Mengembara ke “gurindam bukit siguntang" Sajak Taufik Ikram Jamil
0 Komentar 2349 pembaca

Mengembara ke “gurindam bukit siguntang" Sajak Taufik Ikram Jamil

Telaah

Oleh M. Kafrawi

Karya sastra hadir seperti hamparan hutan lebat, lengkap dengan bermacam-macam jenis tumbuhan di dalamnya. Untuk itu, pembaca harus menjelma seperti seorang pengembara yang berada di tengah hutan tersebut. Pengembara dituntut terus mengembara dan mengembara mencari sumber penyebab terbentangnya kawasan hutan itu, paling tidak pengembara mengetahui nama jenis tumbuhan dan terletak dimana kawasan hutan tersebut, sehingga pengembara tidak merasa asing untuk berkemah.

Keasingan merupakan sesuatu yang wajar menerpa manusia. Dengan keasingan, manusia dapat mengenal dirinya lebih dekat lagi dengan menyelami keasingan itu menjadi yang tidak asing. Hal inilah yang menerpa pikiran saya ketika membaca sajak pertama Taufik Ikram Jamil (TIJ) dalam kumpulan puisinya “tersebab aku melayu”. Sajak pertama dalam buku itu berjudul “gurindam bukit siguntang”. “gurindam bukit siguntang” menjadi hutan belentara, namun saya ingin masuk ke dalamnya. Keinginan mengetahui lebih jauh ‘jenis-jenis tumbuhan’ atau peristiwa yang dirangkai TIJ dari kata-kata yang dibentangnya dalam sajak tersebut.

Maka seorang ilmuan kesusastraan berdarah Belanda, A Teeuw menjelma di depan saya lewat buku Sastra dan Ilmu Sastra, dengan membawa pernyataan Culler bahwa untuk memahami karya sastra diperlukan naturalization: mengembalikan yang aneh pada yang wajar. Saya mencoba menetralkan “hutan” gurindam bukit siguntang dengan buku Sejarah Melayu yang ditulis ulang oleh A. Teeuw yang pernah saya baca.

Dari referensi yang saya miliki, buku Sejarah Melayu, memunculkan pertanyaan. Mengapa TIJ jauh-jauh mencari peristiwa masa lalu untuk dibentangkan pada hari ini? Apakah hari ini, kita berada di dalam kegelapan sehingga memerlukan perbadingan peristiwa masa lalu? Ataukah kita tidak memiliki tokoh yang dapat jadi panutan hari ini, dan terpaksa menghadirkan tokoh masala lalu? Entahlah. Paling tidak pertanyaan ini menjadi bekal saya untuk mengembara dalam hutan “gurindam bukit siguntang”.

Syahdan, di Bukit Siguntang yang terletak di Palembang sekarang ini, “terjuntai” peristiwa sejarah Melayu dengan tokoh-tokohnya yang diyakini sebagai asal muasal orang-orang besar Melayu Nusantara. Mulai Demang Lebar Daun, Sang Sapurba, Wan Sendari melakukan pelayaran dengan menggunakan perahu Kota Sagara mengelilingi tanah Melayu sekarang ini. Dari mereka tapak kebesaran Melayu itu dibangun dan berangkat dari kejayaan Melayu itulah TIJ, mengajak kita mengenali lebih dekat kebesaran itu dalam sajak-sajaknya.

Mendekap “gurindam bukit siguntang”
Berhadapan dengan kata gurindam, maka kita akan terbayang Gurindam 12 Raja Ali Haji. Kata gurindam mendarah daging dengan Raja Ali Haji, padahal gurindam merupakan gender sastra yang berbentuk puisi, dengn tipografi terdiri dari dua baris, bersajak a-a, dan biasanya berisikan nasehat. Inilah makna harfiah gurindam. Namun di dalam “gurindam bukit siguntang” karya TIJ, gurindam bukan lagi merupakan gender sastra, tetapi ia menjadi bagian ekspresi keresahan TIJ. Tentu saja Gurindam 12 Raja Ali Haji yang berisi nasehat, menjadi isnpirasi TIJ mengambil kata gurindam menjadi judul sajaknya. Maka judul gurindam bukit seguntang, dapat ditafsirkan sebagai nasehat atau pelajaran dari bukit siguntang untuk memompa kembali semangat Melayu pada hari ini.

bukit siguntang dekat palembang
kupandang dikau dalam sebuah petang
pada huruf palawa mengembang
di antara dua sungai bujurkan kata-kata
ketika tubuhmu kian menunduk
karena beban sejarah sejuk berpeluk
dimamah usia terus melapuk
cuma aku bukan demang lebar daun
karena sang sapurba pun entah siapa
hingga tak ada sumpah dipapah
melayu tak musti layu mengalah
raja zalim harus disanggah

Dari bait pertama sajak ini, sejarah menjadi tapak untuk merangkai keinginan-keinginan masa akan datang. Peristiwa yang dibentangkan oleh sang penyair (TIJ) dari peristiwa Sejarah Melayu, menciptakan jalan-jalan imajinasi bagi pembaca dalam mengarungi belantara sajak, sehingga memunculkan keinginan dan harapan yang baru. Pakar sastra Hans Robert Jausz yang bertungkuslumus di bidang resepsi sastra, menjelaskan bahwa setiap pembaca karya sastra memiliki horison pengharapan. Horison pengharapan ini muncul disebabkan adanya perbancuhan realita yang sedang dihadapi oleh pembaca dan keinginan untuk mewujudkan suatu perubahan. Maka bait pertama sajak ini, menjelaskan ada sesuatu yang tidak beres terjadi di tanah Melayu ini. Pendapat ini diperkuat baris ke 11, melayu tak musti layu mengalah.

Membaca bait pertama sajak ini, kita diajak bercermin pada ‘tubuh’ kita sendiri. Kekuatan yang tersimpan pada ‘tubuh’ kita dikokah dengan menggunakan peristiwa masa lalu untuk mengingatkan kembali kekuatan tersebut. ‘Peristiwa’ yang disajikan dalam sajak merupakan peristiwa multi tafsir untuk mengenal diri lebih dekat lagi. Kita pun ‘dipaksa’ harus mengenal sejarah Melayu, terutama tentang Sang Sapurba dengan segala sikapnya. Namun demikian, kita boleh saja mengambil sikap yang lain; memahami sajak berdasarkan pengalama kita.

Di balik pesimis ada optimis. Bait pertama sajak ini, ada nada pesimis yang dominan. Keperkasaan masa lalu, tidak terimbangani dengan masa kini. Maka ada beban memikul sejarah yang gemilang itu. Reaksi terhadap sesuatu peristiwa, menyebabkan kita membujuk diri untuk bangkit (optimis) dengan cara ‘memuruk’ diri agar sadar bahwa kita memiliki kekuatan. Dengan mengenal kelemahan, maka kita akan mengenal kekuatan. Inilah keistimewaan sajak. Dalam bentangan sajak, ada peristiwa lain sebagai amunisi sepirit. Sepirit inilah sebagai tiang-tiang menopang eksistensi manusia untuk tetap berjuang.

Pada bait ke 3, TIJ membentangkan semangat membangkitkan diri untuk menandingi keperkasaan masa lalu. Walupun demikian, TIJ tetap memperbandingan semangat hari ini dengan peristiwa masa lalu.

pada parameswara aku pernah berpaham
pindah bukan berarti kalah
seperti dari muaratakus langkah tak goyah
sungai musi menghanyutkan janji
di bintan dan indragiri sekali lagi diuji
menyambut catatan it-sing dan mas’ud berpeluk
tersalin kabur di kediri dan kedu
cuma bukan darmapala bukan satyakirti aku
pun bukan di antara seribu pendeta aku
menyukat mahayana di universitas nalanda
pustaka membukakan dirinya cepat
melintas sunda nyeberangi melaka
sampai ke cina saling terpikat

Memang tidak mudah membangkitkan semangat hari ini di atas kegemilangan masa lalu. Di tambah lagi spirit hari ini, lepas. Tidak ada tokoh atau peristiwa hari kini dapat dijadukan rujukan Dengan terpaksa menggali semangat tersebut ke negeri lain, yang memang menghargai sejarah. Kita sepertinya pindah untuk mencari sesuatu yang hilang dari ‘tubuh’ kita. Menyusun sisa semangat dari puing-puing ketakberdayaan untuk membangun kekuatan baru. Negeri-negeri besar jadi tempat merajut keinginan, dan pada kebasaran tokoh-tokoh masa lalu, mencoba berdiri.

Perbandingan merupakan salah satu cara untuk membangkitkan semangat yang terpuruk oleh keadaan. Perbandingan dengan masa lalu, menggali keperkasaan, membujuk ‘tubuh’ kita untuk mengenal kekuatan yang ada dalam diri kita. Bukankah “sejarah mengajar kita menjadi lebih dewasa” (lirik lagu Ramli Syarip). Memandingkan masa lalu dengan hari ini merupakan pemaparan kebesaran yang dapat kita jadikan spirit hari ini. Nilai kebesaran masa lalu itulah yang dapat kita rengkuh menjadi jalan untuk memperkuat semangat kita tetap berjuang.

Maka ‘pada parameswara aku pernah berpaham’, kita diajak mengenal Parameswara raja Majapahit yang berdarah Melayu dan dikaburkan sisilahnya. Itulah keadaan Melayu pada hari ini; dinafikan atas keterbukaannya. Melayu menjadi perahu membawa kebesaran, namun kemudian ditenggelamkan di ‘pelabuhan sunyi’. ‘Mengalah’, inilah kata membongkas kepribadian Melayu yang tidak pernah peduli terhadap keadaan, walaupun ‘tubuh’ Melayu dikoyak-koyak oleh kepentingan untuk membesarkan orang lain.

Kita kemudian disadarkan bahwa Melayu memiliki kebasaran dan kekuatan untuk tetap berdiri. Puing-puing sejarah adalah tonggak yang dapat dirujuk kembali. Kebasaran Melayu bukan khayalan belaka. Peninggalan-peninggalan baik berbentuk artifak, situs maupun tulisan-tulisan tentang kebesaran Melayu, masih dapat dilihat. Maka “menyukat mahayana di universitas nalanda” merupakan upaya mencari dan sekaligus membangkitkan semangat ke-Melayu-an.

Kekalahan adalah luka dan luka akan menciptakan kekuatan baru dalam penyembuhan luka tersebut. Bahan yang dapat dijadikan rujukan adalah masa lalu. Walaupun demikian, mewartakan masa lalu pada hari ini, bukan hendak ‘mengelap sampai mengkilat’ masa lalu itu, tetapi masa lalu dapat mengisi ‘kekosongan’ semangat hari ini. Rendra dicecar dengan pertanyaan, mengapa mengangkat naskah-naskah masa lalu. Rendra menjawab bahwa nilai kemanusiaan tidak pernah mati, mulai dari dulu sampai saat ini (seperti itulah yang dapat saya simpulkan).

“gurindam bukit siguntang” ditutup dengan optimis hari ini. Sejarah adalah bentangan peristiwa masa lalu, dan tidak akan jadi apa-apa pada hari ini, seandainya kita hanya menjunjung masa lalu, tanpa berbuat apa-apa. Diperlukan kreativitas dan penafsiran peristiwa hari ini, sehingga mengenal lebih dekat lagi ‘tubuh’ kita dengan bahan perbandingannya adalah masa lalu.

bukit siguntang dekat pelembang
kutatap dikau dalam sebuah petang
karena memang tak banyak yang dapat kulihat
tak candi atau sembarang bangunan
bukan penyatuan kefanaan dan keabadian
hingga aku begitu bebas membayangkan
tentang kesetiaan dan pengkhiantan

Untuk memperkuat masa lalu sebagai inspirasi melawan keadaan sekarang, penyair mengulang kembali kalimat bait pertama sajak ini di bait terakhir. Ada keyakinan bahwa kita tidak dapat terlepas dari masa lalu. Memang tidak banyak yang dapat kita lihat pada masa lalu, namun demikian bentangan masa lalu tersebut dapat dijadikan bekal untuk mengarifi hari ini. Baris terakhir bait ini menyimpulkan bahwa kebebasan untuk berfikir untuk hari ini sangat diperlukan, sehingga kita terjerumus pada kekalahan yang sama.

“tentang kesetiaan dan pengkhiantan” merupakan penutup yang memberi kebebasan pada kita untuk merangkai menjadi laluan menghadapai masa kini. Kehancuran peradaban selalu dimulai dengan pengkhianatan. Kesetiaan selalu menjadi penyebab ketertindasan. Ini dapat kita sandingkan dengan Hikayat Hang Tuah. Dan apakah hari ini kita perlu untuk berkhianat menghancurkan keadaan atau kita tetap setia memeluk kekalahan dengan menjunjung marwah? Atau memang tidak terjadi apa-apa di negeri ini, sehingga kita harus berdiam saja?

Saya menutup tulisan ini dengan mangatakan bahwa sajak “gurindam bukit siguntang” merupakan tafsiran dari sejarah. Tafsiran ini mengajak kita untuk lebih mengenal ‘tubuh’ kita yang sebenarnya. Maka kita pun berhak menafsirankan sajak ini dengan keinginan yang kita yakinkan, karena sajak adalah spirit untuk menghadapi kehidupan ini.

M. Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas