PASTAKOM; Upaya Menuju Pentas Dunia
2 Komentar 861 pembaca
Salah satu pergelaran seni di Pastakom

PASTAKOM; Upaya Menuju Pentas Dunia

Lapsus

Laporan Rairatul Tasbiah

TabloidTanjak.com, PEKANBARU - Perkembangan dunia tari dewasa ini semakin marak, semua ini ditandai dengan adanya berbagai negara yang telah menyelenggarakan festival tari baik tingkat nasional maupun tingkat internasional. Jika ditinjau dari segi gaya serta coraknya cukup membuat dunia tari semakin hidup, seolah-olah tidak akan pernah mati. Dimulai dari festival tari rakyat, tari klasik, dan tari modern sampai ke tari kontemporer yang saat ini tumbuh dan berkembang. Kegiatan seperti ini merupakan kesempatan emas bagi para penari, koreografer, kritikus, dan penulis guna untuk memacu kreatifitas mereka dan sampai pada manajemen kesenian itu sendiri.

Apa itu tari kontemporer?

Tari kontemporer merupakan inovasi dari berbagai macam tarian yang mendapatkan sentuhan modernisasi. Inovasi yang lazim dilakukan pada jenis tari ini terdapat pada musik pengiring, gerakan, dan properti yang digunakan oleh para penari.

Ada pula yang berpendapat bahwa tari kontemporer merupakan tarian yang dipadukan dari berbagai jenis tarian terutama tarian tradisional dan t arian modern.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat kita lihat bahwa kemunculan tari modern ini menjadi warna baru dunia hiburan khususnya kesenian dalam berkreasi gerak berirama. Tarian ini juga bisa membuktikan bahwa para seniman senantiasa melakukan usaha dalam mengembangkan hasil keseniannya terutama para seniman tari.

Pemunculan even t tari kontemporer itu bisa kita lihat di daerah-daerah seperti; Sumatra Barat, Sumatra utara, Jambi dan Riau. Riau dengan tajuk Pasar Tari Kontemporer (PASTAKOM) yang digagas oleh Pusat Pelatihan Tari Laksemana pimpinan SPN Iwan Irawan Permadi.

Pada tanggal 11 November 2016 sampai tanggal 15 November 2016, digelar perhelatan PASTAKOM ke VIII yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau yang bekerja sama dengan PLT Laksemana. Sekitar 20 seniman dari Riau dan Provinsi lain yang akan membentangkan karya mereka di Anjung Seni Idrus Tintin.

Malam pertama ada 4 penampilan karya tari. Yang pertama Epi Marison dari Jakarta, Joni Andra dari Padang, Syaf Manef Alamanda dari Pekanbaru, dan Eri Mefri dari Padang.

“Sembilan Perjanjian darah” Integra Dance Compeny Padang Sumatra Barat.
Penampilan kedua dimalam pertama Pasar Tari Kontemporer di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru Riau menampilkan tari kontemporer Integra Dance Company Padang Sumatra Barat. Kelompok tari pimpinan produksi Joni Andra memanggungkan tari yang berjudul “Sembilan Perjanjian darah”.

Tarian ini menceritakan tentang janji pada kehidupan. Kehidupan yang hadir tanpa diinginkan, berpikir tentang luka dimasa lalu dari dilema hikmah, iptek, oportunity, terapi, diskriminasi, depresi, kematian yang tegak lurus dengan garis rasa iri, cinta, khianat, tipuan, egoisme, amarah, prasangka buruk, semua itu harus menjadi sesuatu yang dihadapi atau dilewati yang pada a khirnya rasa peduli itu berubah menjadi rasa keangkuhan.

Cara yang di tempuh Joni ini cukup memikat para penikmatnya. Pasalnya tarian-tarian yang dibawakan oleh kawan-kawan dari Padang cukup menghibur. Koreografer yang di ciptakan Joni ini memiliki keunikannya tersendiri seperti menggunakan properti yang sederhana dan kostum yang simple.

Penataan musik oleh Muhammad Panji Maulana dkk, bagus dan tak monoton. Musik dan tarian yang seimbang membuat penampilan Integra Dance Company Padang menjadi lebih hidup, para penikmat cukup paham dengan jalan cerita dan pesan yang di sampaikan dalam penampilan tersebut.

“Waktu Lawan” Teater Matan Pekanbaru Riau

Penampilan akhir dimalam ketiga Pasar Tari Kontemporer di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru Riau menampilkan tari kontemporer ala Teater Matan Pekanbaru Riau. Kelompok tari pimpinan produksi Monda Gianes dan Jefri Al-Malay memanggungkan tari yang berjudul “Waktu Lawan”.

Tarian ini menceritakan tentang kondisi minyak dan hutan di Riau. Hutan pada tahun 1982 tutupan hutan alam di Provinsi Riau masih mencapai 78% atau sekitar 6.415.656,00 hektar dari luas daratan Provinsi Riau 8.225.199,00 hektar atau seluas 9,2 jt hektar. Namun sekarang, minyak bumi dan hutan di Riau terus makin berkurang menuju kepunahranaan walaupun kekayaan alam Riau melimpah nampaknya tak mampu mensejahterakan masyarakatnya, malahan sebaliknya orang Riau di buat sengs ara oleh kekayaan alam yang dimilikinya, jerebu asap salah satu contohnya setiap tahun menyerang Riau kesuburan tanah berkurang, kebun dah terjual nak ke laut ikan-ikanpun menghilang. Kesengsaraan orang-orang Riau semakin menjadi-jadi, terutama yang mendiami kampung-kampung. Dari kenyataan inilah Waktu Lawan terinspirasi.

Dengan para pelakon Riki Pranata, Jamaludin, D.M Ningsih, Eric Junior, Musaweer, M Nazril, Randi Mandala Putra, Febri N dan Dina. Penata artistik Dedi Afriyadi. Produser Monda Jianes dan Jefri Al-Malay. Konsultan musik Zalfandri Zainal. Konsultan gerak Desrikal. Dokumentasi Khairi dan Andilangau. Produksi Teater Matan Pekanbaru Riau. Karya dan sutradara Hang Kafrawi.

Penampilan tari kontemporer ala Matan ini membuat versi yang khas dengan ciri mereka yang menonjol. Kesempurnaan susunan struktural yang ditata dengan sedemikian rapinya membuat penampilan Matan pada malam itu berkesan dan menghibur para penikmatnya. Kekhasan Matan yang dibawakkan mampu menghipnotis para penonton.

Cara yang di tempuh Kafrawi selaku sutradara dalam menampilkan karyanya sangat memukau, pada awalnya memang dibuat bingung namun Kafrawi membuat kejutan yang tak disangka-sangka oleh penonton. Seperti pemain yang ditampilkan satu lalu diikuti dengan pemain lainnya, dan adanya unsur hiburan yang terselip dijalan cerita. Bahasa yang digunakan ialah yang biasa kita dengar sehari-hari, sederhana namun memiliki arti yang kuat.

Nenek, kakek, orang tua, semua kita memiliki mereka, tapi kita jarang juga melupakan mereka, mereka adalah orang-orang yang luar biasa yang berpengaruh dalam hidup kita hingga kita bisa seperti sekaang ini. Dalam perjalanan hidup banyak hal yag perlu kita perhatikan diantaranya , jaga pandangan, jaga ucapan, dan juga jaga tingkah laku. Ini merupakan rentang yang pernah disampaikannya kepada saya. Oh. Rindu mereka. Mereka adalah sukma kehidupan. Koreografer Syaf Manef Alamanda, penata musik Niko nadian, dan Randi. Produksi lenting dance Riau. Pimpinan produksi Syaf Manef Alamanda. Dengan Judul “Igau”.

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas