersedia menjalankan titah Tuanku,” ucap Panglima Ali sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala memberi hormat.

“Beta sungguh-sungguh bahagia. Kesetiaan dan pengabdian semuanya merupakan tapak kebesaran kerajaan Merbau ini. Beta sungguh tersanjung. Besok, Panglima Ali dipersilakan menjalankan tugas yang diembankan ini dengan membawa serta beberapa pengawal kerajaan. Mudah-mudahan apa yang kita kerjakan untuk rakyat mendapat berkah,” ucap Sultan Merbau.

Setelah memutuskan Panglima Ali mengemban tugas menumpas perampok di Senggoro, Sultan Merbau pun beranjak dari singgasananya. Pembesar kerajaan semuanya berdiri dan Sultan Merbau melangkahkan kaki meninggalkan balairung diikuti pembesar kerajaan.

Terlihat wajah Panglima Abas bahagia. Dengan kepergian Panglima Ali menumpas perampok di Senggoro, semakin mempermudah Panglima Abas menjalankan niat busuknya.

***

Cahaya bulan purnama menembus celah-celah dedaunan. Angin tidak terlalu kuat berhembus pada malam hari. Mungkin saja, angin menyimpan kekuatan untuk berhembus kuat di siang hari di musim angin utara seperti sekarang ini. Namun demikian, angin malam selalu membawa kesejukan bagi tubuh manusia.

Sepasang kekasih, Panglima Ali dan Siti Jamilah, sedang duduk di beranda rumah orang tua Siti Jamilah. Siti Jamilah dengan seksama memperhatikan bulan purnama. Ia merasakan kehilangan keindahan dari siraman purnama. Padahal selama ini purnama bagi Siti Jamilah adalah hamparan waktu untuk bercocoktanam harapan dengan menikmati cahayanya.    

“Entah kenapa cahaya purnama malam ini terasa suram di hati adinda? Mungkinkah purnama ingin mengabarkan sesuatu kesedihan kepada adinda? Tapi adinda tidak mampu membacanya, Kakanda,” ucap Siti Jamilah lirih.

“Perasaan khawatir jangan dipelihara, ianya akan memadamkan pikiran cemerlang manusia. Kakanda tahu, ini berat bagi Adinda, namun sudah menjadi kewajiban seorang panglima untuk membela kebesaran kerajaan. Jangan dipeturut pikiran menduga-duga, nanti si gadis jelita menjadi tua. Kalau sudah tua, tentu banyak yang tidak suka,” ucap Panlima Ali sambil bergurau.

Mendengar perkataan kekasihnya itu, Siti Jamilah mencubit mesra perut Panglima Ali. Kemudian mereka saling bertatapan dengan senyum yang mereka.

“Itulah laki-laki, selalu suka daun muda, kalau yang muda sudah tua, dipandang pun tiada,” balas Siti Jamilah sambil membuang muka dengan manja.

“Jangan suka cemberut muka, disitu gelap menjadi-jadi, kalau si gadis tidak bahagia, nanti kekasih ke lain hati,” Panglima Ali bergurau dengan pantunnya.

Siti Jamilah pun tidak mau ketinggalan, dia pun menyiapkan pantun.

“Kalau padi katakan padi, jangan dikata tumbuhan lalang, kalau kekasih ke lain hati, akan mati sendiri adik seorang,” balas Siti Jamilah dengan penuh makna.

“Kenapa Adinda berkata demikian?” Panglima Ali merasakan sesuatu yang lain dari Siti Jamilah.

“Firasat buruk selalu menghantui adinda akhir-akhir ini, Kanda. Seakan-akan kepergian Kakanda ke Senggoro memperjelas firasat itu,” ucap Siti Jamilah dengan menitikkan air mata.

“Adinda, kenapa Adinda terbawa perasaan? Bukankah sudah terbiasa kakanda bertempur menumpas para perampok yang membuat kekacauan di kerajaan kita? Air mata Adinda terlalu berharga ditumpahkan untuk hal yang menduga-duga,” ujar Panglima Ali membujuk kekasihnya, Siti Jamilah.

“Laki-laki tidak akan pernah mampu membaca perasaan perempuan, namun perempuan sangat mudah membaca perasaan laki-laki, sebab laki-laki dilahirkan dari perempuan. Adinda benar-benar merasakan hal buruk akan terjadi dengan kepergian Kakanda kali ini. Batalkan saja kepergian Kakanda kali ini. Mintalah sultan membatalkan kepergian Kakanda,” Siti Jamilah menatap mata Panglima Ali dengan penuh harap.

“Adinda, kakanda seorang panglima kerajaan. Sudah menjadi kewajiban seorang panglima menjalankan titah sultan sebagai penga...”

“Tapi titah kali ini akan berbuah derita untuk kita, Kakanda,” Siti Jamilah memotong kalimat Panglima Ali sambil memeluk tubuh kekasihnya.

“Perasaan kalau diperturut akan mengalahkan segala-galanya, Adinda. Dengan kekuatan yang kakanda miliki, kakanda berjanji akan kembali menunaikan janji, memperistri Adinda. Keyakinan Adinda menjadi kekuatan bagi kakanda,” ujar Panglima Ali sambil memeluk erat-erat Siti Jamilah.

Sepasang kekasih itu pun larut dalam perasaan masing-masing. Daun-daun bergoyang perlahan ditiup angin. Cahaya purnama seperti menari di atas tanah setelah melewati daun-daun yang bergoyang. Sunyi semakin terasa.

***

Sudah hampir dua bulan kepergian Panglima Ali menumpas perampok di Senggoro. Belum ada kabar yang menggembirakan didapat, sebaliknya tersebar kabar bahwa perampok di kawasan Senggoro menjadi-jadi. Belum diketahui nasib Panglima Ali dan pengawal kerajaan.

Tentu saja keadaan ini membuat perasaan Siti Jamilah semakin cemas. Setiap hari, setiap saat, Siti Jamilah menunggu kedatangan Panglima Ali di pantai Merbau. Menunggu dengan perasaan was-was menjadikan Siti Jamilah semakin merindu kekasihnya. Pergantian waktu semakin berat dirasakan Siti Jamilah. Hari-hari seperti beribu jarum menusuk hati Jamilah. Air mata sudah tidak terkira meluncur dari mata sang kekasih yang lagi menunggu ini.

“Untuk apa menunggu sesuatu yang tidak pasti, Siti Jamilah,” suara Panglima Abas mengejutkan Siti Jamilah yang sedang menunggu Panglima Ali di pantai.

“Kenapa Tuan Hamba terlalu lancang berkata demikian?” jawab Siti Jamilah dengan ketus.

“Perampok di Senggoro merupakan perampok yang paling ganas di wilayah ini. Mereka tidak akan memberi ampun kepada panglima kerajaan yang hendak menumpas mereka. Tewaslah jawabannya ketika mereka menangkap para panglima kerajaan,” kata Panglima Abas memandang jauh ke tengah Selat Melaka.

“Tuan Hamba adalah manusia yang tidak memiliki perasaan. Bukankah Panglima Ali sahabat karib Tuan Hamba? Kenapa Tuan Hamba mendoakan sahabat Tuan Hamba yang bukan-bukan!” suara Siti Jamilah meninggi.

“Sahabat hamba? Ya, Panglima Ali sahabat hamba sejak dari kecil, namun sahabat hamba itulah yang selalu mengalahkan hamba dalam  berbagai hal! Dari mengambil hati sultan, sampai merebut hati seorang gadis, hamba kalah!” suara Panglima Abas terdengar penuh dendam.

“Apa maksud Tuan Hamba?” Siti Jamilah mulai ketakutan.

Panglima Abas mengalihkan pandangannya dari laut Selat Melaka ke Siti Jamilah. Dari mata Panglima Abas terpancar sakit hati yang mendalam.

“Siti Jamilah, jangan kau perangkap perasaan hamba dengan kepura-puraanmu. Kau telah patahkan mimpi hamba dengan memilih sahabat karib hamba sebagai kekasih. Kini hati hamba semakin dalam lukanya dan darahnya kini membanjiri hari-hari hamba. Hamba seperti pengembara yang tidak memiliki tujuan, Siti Jamilah. Sudahlah Jamilah, lupakan Panglima Ali yang tidak tahu kabarnya. Entahkah tewas atau... ia pasti tewas di tangan para perampok itu, Siti Jamilah! Tapi jangan takut, Siti Jamilah, walaupun hati hamba sudah terluka, hamba yakin luka ini akan terobati dengan kehadiran dirimu, Siti Jamilah,” Panglima Abas seperti orang kemasukan dan mendekati Siti Jamilah.

Siti Jamilah cepat-cepat menghindar. Siti Jamilah tahu betul tabiat Panglima Abas, memaksa kehendak. Apabila kehendaknya tidak terpenuhi, Panglima Abas sanggup melakukan hal yang tidak-tidak. Namun semakin menghindar dari Panglima Abas, semakin dekat pula Panglima Abas menghampiri diri Siti Jamilah.

“Panglima Abas, sesuatu yang dipaksa, selalu membuahkan yang buruk. Perasaan untuk mencintai seseorang tidak akan pernah dapat dipaksa. Hati adalah raja di dalam tubuh, dan ianya tidak dapat dipaksa. Biarkanlah hamba pergi,” Siti Jamilah mengiba, namun Panglima Abas sudah dikuasai sakit hati yang mendalam.

“Alang-alang seluk pekasam, biar sampai kepangkal lengan. Pantang bagi hamba surut ke belakang, sesuatu yang hamba inginkan harus terwujud, walau hamba dicap sebagai penjahat,” kedua tangan Panglima Abas memegang erat bahu Siti Jamilah.

Siti Jamilah meronta. Tidak menyangka Siti Jamilah meronta kuat, kedua tangan Panglima Abas terlepas dari bahu Siti Jamilah. Hal inilah yang membuat Panglima Abas semakin menjadi amarahnya. Panglima Abas tidak mampu menguasai diri. Tiba-tiba wajah Panglima Ali menjelma dari sosok Siti Jamilah. Panglima Abas kalang kabut dan mencabut keris dari sarungnya. Seperti berhadapan dengan Panglima Ali, Panglima Abas pun menghujamkan kerisnya ke perut Siti Jamilah. Tubuh Siti Jamilah pun rubuh seketika.

Panglima Abas panik. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa kerisnya bukan menikam perut Panglima Ali, melainkan perut Siti Jamilah, gadis yang selalu bermain di perasaannya. Panglima Abas memandang keris di tangannya, kemudian memandang tubuh Siti Jamilah yang tidak bergerak lagi. Namun seketika, Panglima Abas berdiri tegap.

“Sebagai seorang panglima, hamba tidak akan menyerah begitu saja. Hamba harus libatkan semua orang, termasuk sultan yang memilih Panglima Ali sebagai panglima di kerajaan ini!” ucap Panglima Abas sambil meninggalkan tubuh Siti Jamilah.

Panglima Abas tidak menyadari bahwa sepasang mata nelayan sedang menyaksikan peristiwa yang baru terjadi.

***

            Kepulangan Panglima Ali disambut dengan kemeriahan sebagai seorang pahlawan. Di setiap wilayah Pulau Merbau, orang-orang berteriak Panglima Ali adalah panglima perkasa. Panglima yang mampu mengharumkan nama kerajaan Merbau.  Namun sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, akhirnya tercium juga.

Panglima Ali tidak menyangka bahwa orang yang ia cintai tewas di tangan sahabatnya sendiri. Semua cerita tewasnya Siti Jamilah didapatkan Panglima Ali dari nelayan yang menyaksikan peritiwa di pantai itu. Dengan hati yang luka dan dendam bergelora, Panglima Ali pun mencari Panglima Abas.

Tidak sukar bagi Panglima Ali mencari Panglima Abas. Sebagai sahabat, Panglima Ali tahu dimana Panglima Abas selalu menumpahkan perasaan. Dengan membawa segunung kegeraman, Panglima Ali menuju ke pantai, dimana Panglima Abas selalu menyendiri. Benar saja, Panglima Abas sedang berdiri di pantai sambil memandang ke tengah laut Selat Melaka.

“Rupanya Tuan Hamba telah kembali,” ujar Panglima Abas masih memandang ke tengah laut.

“Hamba tidak pandai berbahasa pura-pura! Hamba kembali untuk kekasih hamba, Siti Jamilah! Cabut keris Tuan Hamba, kita beradu sebagai panglima!” ujar Panglima Ali sambil mencabut kerisnya.

“Hamba tidak menyangka, akhirnya persahabatan kita menjadi petaka. Hamba mengaku salah, namun hamba juga menjunjung titah sultan untuk menumpas penghalang kebesarannya,” Panglima Abas membela diri.

“Apa maksud Tuan Hamba?” Panglima Ali bertanya dengan nada yang tinggi.

“Keris ini akan dijadikan keris sakti untuk sultan, namun sebelum sultan memegangnya keris ini harus disemah dengan darah dara sembilan. Dan darah kekasih Tuan Hamba adalah darah ke sembilan dari dara itu. Hamba melakukan atas perintah sultan dan hamba tidak menyesalinya,” ucap Panglima Abas.

Panglima Ali tertegun sesaat. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa segala pengorbanan dan kesetiannya membela kerajaan ini dibalas dengan kematian orang yang paling dikasihi. Panglima Ali menutup matanya sesaat, perlahan-lahan air mata mengalir dari pipinya.

Menyadari keadaan Panglima Ali dalam kesedihan, Panglima Abas mencabut kerisnya dan hendak menikam Panglima Ali. Panglima Ali bukan sembarang panglima, sekecil apapun gerakan musuh, ia mampu membacanya. Tikaman Panglima Abas dapat dielak Panglima Ali. Terjadilah perkelahian seru. Selama tujuh hari tujuh malam, perkelahian dua penglima Merbau itu berlangsung. Tidak ada seorang pun yang berani melerai perkelahian itu. Bahkan perkelahian dua sahabat sejak dari kecil itu, memporakperanda dapur-dapur rumah rakyat jelata di pinggir pantai. Beras yang sedang dimasak di dalam periuk untuk dijadikan nasi, berterbangan jatuh ke pantai. Tidak terhitung beras-beras yang sudah berserakan di pantai itu.

Pada hari ke tujuh, tepat pada sore hari, tubuh Panglima Abas jatuh rubuh di pantai dengan keris Panglima Ali tertancap diperutnya. Panglima Abas memandang Panglima Ali dengan senyum. Panglima Abas menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya akan mendapat balasan setimpal. Kematian Siti Jamilah adalah kematian bagi dirinya. Sebenarnya ia sangat mencintai Siti Jamilah, namun Siti Jamilah telah membunuh hatinya dengan memilih Panglima Ali sebagai kekasih.

“Hamba bersalah, Panglima Ali. Hamba terkurung dalam kebencian dan sakit hati. Kini hamba telah mendapatkan balasannya, hamba tidak menyesalinya. Perlu Tuan Hamba ketahui, bahwa apa yang hamba katakan tentang sultan adalah benar adanya. Keris yang hamba gunakan menikam Siti Jamilah adalah keris yang akan digunakan sultan sebagai keris saktinya. Hamba tidak mendustainya, Panglima Ali,” setelah mengatakan hal itu, Panglima Abas pun tewas.

Panglima Ali sedikit pun tidak menaruh iba atas kematian Panglima Abas sahabat sejak dari kecil. Rasa dendam dan sakit hati atas kematian Siti Jamilah menghapus rasa iba dalam dirinya. Kini Panglima Ali merasakan menjadi orang asing di kerajaannya. Kerajaan yang tidak menghargai apa yang telah dilakukannya.

Beberapa saat kemudian, Sultan Merbau diiringi pembesar kerajaan tiba di pantai. Sultan Merbau tidak menyangka di kerajaannya dua panglima yang dibanggakan saling berseteru. Padahal ia selalu meletakkan dua panglimanya pada posisi yang sama, agar tidak terjadi perselisihan di antara keduanya. Kedua-duanya dianggap memiliki keberkahan bagi kerajaan Merbau. Namun ia harus menelan kenyataan pahit ini.

Melihat sultan berada di dekatnya, tanpa berkata sepatah kata pun, Panglima Ali menusukkan kerisnya ke perut sultan. Sultan Merbau tidak menyangka, bahwa keris Panglima Ali bersarang di tubuhnya.

“Jangan ada yang melangkah ke depan, kalau Tuan Hamba semua ingin hidup lebih lama lagi,” Panglima Ali mengancam para pembesar kerajaan.  

“Apa yang kau lakukan Panglima Ali?” sultan menahan sakit, kedua tangannya memegang keris Panglima Ali yang tertancap di perutnya.

“Hamba mengabdikan hidup hamba untuk kerajaan ini, namun apa yang hamba dapat? Kekasih hamba menjadi korban ketika hamba menyabung nyawa untuk kerajaan ini!” ucap Panglima Ali dengan suara lantang.

“Kau pendurhaka Ali! Kau dan tujuh keterunanmu tidak akan selamat berada di Pulau Merbau ini! Disebabkan khianat, sebagai sultan yang sah kerajaan ini, beta menyumpah Pulau Merbau ini  tidak akan ramai didiami orang dan akan menjadi kampung terpencil selama-lamanya!” bersamaan dengan sumpah sultan, angin pun bertiup kencang. Gelombang di Selat Melaka semakin besar. Hujan deras disertai petir dan kilat saling menyambung. Beras yang berserakan ketika perkelahian Panglima Ali dan Panglima Abas, perlahan-lahan membentuk beting di sepanjang pantai Pulau Merbau.

Sesaat kemudian, alam kembali seperti biasa, namun di sepanjang pantai telah tumbuh beting-beting. Beting-beting itu masih dapat ditemui di pantai Kuala Merbau, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Disebabkan beting itu, banyak kapal yang kandas ketika hendak merapat di Pulau Merbau. Sehingga Pulau Merbau tidak banyak dikunjungi pendatang sampai saat ini.

Diyakini oleh penduduk Pulau Merbau dan sekitanya, bahwa beting beras di Pulau Merbau berasal dari beras yang tumpah disaat Panglima Ali dan Panglima Abas bertarung. Dan keberadaan kerajaan Merbau hilang ditelan bumi. Kerajaan itu bisa ditemukan disaat orang sesat di pulau tersebut. Kuala Merbau sekarang ini menjadi Desa Kuala Merbau.  

 

Hang Kafrawi 

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 3 Komentar untuk Berita Ini

  1. Resep Efektif Ramuan Herbal Untuk Mengatasi Insomnia 04 September 2017 - 10:28:23 WIB

    <a href="https://goo.gl/vk2WWF">Pencegahan Yang Tepat Dan Akurat Untuk Penderita Asam Urat</a>
    <a href="https://goo.gl/CmJKco">Hati - hati Bahaya Asam Urat Lama Kelamaan Jika Dibiarkan!!</a>

  2. Kirana 06 September 2017 - 16:14:58 WIB

    Ternyata kalau di telaah dan di baca lebih lanjut, asal usul being keras kuala merbau itu cukup menarik untuk dibaca. Bisa jadi ini adalah cerita rakyat di sekitaran Pulau Merbau atau legenda orang sana.

    http://www.modern-cikande.co.id/ - Kawasan Industri Banten dengan Fasilitas Lahan Pabrik Terlengkap.

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas