Menakar Kesetiaan Hayati dan Zainuddin dalam “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Karya Hamka
6 Komentar 5112 pembaca
Poster Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (f. net)

Menakar Kesetiaan Hayati dan Zainuddin dalam “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Karya Hamka

Telaah

Oleh Berlian Novriendi

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan karya sastra yang sangat menarik untuk dikaji. Karya yang ditulis oleh Hamka ini sepertinya ‘tak pudar oleh panas dan tak lekang oleh hujan’, hidup sepanjang zaman. Kisah yang disuguhkan di dalamnya sangat menarik hati masyarakat untuk membacanya sepanjang zaman.

Kisah cinta merupakan kekuatan dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini, sehingga menarik dibaca, sebab cinta akan tetap hidup selagi manusia mendiami jagat raya ini. Dalam karya yang ditulis Hamka tersebut ada kisah cinta antara seorang pemuda yang bernama Zainuddin dengan seorang gadis bernama Hayati. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati tidak mendapat restu dari keluarga Hayati dikarenakan persoalan adat istiadat. Adatistiadat yang dipegang teguh oleh masyarakat Minang Kabau menjadi latar belakang “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka ini.

Ketika kita melihat dari sisi pengarangnya, Hamka, film atau novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka menceritakan atau menggambarkan pemberontakan atau ketidaksuaian yang menurutnya budaya keturunan ibu (matrilinial) yang dianut oleh masyarakat Minang Kabau. Hamka menganggap budaya tersebut tidak tepat karena bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, Hamka yang juga merupakan keturunan Minang Kabau tampak jelas sang pengarang ingin mengkritik adat budayanya sendiri.

Persoalan budaya Minang Kabau dalam karya Hamka tersebut, saya tidak membahasnya lagi dikarenakan saya kurang mengetahui banyak hal juga perihal budaya Minang Kabau tersebut. Untuk itu, pada tulisan ini saya lebih membahas tentang kisah cinta Zanuddin dan Hayati. Zainuddin merupakan pemuda keturunan Bugis berdarah Minang, sedangkan Hayati merupakan gadis keturunan Minang Kabau sejati.

Kisah bermula ketika Zainuddin sudah sampai di kampung halaman ayahnya Batipuh, Padang Panjang. Zainuddin ingin melihat seperti apa kampung halaman ayahnya. Cerita cinta bermula saat Zainuddin ditemani oleh salah satu masyarakat atau orang tua kampung mengeliling kampung tersebut. Di saat mengeliling kampung itu, Zainuddin melihat seorang gadis cantik di atas bendi yang melintasi Zainuddin.

Orang tua yang menamani Zainuddin memperkenalkan gadis yang berada di atas bendi itu bernama Hayati. Di situlah bermula pandangan pertama Zainuddin terhadap Hayati. Kisah tersebut berlanjut sampai Zainuddin mengirimkan surat kepada Hayati dan mengutarakan seluruh perasaannya kepada Hayati.

Setelah lama Zainuddin menempati kampung tersebut, orang-orang atau masyarakat di kampung mulai resah dengan keberadaan Zainuddin yang dikarenakan darah keturunan Zainuddin tidak jelas. Zainuddin diusir oleh Kepala Adat dari kampung tersebut. Ketika Zainuddin hendak meninggalkan kampung, Hayati menghampiri Zainuddin. Di situlah Hayati tampak berat ditinggal oleh Zainuddin. Hayati khawatir akan kepergian Zainuddin pemuda yang baru dia cintai. Pada saat itu, sebelum kepergian Zainuddin, Hayati meluapkan seluruh isi hatinya, bersumpah dan berjanji kepada Zainuddin untuk menjaga cintanya agar tetap utuh dan akan tetap bersih, suci untuk Zainuddin.

Kisah cinta Zainuddin dan Hayati tak berjalan lama, Hayati dilamar oleh seorang pemuda keturunan Minang Kabau yang kaya raya bernama Azis. Ketika itu Hayati dalam kondisi yang sangat amat berat untuk menjawab pertanyaan dari kepala adat. Kepala adat setuju dengan pemuda bernama Azis dibandingkan Zainuddin pemuda yang tak dianggap sebagai orang Minang dan tidak jelas pula asal usulnya.

Ketua adat bersikeras untuk memilih Azis. Dalam musyawarah niniak-mamak, dalam cerita tersebut, Kepala Adat memaksa Hayati untuk mengikuti apa yang dikatakannya. Hayati mengikuti perintah dari Ketua Adat dan Azis pun resmi menjadi suami Hayati.

Sementara Zainuddin pemuda yang dia cintai setulus hati jatuh sakit sehingga jiwa Zainuddin mulai terganggu mendapat kabar Hayati telah dilamar. Semakin hancur hati Zainuddin ketika melihat di jari Hayati telah berinai. Kondisi Zainuddin saat itu sangat buruk sekali. Namun tak berapa lama kemudian Zainuddin kembali pulih dan kembali bersemangat ketika dinasehati oleh Muluk, sahabatnya. Zainuddin merantau ke Batavia dan menjadi seorang penulis yang hebat dan sukses.

Ketika kesuksesan Zainuddin menjadi seorang penulis, di lain sisi, Hayati, seorang gadis yang dulu ia cintai kini dilanda keterpurukan dalam menjalin keluarga bersama Azis dan ingin kembali bersama Zainuddin untuk mengulang kembali kisah cinta lama yang dulu penuh harapan besar. Hati Zainuddin tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak berharap dan kembali lagi bersama Hayati yang tekah berkhianat dan mengingkari sumpah dan janji yang pernah dia katakan.

Jika kita kaji dari sedikit cerita di atas tersebut, siapakah di antara dua tokoh Zainuddin dan Hayati yang benar dan salah?

Jika dipikirkan kembali, Hayati memang telah berkhianat terhadap Zainuddin atas sumpah dan janjinya yang pernah ia ucapkan sebelum Zainuddin meninggalkan kampung. Di sisi lain, kita lihat Hayati memang tidak mungkin berkhianat. Hayati terus memperjuangkan dan mempertahankan cintanya. Namun dalam kondisi yang mendesak, Zainuddin tidak disetujui dan tidak diterima oleh kepalaadat. Hayati dipaksa oleh kepala suku adat di Batipuh untuk mengikuti kesimpulan atau hasil musyawarah yang sudah dibulatkan ninik-mamak. Hasil keputusan kepala adat memilih Azis untuk dijadikan pasangan hidup Hayati.

Hayati tidak dapat berbuat apa-apa. Ia terpaksa mengikuti hasil keputusan ketua adat dan ninik mamak. Pada kondisi atau keadaan keluarga yang dijalin Hayati bersama Azis yang terpuruk lagi pula Hayati telah menjadi seorang janda. Hayati pergi mencari dan menemui Zainuddin untuk kembali bersamanya dan beniat ingin menjalin kisah lama yang pernah mereka jalin. Namun Zainuddin menolak permintaan Hayati untuk bersamanya. Niat baik Hayati untuk kembali ditolak keras oleh Zainuddin. Zainuddin tak sedikit pun menerima kenyataan yang dialami oleh Hayati saat itu yaitu menikah bersama Azis. Padahal di awal kisah Hayati telah berniat untuk bersama Zainuddin dan bersumpah janji untuk tetap bersama. Sedangkan Zainuddin juga mengikuti dan menyetujui niat untuk selalu bersama dan Zainuddin meminta sebuah azimat kepada Hayati, Hayati memberikan selendangnya dan Zainuddin berkata akan mewasiatkan dan meletakkan azimat tersebut di dalam kain kafannya nanti.

Pembahasan di atas sangat tampak niat untuk tetap bersama sampai yang akan datang. Niat merupakan keinginan dalam hati, bersungguh-sungguh atau kesungguhan hati. Apapun masalah yang menghalang baik masalah besar atau masalah kecil niat tetap dipertamakan dan dipertahankan.

Di dalam cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tokoh Zainuddin dan Hayati telah melupakan keinginan atau niat untuk dijalin bersama. Niat sumpah dan janji tetap dipegang utuh oleh Hayati meski pun banyak masalah dan rintangan yang dihadapinya, namun Zainuddin tidak. Ia melupakan dan menghapus itu semua. Seharusnya Zainuddin mengingat itu.

Apalah daya, karena Zainuddin emosi terhadap Hayati, Zainuddin tak sedikit pun membuka hati untuk menerima Hayati kembali. Hayati bukan tidak mencintai Zainuddin, tapi dia dipaksa oleh kehendak orang banyak, yaitu kehendak adat. Seharusnya Zainuddin memahami keadaan yang memaksa Hayati. Bukankah cinta sejati harus rela berkorban dan memahami kekasihnya? Zainuddin tidak memandang hal itu. Jadi dapat saya simpulkan, dari sisi percintaan, Zainuddin-lah yang kurang baik, tidak memahami kedaan Hayati.

Berlian Novriendi adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesa FIB Unilak, semester 3.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 6 Komentar untuk Berita Ini

  1. Berlian Novriendi 06 Januari 2017 - 07:45:32 WIB

    Hayatiiii.. i love youuuuuuu

  2. Berlian Novriendi 06 Januari 2017 - 10:40:48 WIB

    Hayati jgn disalahkan sepenuhnya.. tidak sedikitpun dihati berniat untuk mengkhianati Zainuddin...Hayati menerima lamaran Azis karna cerita tersebut dilatarbelakangi adat minangkabau...Pihak ketua adat tidak menerima lamaran Zainuddin yang dianggap orang yg tak jelas suku dan asal usulnya. Hayati dengan kondisi yg tertekan ia terpaksa mengikuti hasil musyawarah dari ketua adat tersebut yang memilih Azis utk jadi pendamping hidupnya.


  3. Aulya dina 06 Januari 2017 - 16:58:57 WIB

    Hayati lelaah....

  4. nama obat kuat pria paling bagus dan aman 29 Agustus 2018 - 20:47:07 WIB

    terimakasih informasinya http://goo.gl/78XE5J

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas