Potret Lingkungan Hidup Dalam Sastra
1 Komentar 1600 pembaca

Potret Lingkungan Hidup Dalam Sastra

Sorot

Liputan Tim Tanjak

TabloidTanjak.com, PEKANBARU - Karya sastra merupakan cerminan dari kehidupan. Segala peristiwa yang terjadi di muka bumi ini merupakan inspirasi para sastrawan dan lingkungan hidup salah satu sumber inspirasi tersebut. Di Riau, hutan menjadi daya tarik bagi investor menanamkan modalnya di negeri berjuluk Lancang Kuning ini. Sebagai kawasan potensi, hutan di Riau pun mengalami ‘denyut’ luasnya berkurang.

Menurut Ir. Emy Sadjati, M.Si., Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Lancang Kuning, kawasan hutan itu harus ada surat menunjukkan resmi dari pemerintah lingkungan hidup dan kehutanan. Dilihat dari luas daratan yang ada di Riau yaitu 9 Juta Hektar lahan yang ada diriau, 80% terdiri dari hutan gambut, hingga saat ini yang masih ada hutannya tidak sampai 2 juta Hektar. Dari sudut akademisi Riau nyaris tidak punya hutan lagi.

“Kalaupun ada, hutan hanya ada dikawasan-kawasan umum yang ditempati, itu pun tidak lengkap. Contoh, kita punya 3 taman nasional seperti Taman bukit tiga puluh, Taman Nasional Zamrud dan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Kasim. Jika dipertanyakan seberapa lama lagi hutan yang ada di Riau akan bertahan, itu seberapa kuat kita sanggup memberikan pencerahan edukatif kepada orang banyak agar hutan yang ada di Riau tetap bertahan,” jelas Emy Sadjati, ketika diwawancara Tim Tanjak.

Karya Sastra Penyeimbang

“Prinsip sastrawan menjaga keseimbangan,” ujar Syaukani Al Karim, sastrawan Riau, membuka cerita kepada Tanjak.

Para sastrawan itu, kata Syaukani, punya satu tujuan akhir sebagaimana segala sesuatu itu berjalan dalam sebuah garis kemuliaan. Keseimbangan-keseimbangan yang di jaga oleh sastrawan itu ada hubungnnya juga dengan lingkungan.

“Bagi sastrawan lingkungan itu merupakan salah satu sumber mata air imajinasi. Kita dapat melihat dalam beberapa sajak karya cerpen, menjadikan lingkungan sebagai tema sentral. Begitu juga dengan metafora-metafora yang di gunakan para penyair misalnya, menjadikan alam dan lingkungan sebagai integral dari dunia tulisan. Kita melihat dari beberapa penyair itu menggunakan laut, hutan, gunung sebagai sumber inspirasi. Dan mereka membancuh semuakehidupan lingkungan itu menjadi sebuah karya yang baik dalam sebuah karya yang dapat memberikan pesan kepada pembacanya,” ucap Syaukani.

Syaukani menjaelaskan, beberapa karya sastra yang dihasilkan, menggunakan lingkungan hidup sebagai metafora. Misalnya sajak Nyanyian Melati yaitu sajak romantisnya menggunakan tumbuh-tumbuhan dan laut sebagai sumber inspirasi.

“Para sastrawan juga merupakan pencatat sejarah. Dalam rangka menggugah hati pembaca karya sastra, sastrawan menggambarkan kehidupan alam sekitar secara lain sehingga orang yang membaca atau masyarakat yang menerima pesan memandang bahwa dunia lingkungan hidup itu merupakan dunia yang sakral,” jelas Syaukani.

Ditambahkan Syaukani, sastrawan itu haruslah seseorang yang peduli dengan lingkungan karena tugas dari para sastrawaa itu menjaga semua keseimbangan, dan alam satu bagian dari berkarya. “Ada sejumlah karya tulis misalnya yang mengangkat tentang tema-tema lingkungan hidup, misalnya ada beberapa karya cerpenis Riau yang menulis tentang hutan. Misalnya saya juga pernah menulis sebuah cerpen yang berjudul Lelak yang Terakhir, yang dijadikan sampul buku oleh penerbit, sebagaimana sikap yang dilakukan terhadap pengemasan lingkungan hutan dan tanah. Jadi suara-suara tentang lingkungan, tentang macam-macam hutan dan pertahanan lingkungan ini menjadi bagian yang selalu bersetara,” jelas Syaukani.

Di ‘tangan’ sastrawan, kata Syaukani, lingkungnan hidup juga harus diterjemahkan secara sangat luas. Masyarakat adalah merupakan sebuah lingkungan sosial. Hampir dari semua penulis Riau itu bercerita tentang lingkungan sosial di mana mereka hidup di dalamnya. Syaukani mencontohkan sastrawan Riau Ediruslan Pe Amanriza, pernah menulis tentang Nyanyian Wang Kang, karya ini menceritakan tentang lingkungan sosial, tentang orang-orang suku Tionghoa yang kemudian menjadi bagian dari lingkungan sosial masyarakat Rokan Hilir.

Syaukani Alkarim juga pernah menulis sajak tentang Rupat pada tahun 1997. Syaukani menulis tentang bagaimana orang-orang Akit yang ada di Rupat itu menjadi bagian yang terimajinalkan bagian yang terpinggirkan dalam upaya negara, contohnya seperti pembangunan jembatan dari Malaka ke Rupat, tapi rencana pembangunan yang semacam itu merusak lingkungan dan membuat orang-orang yang berada di sekitar itu yang tidak memiliki kemampuan yang dapat mengambil bagian di dalam proses pembangunan itu, dan sastrawan menyuarakannya.

Syaukani juga mengatakan bahwa ada bedanya antara sajak (karya sastra) dengan imbauan. Ketika sastrawan menulis tentang lingkungan hidup, ketika menulis tentang pohon-pohon dan menulis tentang laut, sastrawan menceritakan pohon-pohon sebagaimana adanya, dan sastrawan tidak menceritakan laut sebagaimana adanya.

“Contohnya seperti di dalam sajak Idrus Tintin yang menceritakan tentang pohon-pohon dan laut yang tidak sebagaimana adanya. Dan contohnya pada sajak saya yang menceritakan tentang mawar, mungkin dia menceritakan tentang kemenawanan dan menceritakan sesuatu yang dari hati, tapi saya juga bisa menggambarkannya sebagai duri. Jadi melukiskan lingkungan di dalam karya sastra tidak dalam lingkungan apa adanya, bagaimana lingkungan itu menjadi sesuatu yang indah di dalam tulisan kita. Dan kalau imbauan misalnya “Selamatkan Hutan”. Tapi sastrawan tidak akan berbicara seperti itu, contohnya sajak saya yang berjudul Senandungkan Tanah Impian -aku terkenang mimpi-mimpimu dalam istana kecil dengan taman bunga yang indah di kampung halaman kita-, ketika saya berbicara tentang bait pertama itu saya menceritakan tentang lingkungan kampung yang masih asri. Jadi kita menggambarkan lingkungan itu dengan nada-nada yang romantik, yang enak didengar. Namun situasi yang ada di sana juga tergambarkan dengan sangat baik. Sajak-sajak saya ini memang banyak yang menggunakan kata-kata yang romantik dengan lingkungan sebagai metaforanya,” pungkas Syaukani Al Karim.

Sementara itu, Jefri Al Malay, sastrawan muda Riau yang juga dosen FIB Unilak menjelaskan karya sastra di Riau yang menyangkut tema tentang lingkungan hidup sudah ada sebelumnya dan sudah jelas sekali menyangkut masalah lingkungan. Bahkan kata Jefri Al Malay, penulis- penulis sebelumnya, kemudian di tegaskan oleh UU Hamidy membuat sebuah mazhab, yang disebut Mahzab Riau yang dimaknai sebagai karya-karya sastra yang berbicara tentang lingkungan. Misalnya, kata Jefri, kerusakan hutan, mengambil kekayaan alam dan eksploitasi sumber daya alam yang luar biasa yang mengakibatkan tidak seimbangnya ekosistem dan rata-rata penulis Riau spiritnya adalah memotret atau menggambil peristiwa-peristiwa yang ada di lingkungan.


Jefri juga mengatakan banyak sekali sastrawan-sastrawan Riau yang mengakat tema lingkungan di karya mereka seperti Taufik Ikram Jamil, Edi Ruslan, Hang Kafrawi, Marhalan Zaini, Fakhrunas Ma Jabbar. Bahkan kata Jefri, sastrawan senior Riau seperti Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Ediruslan Pe Amanriza, sampai ke penulis-penulis baru serperti M.Badri juga mengangkat tema lingkungan hidup. Hal ini, sebut Jefri, disebabkan Riau ini sumber daya alamnya kaya sekali. Tentu kenyataan ini menjadi padang pemburuan, seperti istilah UU Hamidy.

“Padang pemburuan itu artinya akan banyak sekali yang memanfaatkan kekayaan alam tanpa memikirkan keseimbangan ekosistem, sehingga yang dipotret oleh para sastrawan sudah jelas ke sana. Karya sastra yang baik itu karya sastra yang mampu memotret kehidupan sosial yang terjadi dan saya rasa sastrawan Riau sadar akan hal itu,” jelas Jefri Al Malay.

Tidak jauh berbeda dengan Syaukani dan Jefri Al Malay, Drs. Rosman, M.Hum, dosen FIB Unilak menjelaskan bahwa sastrawan ketika melihat lingkungan hidup maka yang ditulis dalam karyanya itu adalah bentuk simbolik dengan menampilkan tokoh-tokoh yang hidup di dalam dunia maya imajinatif pengarang. Ketika karya itu lahir maka karya itu menjadi isyarat bagi para pembacanya. Pesan yang dapat ditangkap oleh pembaca karya sastra yang bertemakan lingkungan hidup secara simbolis.

Rosman mencotohkan puisi Kunni Masrohanti. Menurut Rosman, puisi-puisi Kunni banyak bercerita tentang lingkungan Hidup. “Hutan ditebang, lahan yang direbut oleh perusahaan. Jadi sastrawan melihat kondisi ini dan menuangkan idenya dalam bentuk tulisan sebagai penyampaian isyarat kepada pembaca,” ucap Rosman.

Rosman menambahkan jika dikaitkan dengan teori sastra, peradaban Melayu berawal dari tepi sungai. Tokoh Bondan dalam novel Panggil Aku Sakai, karya Ediruslan, hidup di sampan atau nelayan, kebiasaan mereka atau tokoh itu berarti berbicara tentang antopologi. Kemudian pengarang berbicara tentang peradaban rumah masyarakat yang ada disana, ruang tamu, tempat tidur dan semuanya itu berada di dekat sampan. Tokoh Bondan merasakan seperti itu ketika dari sisi mata pencahariannya, pekerjaan atau mata pencaharian para nelayan seperti memasang lukah untuk menjerat ikan. Tokoh Bondan ingin mempertahankan mata pencaharian itu. Itulah yang di maksud dengan ilmu antopologi.

Sementara itu, kata Rosman, ketika bicara tentang teori terbaru sekarang, misalnya tokoh Aku dalam Hempasan Gelombang karya Taufik Ikram Jamil, sebagai wartawan, tokoh aku tersebut menuliskan perilaku-perilaku masyarakat, peristiwa-peristiwa yang ada di masyarakat, yang disampaikan pada masyarakat/publik pembaca semuanya mengetahui itu. Pekerjaan sebagai wartawan mengabarkan berbagai hal termasuk masalah lingkungan hidup, baik kerusakan linglkungan maupun peristiwa dibalik perusakan tersebut.

“Jadi ada tingkat ruang pemisah antara dua titik. Titik satu dia bertahan untuk menyampaikan inspirasi. Titik kedua ingin supaya perusakan lingkungan hidup tidak terjadi. Dalam Hempasan Gelombang karya Taufik Ikram Jamil itu secara tidak lansgung bercerita tentang lingkungan hidup,” ujar Rosman.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas