Tinjau Ulang Buku “Antologi Sastra Melayu Riau, Bukan Batang Terendam"
2 Komentar 2145 pembaca

Tinjau Ulang Buku “Antologi Sastra Melayu Riau, Bukan Batang Terendam"

Telaah

TabloidTanjak.com, PEKANBARU – Ada pertanyaan besar ketika membaca buku “Bukan Batang Terendam, Antologi Sastra Melayu Riau" yang diterbitkan oleh UPT Museum dan Taman Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau tahun 2016. Pelaksana Kegiatan terbitnya buku ini adalah M. Nasir Peyalai (PNS Taman Budaya Riau). Al Azhar dan Mosthamir Thalib dipercaya sebagai Kurator. Sedangkan selaku Editor dimandatkan kepada Marhalim Zaini.

Adapun halaman permulaan buku ini adalah Pantun Jual Beli oleh M. Nasir Penyalai. Setelah menelisik dan mencermati pantun ini, terbesit beberapa pertanyaan dan kegundahan di hati. Apakah memang seperti ini pantun jual beli yang dipunyai Melayu Riau? Apakah sebegitu rendahnya kualitas Melayu Riau dalam dunia sastra khususnya pantun?

Pertanyaan ini bukanlah tanpa dasar yang jelas. Kita tahu bahwa Melayu Riau adalah salah satu penyumbang kosakata dominan dalam tatanan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu Riau.  Dengan demikian jelas sudah bahwa kosakata Melayu Riau adalah salah satu yang terbaik dari banyak kosakata di negara ini. Jadi dimana hubungannya dengan pantun Jual Beli dalam Antologi puisi ini?

Hubungannya adalah di dalam pantun “Jual Beli” ini seakan menunjukkan bahwa Melayu Riau seolah-olah kekurangan kata untuk menghasilkan sebuah pantun bermakna dan berkualitas. Ini dapat dibuktikan dalam pantun Tukang Hasut jual 3 yang bunyinya:

Tanah busut tempat berkuda

Kuda lari berbelang jingga

Tukang hasut pengadu domba

Lebih kejam dari domba  (hal. 23)

 

Sampiran dalam pantun ini tidak masuk akal. Tanah busut yang diketahui bersama merupakan hamparan tanah yang berbonggol-bonggol berada di pinggiran daerah laut. Di tanah busut ini juga tidak pernah dijadikan tempat berkuda. Seharusnya seorang pencipta karya sastra  seperti pantun ini mimikirkan betul logika bahasa, bukan hanya berpikir pada bunyi.

Pada isi pantun yang dikutip di atas, baris kedua, terlihat betul tidak pahamnya M. Nasir Penyalai. Pemaksaan untuk mendapatkan persamaan bunyi menjadikan pantun ini terasa sangat tidak masuk akal. Coba dibaca kembali baris kedua isi pantun tersebut, seperti apakah kejamnya domba? Waw... seliar-liarnya imajinasi masih tetap mempertahankan logika bahasa, apalagi bangsa Melayu, sebab bahasa melambangkan kualitas suatu bangsa.

Baca pula pantun di bawah ini:  

Kalau hendak menjemur belacan

Jemurlah belacan di atas busut

Kalau hendak mencari kawan

Hindari jauh si tukang hasut (hal. 23)

Bayangkanlah belacan yang dijemur di atas busut, dan itu tidak memungkinkan. Jangankan hendak menciptakan keindahan bahasa, membayangkan saja belacan di atas busut memunculkan keanehan yang nyata. M. Nasir hanya mementingkan bunyi, dan mengabaikan logika bahasa.  

Selanjutnya baca pula yang ini:

Padang bola tempat berlatih

Berlatih bola di waktu pagi

Tukang hasut mulut berbuih

Tidak pernah menggosok gigi (hal.23)

10 halaman pantun yang diciptakan oleh M. Nasir dalam buku ini, kebanyakan seperti dikutip dalam tulisan ini. Entah apa pertimbangan sehingga pantun yang diciptakan M. Nasir masuk dalam “Bukan Batang Terendam, Antologi Sastra Melayu Riau". Seandainya buku ini berada di tangan pelajar di Riau, tentu akan menyesatkan generasi muda Riau dalam memahami pantun.

Agar tidak menjadi polemik berkepanjangan, seharusnya pihak yang menerbitkan buku ini merevisi atau tidak menyebarkan buku ini ke masyarakat.

Husaini Jamhur adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak semester 3  

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. Setjangkir Berlian 23 Desember 2016 - 21:39:00 WIB

    Astaghfirullah....SANGAT FATAL... Buku itu harus di revisi...kalau tidak, penulisnya di revisi

  2. Ray Teuk 24 Desember 2016 - 12:29:23 WIB

    Pantun ini lebih cocok untuk pantun humor atau hiburan semata. Sebagai seorang penyair sekaligus editor dari buku Antologi Sastra Melayu Riau, Bukan Batang Terendam., dapat menyeleksi karya yang dibuat apakah layak dan ditempatkan di posisi yang layak pula, bukankah semua itu di sesuaikan dengan karya tersebut. Pantun jual beli oleh M. Nasir menurut sayapun tak layak di cantumkan ke dalam buku Antalogi Sasrta Melayu Riau, jika buku ini di sebar luaskan dan dibaca oleh masyarakat yang tidak begitu tahu tentang sastra maka akan dapat menyesatkan mereka.
    Kemanalah nak dihala bumi melayu kita ini.
    Satu pertanyaan yang memburu benak saya, yaitu ; apakah ada kongkalingkong diantara mereka??!!

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas