Menjawab Tulisan Husaini, Bukan Hayati Penyebab Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch
3 Komentar 3399 pembaca

Menjawab Tulisan Husaini, Bukan Hayati Penyebab Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch

Telaah

Oleh Rairatul Tasbiah

Hayati merupakan gadis tulen asal Minangkabau di daerah Batipuh. Dia juga dijuluki sebagai keindahan gunung merapi kebanggaan keluarga (Bunga Batupuh). Hayati adalah anak yatim piatu, dia tinggal berdua dengan adiknya di rumah mamaknya yang merupakan Datuk Penghulu Adat di Batipuh. Namun Hayati harus mengikuti aturan dan larangan oleh Datuk Penghulu Adat.
Saat melintasi jalan, delman yang ditumpangi Hayati tanpa sengaja melintas tepat di depan Zainuddin. Zainuddin merupakan pemuda peranakan Makassar (Ibu) dengan Minang (Ayah) yang juga merupakan yatim piatu. Pertemuan keduannya merupakan ketidaksengajaan. Kontak mata mempertemukan mereka.

Pertemuan yang tidak disengaja itu melahirkan pertemanan dan akhirnya mereka saling memendam rasa yang lebih. Namun hal itu tak berlangsung lama karena Datuk Penghulu Adat melihat mereka sedang mengobrol berhadapan yang merupakan sebuah pantangan dari aturan adat. Zainuddin diusir dari kampung tersebut dengan alasan menuntut ilmulah di Padangpanjang atau di Bukit Tinggi. Masyarakat Batipuh sangat tidak menyukai orang yang tak bersuku dan bukan orang Minang tulen.

Hayati berhati tulus hendak mengantarkan keberangkatan Zainuddin ke Padangpanjang. Hayati rela dengan kepergian Zainuddin, diberinya semangat kepada Zinuddin. Inilah yang diucapan dari Hayati untuk menyemangati Zainuddin.

“Walaupun kau pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku.”

“Zainuddin jangan pernah bersedih, jangan putus asa. Cinta itu bukan melemahkan hati, bukan membawa tangis dan membuat putus asa, tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan. Berangkatlah engkuh, biar Tuhan memberi perlindungan bagi kita berdua.”
Kata-kata Hayati memberi semangat pada Zainuddin, dan Zainuddin pun membalasnya. Inilah yang diucapkan Zainuddin.

“Hayati, saya putus asa atau saya timbul pengharapan dalam hidup yang belum tentu tujuannya ini. Semua ini bukanlah bergantung pada diriku, bukan pula pada orang lain. Tapi pada kau Hayati, kau yang sanggup menjadikan saya seorang yang gagah berani, kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara kelak selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku, kaupun sanggup membunuhku.”

Dari kata-kata Zainuddin memberikan hak pengharapannya pada Hayati, bahwa Zainuddin akan mengikuti semua keputusan Hayati. Hayati memberikan selendang putihnya sebagai tanda azimat ketulusan hatinya, dengan janji Zainuddin yang akan kembali menjemputnya.

Seiring berjalannya waktu, Hayati berkesempatan untuk ke Padangpanjang dengan niat ingin bertemu Zainuddin. Namun, bukan kebahagiaan yang mereka terima melainkan kekecewaan yeng mengantarkan Hayati pergi meninggalkan Zainuddin karena dia ditarik oleh sahabatnya Khadijah dari tempat mereka bertemu. Kekecewaan itu bukanlah satu-satunya yang menghalangi mereka untuk bersama, melainkan awal dari kepedihan yang lebih menyakitkan lagi.

Saya ingin menjawab apa yang ditulis Husaini dalam tulisnnya berjudul “Tersebab Hayati Kapal Van Der Wijk Itu pun Tenggelam” yang memojokkan Hayati. Menurut saya, lamaran yang ditolak oleh Datuk Penghulu Adat, bukan karena Hayati melainkan aturan adat yang mengantarkan Hayati untuk mengikuti semua itu. Dan aturan itu tidak membolehkan gadis tulen Minang menikah dengan orang yang tak bersuku. Azizlah yang dipilih Ninik Mamak dan Datuk Pennghulu Adat yang bersuku, beradat, tulen darah Minagkabau. Di sisi lain lagi, Hayati melindungi dirinya sendiri karena tidak ada yang dapat membelanya. Raga boleh ada pada orang lain tapi hati tetap pada yang dicintai.

Bukan hanya Zainuddin yang terundung pilu dari kecilnya, tetapi Hayati juga demikian. Balasan surat dari Zainuddin, Hayati bukan cepat melupakan Zainuddin, tetapi Hayati tetap menjaga akan hati sucinya untuk Zainuddin. Di sisi lain Husaini harus menyadari bahwa seorang wanita memerlukan perlindungan yang kuat.

Rairatul Tasbiah adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak, semester 3

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 3 Komentar untuk Berita Ini

  1. Setjangkir Berlian 16 Januari 2017 - 06:58:19 WIB

    Saya SETUJU...penulis sebelumnya yg bernama Husaini, tidak boleh mempojokkan Hayati. Hayati tak sedikit pun ingin mengkianati cinta Zainuddin. Karna Adat, Hayati tak dapat hidup bersama Zainuddin

  2. Setjangkir Berlian 16 Januari 2017 - 06:58:19 WIB

    Saya SETUJU...penulis sebelumnya yg bernama Husaini, tidak boleh mempojokkan Hayati. Hayati tak sedikit pun ingin mengkianati cinta Zainuddin. Karna Adat, Hayati tak dapat hidup bersama Zainuddin

  3. Dewi 16 Januari 2017 - 07:50:38 WIB

    Hayati dn Zainudin sama sj, tidak mampu berjuang untuk cintanya, menyalahkan adat untuk keputusan yg secara sadar diambil,

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas