Membelai Alam dengan Sastra Hijau: Telisik atas Misi Kenduri Puisi
186 Komentar 2730 pembaca
Bambang Kariyawan Ys sedang membacakan puisinya

Membelai Alam dengan Sastra Hijau: Telisik atas Misi Kenduri Puisi

Telaah

oleh:

Bambang Kariyawan Ys
(Penggiat Sastra Hijau)

Pengantar

Kita awali tulisan ini dengan mendalami penggalan puisi berikut:

Serindit pasrah memeluk masa depan yang banci
Apa kan jadi pada serindit kecil?
Menciap memamah detik yang tak nikmat disuguhi
Anak serindit mencuil sebuah hati keberanian yang ragu

Terbang rendah mencari sebuah harapan
Menyebar bijian menjemput lorong waktu
Membayang hijau di segenap hamparan
Tak peduli anak panah jerebu menyusup lembut pada sepasang paru ...mati!

(“Serinditpun Enggan Terbang” karya Bambang Kariyawan dalam Resonansi Serindit: Kumpulan Puisi Hijau)

Puisi ini ditulis atas keprihatinan penulis pada hilangnya suara-suara alam dari hewan khas Riau ini, burung Serindit dan lingkungan yang dekat dengannya.

Simak juga penggalan puisi berjudul “Hutan” karya D. Zamawi Imron:

Damai jiwamu bercermin firman
Agar hatimu damai dibelai pantun
Sebatang pohon sebesar satu pelukan
Dibesarkan Tuhan lima puluh tahun

Jika hatimu damai,
Hutan akan damai, dunia akan damai
Dengki dan dendam akan dikubur
Amboi, bumi selembut hamparan kasur

Puisi yang mengandung pesan mendalam agar kita tak lelah menjaga kelangsungan hutan untuk kelangsungan hidup manusia. Mengingatkan kembali bahwa hutan tropis adalah paru-paru dunia.

Isu Lingkungan dan Upaya Penyelamatan

Masalah lingkungan cukup sering diperbincangkan. Lapisan ozon kini semakin menipis, kebakaran hutan, illegal logging, perdagangan hewan langka, dan lain-lain. Berbagai simposium, seminar, dan pertemuan diselenggarakan untuk mengatasi masalah ini. Kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan terus dikampanyekan. Banyak cara yang dapat dipilih untuk mengatasi masalah ini. Ada yang melakukan aksi langsung bersentuhan dengan objek kerusakan alam, dan ada pula yang bergerak secara tidak langsung yang saat ini trend dilakukan dengan menggunakan produk-produk ramah lingkungan.

Dunia pendidikan pun tidak lupa untuk berperan serta menyelamatkan bumi yang dimulai dari sekolah dan kampus. Program-program kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi gerakan menarik untuk menumbuhkan tunas-tunas peduli lingkungan. Program tersebut kita kenal dengan Adiwiyata dan green campus. Program yang cukup efektif mengenalkan kepedulian lingkungan melalui proses belajar dan pembiasaan.

Gerakan Budaya dan Sastra Hijau

Para sastrawan pun ternyata tak ketinggalan untuk berperan serta dalam menanggulangi masalah lingkungan. Para sastrawan berbuat melalui gerakan budaya sebagai gerakan dengan memanfaatkan kekuatan sastra untuk penyadaran diri dan berbuat sesuatu atas suatu kondisi.

Hal ini didasari bahwa sastra memiliki daya gugah untuk membangun kesadaran, menumbuhkan daya kritis, bahkan sangat mungkin menggugah menggugah seseorang untuk bergerak dan mengambil tindakan. Gerakan budaya tersebut oleh sastrawan tentunya dituangkan dalam karya-karya sastra (puisi, prosa, bahkan teater) yang membicarakan kegelisahan atas kondisi bumi.

Para sastrawan dari berbagai penjuru dunia sejak dahulu telah ikut serta mengampanyekan persaudaraan terhadap lingkungan ini melalui karya-karyanya, seperti puisi-puisi penyair Jepang yang memperlakukan alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Atau karya-karya dari khazanah kesusastraan Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia yang sarat akan napas kerinduan pada alam. Negeri kita pun tak kalah hebatnya menyuarakan batinnya lewat karya-karyanya.

Karya-karya yang dihasilkan dan menyuarakan alam sebagai bentuk gerakan budaya saat ini menjadi label tersendiri dengan istilah sastra hijau. Sastra hijau berusaha menawarkan narasi ekologis bahwa bumi adalah rumah besar yang wajib kita pelihara karena di sanalah kita tinggal dan hidup bersama. Sastra hijau bukan saja menanamkan kesadaran namun juga mengekspresikan narasi perlawanan terhadap segala bentuk eksploitasi terhadap alam.

Sastra hijau menurut Naning Pranoto adalah sastra yang menawarkan inspirasi dan ajakan untuk menyelamatkan bumi. Beliau bersama bersama Perhutani dengan gigihnya memulai gerakan Sastra Hijau (Green Literature). Buku yang menjadi pedoman para penggerak sastra hijau pun dihasilkan dengan judul “Seni Menulis Sastra Hijau bersama Perhutani”. Lewat beragam lomba menulis cerpen dan puisi yang digesanya menjadi identitas baru dalam khasanah sastra di Indonesia. Organisasi penggerak nyata membumikan sastra hijau pun dibangunnya berupa Gubug Hijau Raya Kultura dan Laskar Pena Hijau.

Aktifitas sastra hijau yang pernah disimak dan diikuti penulis antara lain Konferensi Internasional Sastra Hijau yang diselenggarakan oleh HISKI (Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Universitas Negeri Yogyakarta. Hadir bersama dalam usungan tema yang dicintai bersama memunculkan energi untuk bergerak melakukan perlawanan dengan santun dan ilmiah. Perlawanan terhadap pelaku-pelaku ketamakan akan hasil hutan dan laut. Hasil pemikiran dan buah ide-ide yang dapat dikembangkan di lapangan terhimpun dalam empat buku dengan sub tema yang berbeda yaitu “Pendidikan Lingkungan melalui Sastra”, “Menggagas Pembelajaran Sastra Hijau”, “Sastra Hijau dan Ekofeminisme”, dan “Sastra, Kekuasaan, dan Penyelamatan Lingkungan” serta Antologi Sastra Hijau “Nyanyian dari Hutan, Pantai, dan Taman Kota: Sehimpunan Puisi dan Cerpen”.

Sastrawan Riau pun tak kalah kreatifnya secara tidak sadar mengusung karyanya dengan tema besar sastra hijau. Sebut saja Fakhrunnas M.A Jabar dengan kumpulan cerpen “Ongkak”, Musa Ismail dengan novel “Tangisan Batang Pudu”, dan penulis sendiri pernah menulis cerpen berjudul “Malam Kai ...” yang pernah dimuat di harian Riau Pos dan masih banyak lagi sastrawan-sastrawan Riau yang secara tidak sadar menuangkan karyanya dengan dibalut keprihatinan akan alam Riau.

Komunitas yang saat ini melakukan gerakan budaya dengan mengusung sastra hijau kalaulah dapat disebut adalah Forum Lingkar Pena dan Rumah Sunting. FLP Riau pernah bergerak bersama saat bencana jerebu singgah dengan menerbitkan Kumpulan Puisi dan Cerpen “Riwayat Asap: Membungkam Jerebu lewat Sastra” serta diskusi sastra dengan mengangkat tema sastra hijau. Demikian pula Rumah Sunting melakukan misi sastra hijau dengan cara berbeda lewat Kenduri Puisi.

Kenduri Puisi
Kenduri puisi merupakan agenda tetap dan trade mark nya Komunitas Rumah Sunting yang digawangi Kunni Masrohanti. Mengikuti kepingan perjalanan kenduri puisi seperti mensebatikan diri dalam belaian-belaian alam sekaligus merintih karena sobekan kepingan atas alam. Seluruh rangkaian yang disuguhkan berupa lomba puisi, tepak puisi, bincang puisi, kemah puisi, dan wisata puisi sebenarnya bentuk memperindah dan memvariasikan bentuk puisi dengan tema besarnya bersahabat dengan alam Riau.

Edisi Kenduri ke VII kali ini dengan tema Bait-Bait Merah Danau Naga Sakti merupakan upaya gerakan budaya yang berupaya menyadarkan masyarakat sekitar untuk memperjuangkan alam sebagai bagian yang perlu dijaga kesinambungannya. Alam juga punya hak untuk melestarikan dirinya sendiri. Ber”masyarakat” dengan sejenisnya. Mungkin saja mereka rindu bercengkerama bersama jangkrik di kala malam, burung-burung dan kupu-kupu yang hinggap di dahannya, atau mereka ingin berbual-bual dengan kita, manusia.

Sebuah misi mulia yang perlu didukung pelaku-pelaku budaya dan sastra untuk menjadikan hutan dan segala isinya di Riau sebagai sumber berkarya dan menyisipkan misi perlawanan melindungi hutan kita yang tinggal sejengkal ini. Misi yang sejalan dengan nilai ungkapan Melayu:

Kalau tidak ada laut, hampalah perut
Bila tidak ada hutan, binasalah badan

Kalau binasa hutan yang lebat
Rusak lembaga, hilanglah adat

Referensi

Bambang Kariyawan Ys dkk. (2016). Resonansi Serindit: Kumpulan Puisi Hijau. Bojonegoro: Soega
Publishing.
Bambang Kariyawan Ys dkk. (2015). Riwayat Asap: Membungkam Jerebu Lewat Sastra.
Bojonegoro: Soega Publishing.
Naning Pranoto dkk. (2016). Antologi Sastra Hijau, Nyanyian dari Hutan, Pantai, dan Taman Kota:
Sehimpun Puisi dan Cerpen. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Naning Pranoto dkk. (2013). Seni Menulis Sastra Hijau bersama Perhutani. Jakarta: Perhutani.
Rachmad K. Dwi Susilo. (2014). Sosiologi Lingkungan. Jakarta: Rajawali Pers.
Setya Yuwana Sudikan. (2016). Ekologi Sastra. Lamongan: CV. Pustaka Ilalang Group.
Wiyatmi dkk. (2016). Pendidikan Lingkungan Melalui Sastra. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 186 Komentar untuk Berita Ini

  1. Sobhana123 13 Maret 2018 - 17:42:38 WIB

    hi there.. really nice information.. i was looking for this since a long time…really appreciate the amount of work which you have put into to it.. thanks for sharing

    https://www.certvalue.com/iso-14001-certificati on-Oman/

  2. Certvalue333 09 April 2018 - 12:00:53 WIB

    hello..superb post in this blog it is very helpful to others thank u for sharing nice content in this blog........

    https://www.certvalue.com/

  3. Laxmi Certvalue 09 April 2018 - 17:01:03 WIB

    hello nice blog,I would like to join this group because it is a great platform for to share the ideas with the public.Artwork sharing is pretty good and I appreciate those who behind this work.Thanks for sharing such a good site

    https://www.certvalue.com/

  4. Jamesdyesy 22 Oktober 2018 - 19:39:07 WIB

    Заказать seo поисковую оптимизацию сайта, Заказать услуги по продвижению сайта По всем возникшим вопросам Вы можете обратиться в скайп логин [b]pokras7777[/b] [url=http://seoprofisional.ru/index.php?route=product/cate gory&path=75][b]Аренда выделенных серверов по приемлимым ценам[/b][/url] Раскрутка сайта под ключ

  5. pinjaman koperasi 20 Maret 2019 - 06:39:49 WIB

    Hello to all, the contents present at this web site are truly remarkable for people knowledge,
    well, keep up the nice work fellows.

  6. Italien Trikot Kinder 26 November 2019 - 04:37:57 WIB

    This paragraph is really a nice one it helps new internet users, who are wishing for blogging.
    Italien Trikot Kinder Georgetta Liverpool Trikot Kinder JosefinaP
    CarsonGag fotballdrakter EdmundBid

  7. England Drakt 27 November 2019 - 17:23:01 WIB

    If you desire to improve your knowledge just keep visiting this site and be updated with the
    most recent news posted here. England Drakt http://www.gcdoctor.com/space-uid-210753.html Iolaeyang AndersonP
    ShaniAbat Arsenal Trøje Børn Philomena

  8. Maglietta Ajax 28 November 2019 - 21:35:24 WIB

    Thank you for the auspicious writeup. It in reality used
    to be a leisure account it. Glance complex to more delivered agreeable from
    you! However, how can we be in contact? Maglietta Ajax Miriamezk Roma Tröja Barn MelvaAcke
    CaitlynSk Maglia Barcellona Bambino ElsaIngal

1 2 3 19

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas