Melancong ke Tumasik
1 Komentar 998 pembaca
Ilustrasi (f. net)

Melancong ke Tumasik

Humor

Dulu nama Singapura adalah Tumasik. Tapi konon pulau Tumasik itu mirip dengan Raja Rimba, Singa, maka pulau itupun dinamakan Singapura. Enah iya entah tidak. Ada juga cerita rakyat yang menjelaskan bahwa ketika Raja Bentan berlayar ke pulau Tumasik, dia berjumpa seekor singa. Untuk membenarkan apa yang ia lihat, Raja Bentan pun naik ke darat dan berusaha mencari singa tersebut. Walau pun seluruh pulau yang tidak seberapa besar dijelajah, singa itu tetap tak berjumpa. Karena itu Raja Bentan pun mengatakan bahwa di pulau ini terdapat Singa pura-pura. Untuk melanjutkan ceritanya terserah Anda.

Terlepas dari cerita di atas, Singapura sudah menjadi negara yang maju. Walaupun demikian orang Riau tetap menganggap Singapura adalah bagian dari mereka, dan itu dibuktikan oleh Yong Dollah yang sudah beberapa kali ke Singapura. Sebagian dari pengalamannya di Singapura diceritakannya kepada penulis, dan penulis menceritakan pula kepada pembaca semua. Mau tahu? Simak baik-baik percakapan ini:

Kabarnya Yong selalu ke Singapura, bagaimana tanggapan Yong melihat Singapura sekarang?

Aduhmak! Singapura kenen ni melecit majunyo. Macam jung ditarik sepuluh orang.
Yong selalu ke Singapura?

Selalulah. Sinagpor tu macam tempat Yong berulang berak.

Ketika Yong ke Singapura, ada atau tidak cerita yang menarik, Yong?

Banyak cerito menarik tu. Tapi Yong cerito yang penting-penting sajolah, sebab kalau Yong ceritakan semuonyo, tak tertapung oleh miko. Baiklah dengo yo:
Awal Yong pegi ke Singapura tu, karena Yong selalu mendengo cito saudara-saudara kito yang berado di sano. Ini disebabkan jarak Singapura dengan daerah kito ni tak begitu jauh. Kentut kito di sini orang Singapura dengo, begitu jugo sebaliknyo.

Mendengo saudaro kito maju di Singapura, terniat di hati Yong nak pegi ke negara tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Yong pun menumpang sampan Cik Amat, nelayan yang tinggal di Pedekik.

Pukul limo Subuh, sesudah sholat, kami pun bertolak dari pelebuhan Bengkalis. Agar tidak muak di atas sampan Yong pun mengail. Sedang asyiknyo Yong mengail, tibo-tibo datang sekelompok lebah hinggap di ketiakYong sebelah kanan yang sedang memegang tali kail.

Yong apakan lebah tu?

Yong diam sajo, sebab Yong bergerak sedikit ajo, mako lebah itu tanpa ampun akan membelasah Yong. Makin lamo makin banyak lebah hinggap di ketiak Yong. Bukan main berat rasonyo. Untung lebah tu punyo sengat, kalau tidak entahlah.

Lalu apa yang terjadi, Yong?

Yong tak ingat lagi do. Tapi ketiko lebah itu pegi, di ketiak Yong tergantung madu, bukan main banyak.

Jadi Yong apakan madu lebah tu?

Yong teringat bahwa bini Yong lupo bekalkan Yung air minum. Jadi apo lagi, sarang lebah yang ado di ketiak itu Yong perah, dan madunyo Yong minum, dan lebihnyo Yong masukkan ke dalam botol air cap badak untuk Yong jual ke Singapor.

Setelah ketiak Yong tak ado lagi madu lebah, Yong pun meneruskan mengail. Tak lamo kemudian kail Yong pun disentap. Yong pun tak tinggal diam, dan segera menarik tali kail Yong ke atas bersamo ikan tu. Tibo-tibo hujan renyai panas pun turun, pas pulak matahari tercacak di atas kelapo. Hujan panas ditambah di tengah laut, memang pemantang nenek moyang kito tu. Sebab kito bisa demam dibuatnyo.

Jadi apa yang Yong lakukan?

Yong tak habis akal do. Yong ambil sisik ikan yang Yong dapat tadi tu, dan Yong jadikan payung untuk berlindung kami berduo. Tak lamo setelah itu, kami pun sampai di Singapura. Sampai di Singapura, Amat, Yong suruh balik. Yong pesanlah agar Amat berhati-hati, dan jangan cubo-cubo nak mencari kerjo pulak.

Apa yang Yong lakukan sendirian di Singapura tu?

Tak ado do. Cumo jalan-jalan, membelanjokan duit hasil dari Yong menoreh getah. Yong terus sajo berjalan ke tengah kota Singapura. Mak, mak….Yong terkagum melihat bangunan tinggi-tinggi. Yong tak sangko do, tempat Yong menanam ubi dulu tu, sekarang menjadi kota beso.

Sedang asyiknyo Yong menikmati kota Singapura, Yong ternampak sebuah tulisan OPEN di sebuah bangunan beso. Dalam hati Yong berkata, “Beso betul tempat masak kue di Singapura ni yo, sebeso mano pulaklah kuenye ye?”

Setelah Yong bercakap dalam hati, tibo-tibo ado orang kulit putih mau masuk ke dalam OPEN tu. Tentu Yong larang, Yong cakap samo orang kulit putih tu, “Hei, engkau jangan masuk ke dalam tempat masak kue tu, nanti badan engkau bisa hangus.” Tapi orang kulit putih tu tidak peduli, dia terus masuk, Yong tengok dari jauh, sekajap lepas tu keluar orang berkulit hitam. Dalam hati Yong bercakap, “pastilah orang kulit putih tadi ni, hangus badan dio dah.”

Yong dekati orang itu, Yong cakap padonyo, “itulah mengapo engkau tak mendengo cakap Yong, kan hangus badan dikau dah.”

Orang tu tak peduli dengan cakap Yong, terus sajo dio berjalan meninggalkan Yong sendiri. Yong bersungut-sungut.

Tiba-tiba pintu OPEN itu terbuka kembali. Yong tengok orang kulit putih tadi keluar. Yong tepano apo sebabnyo. Yong tak habis pikir. Yong tanyo pado budak Melayu yang ada dekat situ. “Apo benda open tu, tempat masak kue kah?”

Budak Melayu tu menjawab, “itu bukan tempat masak kue do, inilah hotel terbeso di Singapura, dan tempat orang keluar yang bertuliskan OPEN itu artinya pintu itu boleh dibuka,” jawab budak itu sambil tersenyum.

Mendengo tu Yong malu sendiri. Yong kenang-kenang kisah tu, malu pula ghasonyo. Segan pulak Yong.

Cerita ini diolah kembali oleh Hang Kafrawi

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. ray 06 Januari 2017 - 09:56:58 WIB

    garing. krik krik krik krik!!

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas