Menjadi Muluk dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk Bukan Suatu Niscayaan untuk Zaman Ini
10 Komentar 19316 pembaca
Tikih Muluk (f. net)

Menjadi Muluk dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk Bukan Suatu Niscayaan untuk Zaman Ini

Telaah

Oleh Moehadi Sastra

Karya satra era Pujangga Baru meletakkan adat sebagai kekuatan ceritanya, Salah satunya adalah roman "Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk" Karya HAMKA (1938). Roman ini bercerita tentang kisah cinta Zainudin dan Hayati. Sebagian orang telah membaca roman dan menonton filmya, jadi tidak perlu lagi untuk dicerita ulang. Namun ada hal yang membuat saya termotivasi untuk menulis. Kisah seseorang bernama Muluk dalam roman ini. Beberapa pekan ini, tulisan-tulisan tentang tokoh Zainudin dan Hayati dibahas di media online. Salah satunya TabloidTanjak.com. Untuk menguak kebenaran masalah siapa yang salah "Tenggelamnya Kapal Van Der wicjk". Namun dalam tulisan ini, justru tokoh Muluk yang akan saya bahas. Siapa Bang muluk?

Hamka tidak menciptakan tokoh seperti Yanto, bocah dekil sekaligus sahabat Aguan dalam "Mengejar Sejuta Layang-layang di Medan" awal 1960-an, karya Dyah Rinni ”Menjadi Djo”. Sampai dipisahkan oleh tragedi Gerakan 30 September. Akan tetapi Hamka telah Membuat Muluk, tokoh yang telah berazam untuk menjadi sahabat Zainudin sampai mati.

Muluk sapannya, Muncul saat durasi 27 menit lewat 37 detik dalam film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk". Dengan menyandang sebuah tas, ia disebut macam setan karena masuk tak mengucap salam. Ia memang jarang pulang ke rumah, sebab menongkrong di warung judi. Berkenalan dengan Zainudin, mengajak makan dan ia ingin mengajar Zainudin berjudi.

Bang Muluk tinggal di Padangpanjang, dengan rambutnya yang krebo (tidak terawat). Juga bisa memotong rambut. Dengan sikapnya yang percaya diri, ia berani memotong rambut sahabatnya Zainudin. Model pinang di belah dua katanya.

Tokoh Muluk bisa dikatakan seorang motivator saat itu. Tersebab lewat kata-kata yang keluar dari mulut Muluk, membuat Zainudin bangkit dari keterpurukan cinta Hayati. Sudah setengah gila Zainudin dibuat Hayati. Kesadaran semangat hidup yang tinggi dan kesetiakawanan yang luhur. Ini beberapa dialog Muluk memperkuat ia sebagai tokoh motivator.

“Hei, berhentilah bersedih begini, Engku. Terjadi sudahlah terjadi. Engku, engku dah banyak menuntut ilmu di siko. Budi pekerti dan kesopanan dengan pemikiranyang luas pun sudah engku raih."

”Jangan lah lebih lemah dari pada para-para kami yang tidak kenal bace bismillah. Tidak baik hidup yang mulia ini, terkurung semata-mata karena memikirkan perempuan. Perempuan yang Engku junjung tinggi itu telah berkhianat, dan memungkiri janjinya."

”Di sini Engku sengsara bersakit-sakit, sedangkan dia? Dia sedang menikmati masa pengantin baru dengan suaminya."

“Engku ni orang pintar, kenapa harus hancur oleh perempuan. Dimana letak pertahanan kehormatan yang terletak pada seseorang laki-laki, ha."

“Jangan mau hidup engku dirusak, binasakan oleh seorang perempuan itu. Engku mesti tegak kembali. Coba lagi engku lihat dunia lebih luas dan masuk ke dalamnya."

“Di sana banyak kebahagiaan dan ketentraman yang tersimpan. Engku pasti bisa melakukannya. Dan mengecap bagaimana nikmat kebahagiaan dan keberuntungan itu.

“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tetapi membangkitkan kekuatan."

“Cinta bukan melemahkan semangat tapi membangkitkan semangat. Tunjukkan pada perempuan itu, bahwa engku tidak akan mati, lantaran dibunuhnya."

Dahsyatnya kata-kata Muluk, menggebu-gebu, bergairah, penuh semangat dan percaya diri yang absolute. Sehingga membuat Zainudin berhenti dalam kegilaan cintanya. Lalu bangkit menjadi seorang penulis besar di Kota Batavia.

Muluk tidak pernah berkhianat pada siapapun, jika Soekarno adalah Proklamator Indonesia, maka Muluk adalah sosok inspirator bagi Zainuidin. Sampai kesuksesan melekat pada diri Zainudin begitu juga dengannya. Menjadi asisten Pribadi Zainudin yang setia, sampai ajal menjemputnya.

Itulah mengapa Bang Muluk hadir dalam tenggelamnya Kapal Van Der Wictjk, karena Hamka tidak ingin pada zaman sekarang ini, Kapal Van der Wictjk yang berbeda tenggelam pada kisah yang sama.

Adakah sosok sahabat seperti Muluk pada masa kini?

Moehadi Sastra adalah nama pena M. Firmiadi. Lahir di Natuna, sekarang sedang menuntut ilmu di Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak, semester 3

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 10 Komentar untuk Berita Ini

  1. Obat Alternativ Pembuluh darah pecah Terbaik 100% Alami Manjur 25 Juli 2017 - 15:06:39 WIB

    kisah persahabatan yang sangat menginspirasi. https://goo.gl/mYtYWq

  2. Pengobatan Untuk Sembuhkan Stroke Hemoragik 25 Juli 2017 - 15:08:20 WIB

    Terimakasih gan, artikel yang sangat menarik https://goo.gl/Wr5vrW

  3. nama obat kuat pria paling bagus dan aman 29 Agustus 2018 - 20:45:38 WIB

    terimakasih informasinya http://goo.gl/78XE5J

  4. pinjaman koperasi 20 Maret 2019 - 05:47:48 WIB

    What's up, I read your blog like every week. Your story-telling style is awesome, keep
    it up!

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas