Kembali Mengkritik Pantun M. Nasir Penyelai dalam Buku "Bukan Batang Terendam"
1 Komentar 2937 pembaca

Kembali Mengkritik Pantun M. Nasir Penyelai dalam Buku "Bukan Batang Terendam"

Telaah

Oleh Agus Fiknar Riyaldi

Kembali mengingat sebagai pencinta seni maupun seniman yang ada di Riau bahkan di Indonesia, seperti yang kita cermati dalam hal seni membutuhkan kritikan yang mencari kebenaran agar hasil karya seseorang dapat dijembatani maknanya. Baiklah mari sama-sama kita luangkan waktu untuk mencermati hal yang ingin saya sampaikan.

Dengan berjalannya waktu, kita tidak ingin membiarkan karya seni ini berjalan dengan tidak benar, agar sang pembaca tidak sesat pengetahuan dalam membaca hasil karya satra seperti pantun M. Nasir Penyalai ini.

Apa jadinya jika pembaca sudah larut dalam memahami isi dari pantun tersebut. Saya akan memberi contoh pantun yang tidak masuk akal dan membingungkan orang-orang dalam membaca pada buku Antalogi Sastra Melayu Riau “Bukan Batang Terendam” yang diterbitkan oleh UPT Museum Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau tahun 2016 lalu.

Simaklah pada pantun yang ditampilkan di bawah ini:
Tukang hasut
Yaitu pada jual 2 halaman 23 :
Padang bola tempat berlatih
Berlatih bola diwaktu pagi
Tukang hasut mulut berbuih
Tidak pernah menggosok gigi

Seperti yang kita ketahui, apa yang menjanggal tukang hasut dengan orang yang tidak pernah menggosok gigi. Bisa kita pikirkan sendiri bahwa pantun ini hanya mencari persamaan akhir kata saja.

Simaklah pantun yang kedua :
Tukang hasut
yaitu pantun beli 2 halaman 23 :
berjalan malam terlanggar busut
hendak mencari buah kuini
jangan percaya tukang hasut
harus percaya hati nurani

Pada pantun ini memang asal bunyinya saja, coba lihat apakah ada tanaman kuini di tanah busut? Diketahui bahwa tanah busut itu pada perairan asin, jika menanam kuini di tempat tersebut apakah bisa tanaman itu akan tumbuh dan membuahkan hasil.

Lanjut menyimak pada pantun ketiga
Tukang hasut
Pada pantun beli 4 halaman 23 :
Kalau hendak menjemur belacan
Jemurlah belacan diatas busut
Kalau hendak mencari kawan
hindari jauh situkang hasut

Dalam hati saya rasanya ingin tertawa dikarnakan menjemur belacan di atas tanah busut. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika belacan dijemur pada tanah busut? Jelas kita tahu tanah busut itu tempat sarangnya rama, jika dijemur belacan di atas tanah busut bagaimana bisa kering belacan tersebut.

Pantun yang keempat :
Tukang hasut
Pada pantun beli 3 halaman 23 :
Tanah busut tempat berkuda
Kuda lari berbelang jingga
Tukang hasut pengadu domba
Lebih kejam dari domba

Apa yang ada di pikiran M. Nasir Penyalai saat membuat karyanya saat itu, tidak memikirkan bahwa hasil karya yang tidak masuk akal ini. Coba simakkan pantun di atas, apakah ada tanah busut tempat lari kuda, tanah busut itu kecil yang berbentuk kerucut, sedangkan kuda besar. Apalagi langkahnya yang mudah saja melewati tanah busut tersebut. Dan yang membuat saya heran pada tukang hasut pengadu domba, lebih kejam dari domba. domba mana yang kejam dari tukang hasut, hal ini harus dicermati kembali bahwa pantun Nasir Penyalai ini tidak masuk akal. Hanya menyamakan bunyi akhirnya saja tanpa memikirkan maknanya.

Baiklah, jika pantun Nasir Penyalai ini telah menyebar di seluruh jagat raya dan telah meracuni anak-anak dalam membaca, pasti pembaca akan tersesat dalam pantun tersebut. Menurut saya jika karya telah dibuat dan sudah diterbitkan maka pengarang tersebut sudah siap mempertanggung jawabkan hasil karya dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya asal buat saja, hasil karya membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatannya.

Tapi setelah saya melihat hasil karya Nasir Penyalai seperti ini, timbul rasa heran terhadap yang menerbitkan buku ini. Apakah tidak diperiksa atau diteliti ulang sehingga dengan sangat mudahnya pantun Nasir ini diterbitkan.

Apa jadinya para budayawan dan sastrawan melihat pantun yang tidak masuk akal ini. Apakah tidak bertindak untuk mencegah bahwa buku ini tak seharusnya disebarkan? Jika disebarkan maka bagaimana nasib orang-orang yang membaca dalam memahami pantun tersebut.

Mari kita sama-sama menjaga kelestarian karya seni dengan sebaik-baiknya, agar karya hasil seni seseorang memberi keyakinan dan kepercayaan yang penuh terhadap pembaca.

Agus Fiknar Riyaldi adalah mahasiswa Program Studi Sastra Daerah (Melayu) Fakultas Ilmu Budaya Unilak, semester 4

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. tukang taman surabaya 08 Mei 2019 - 07:04:07 WIB

    hey there and thank you for your info – I have certainly picked up anything new from right here.

    I did however expertise several technical issues using this web site, as I experienced to reload the site lots of times previous to I could get it
    to load correctly. I had been wondering if your hosting is OK?
    Not that I am complaining, but sluggish loading instances
    times will often affect your placement in google and can damage your high quality score if advertising and
    marketing with Adwords. Well I'm adding this RSS to my e-mail and can look out for much more of
    your respective exciting content. Ensure that you update this
    again soon.

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas