ROMANSA BERCERITA
0 Komentar 1089 pembaca
Febri Nazwarul Fauzan

ROMANSA BERCERITA

Puisi

Puisi-puisi Febri Al-Meutuah

Sajak-sajak Gontai

Meluap sepi dalam dada
Tumpah ruah bergelimang sunyi
Tak terbendung oleh lara
Ketika rindu memaki-maki

Secarik kertas menjadi beringas
Jari jemari membuas
Sampai kutulis nalar
Yang semakin menjadi liar

Rindu merayu minta ditulis
Bayanganmu menari minta didekap
Kertasku terbaring minta dimanja
Dan…
Sang pena mulai melalang buana menjemput sajak yang gontai

 

Berpayung Malam

Sedari tadi, puan duduk sendiri
Melafalkan bintang dengan lisan
Merangkai langit dengan jari
Merajut hati dengan perasaan

Siapa yang puan tunggu?
Di bawah langit sendirian?
O, barangkali puan ingin menenggelamkan purnama di matanya, ungkapku..
Mungkin sampai pagi datang berganti

Puan perlu teman?
Sedari dulu saya mengintai bola matamu yang membundar itu
Ayolah…..
Langit malam mulai kelam
Aku takut bintang murka dan menjatuhkan rupanya ke setiap helai-helai rambutmu karena iri akan rupamu
Oleh karenanya..
Izinkan daku memayungkan malammu,
Malam ini...

 

Sajak Sepuntung Kenangan

Malam kian kelam
Rindu kian menjadi
Hati kian tegar
Merelakan kepergian

Bak selinting tembakau
Asapnya bagai kelembutan
Manisnya hanya sementara
Nikmati saja…
Selayaknya kita yang pernah bersama dalam suka, duka dan asmara
Lembut bibirmu yang kukecup masih sangat kuingat
Lidahmu yang menari itu masih berkerabat di pikiran setengah kototku
Serta keindahan-keindahan lain yang kau pertontonkan kepadaku

Ah, sudahlah…
Sudah tinggal setengah
Abu-abu kenangan mulai berguguran
Kukenang kau hanya manisnya saja
Biarlah pahitnya terbuang

Sudah, jangan menari-nari lagi di kepalaku
Rokokku sudah mulai habis
Biarlah sepuntung dan secangkir kopi ini yang menggantikan bibirmu yang candu itu.

 

Dalam Hening

Matilah kau rindu
Jarak telah menikammu kuat-kuat
Hancur lebur kau dibuat kenangan
Sampai menganga luka tersayat angan

Matilah kau rasa
Sia-sia saja kau tetap tinggal
Tiada yang kan berpulang
Menanti pelukan

Matilah kau……
Dalam secarik kertas, dalam sajakku yang beringas

 

Teruntuk Dwilanda

Akhir-akhir ini, sebuah nama hinggap di pinggiran hatiku
Seakan ingin menaungi kita dalam kegelapan hati masing-masing
Kuharap kau menetap, agar sunyi pergi tanpa arti
Sampai kita saling mengobati hati yang pernah terluka oleh masa lalumu, masa laluku

Aku tak berharap apa-apa
Kecuali kita saling menatap dan menetap
Aku tak berharap apa-apa
Walaupun hatiku telah tercuri olehmu

Biarkan kerinduan ini memuncak sampai akhirnya kita bersua
Tak sabar aku tenggelam dalam sepasang bola mata yang mengisyaratkan ketabahanmu itu
Dan tak sabar pula aku untuk menitipkan kerinduan pada keningmu.

Bantu aku, melewati hari-hari kita bersama
Agar malam tau aku sungguh mengagumi kelembutanmu
Dan bantu aku juga untuk membuatmu luluh dan menjadi candu yang nyata, Dwilanda….

Diam-diam
Diam-diam aku menyelami palung hatimu
Diam-diam aku tenggelam
Diam-diam aku hanyut dalam ketabahanku mengagumimu
Diam-diam aku terdiam dalam-dalam
Diam-diam kau selalu terkenang
Diam-diam kau dalam do’a telah bersemayam
Diam-diam kau hanya sanggup kukenang
Diam-diam…
Tinggal angan

Febri Nazwarul Fauzan (Al-Meutuah), lahir di Tembilahan, tanggal 19 Februari 1993
adalah seorang lulusan Sarjana Keperawatan yang sangat cinta akan dunia kesenian. Sekarang tengah menggali ilmu teater bersama Teater Matan Pekanbaru. Di dunia teater Febri sempat vakum selama 5 tahun ketika menjalni perkuliahan.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas