Ketika Penyair Membunuh Sajak
0 Komentar 1010 pembaca
Ilustrasi (g. net)

Ketika Penyair Membunuh Sajak

Ragam

Kita pun hendak menumpah segala resah di hamparan kisah. Segala kekaguman mendesak sukma yang hadir dari pengalaman meneroka hidup, tak terbendung lagi mengerucut membentuk kata-kata. Persetubuhan antara jiwa dan pikiran berdentum, bergetar, bergelombang mengumah kata-kata jadi sajak. Sajak yang merupakan virus individu sang penukang kata-kata (penyair) menyebar ke ceruk-ceruk hati pembaca (masyarakat). Sajak pun jadi perahu, ketika sajak dilepaskan di tengah pembaca, setiap pembaca berhak melayari perahu sajak menuju pelabuhan-pelabuhan pengalaman pembaca pula. Perahu sajak tidak lagi milik penyair semata, pembaca mengokah, menebuk, membokat, menempel agar perahu sajak mereka kenali. Kan ada ungkapan; tak kenal maka tak sayang?

Men-ziarahi ke pulau sastra Riau masa kini, boleh juga Indonesia, mata terbelalak menyaksikan perahu-perahu sajak terdampar dan berlumut di pelabuhan sunyi penyair. Masyarakat (pembaca) tak terpikat melayari perahu tersebut. Pembaca tak mau mengambil resiko terkurung dalam fantasi-fantasi individu penyair yang hanya memikirkan pengalaman sempit dan problem sepele. Masalah putus cinta, kerisauan akan karya sastra dan kekaguman pada seseseorang, itulah wajah sajak kita. Pembaca (masyarakat) juga mau melihat wajah mereka dalam perahu sajak, yang mereka harap dapat membuahkan kesadaran bagi mereka dalam melayarinya, bukan menambah kusut otak dengan masalah pribadi penyair.

Penyair bukanlah nabi pembawa wahyu dan penyair bukan raja menitahkan sesuatu dan juga penyair bukanlah ulama yang pembuat fatwa. Penyair nahoda sekaligus ABK bagi pembaca. Pembaca memiliki kepentingan untuk kesadaran sekaligus kebahgiaan setelah”berlayar” dengan menggunakan perahu sajak. Pembaca tak ingin jadi orang asing. Mereka ingin diri mereka diikutsertakan. Untuk itulah penyair dituntut memiliki kesadaran kolektif tentang peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat.

Bentangan peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat masa kini merupakan bahan mentah bagi penyair untuk diolah, diramu, dikukus dengan nilai-nilai estetis menjadi santapan rohani yang akan berbuah kesadaran bagi pembaca. Kan penyair membuat sajak untuk dibaca oleh orang banyak? Bukan zamanya penyair membawa kepedihan diri sendiri karena putus cinta, gelisah akan nasib sastra, memuja tokoh-tokoh penting yang tidak pernah berbuat untuk masyarakat. Penyair melalui syairnya mengabarkan dentuman yang datang dari jeritan masyarakat dan menghasilkan perubahan untuk masyarakat.

Di tengah individualime menyelinap di setiap denyut nadi zaman kini, kegelapan pun menyelubungi nilai-nilai kemanusiaan. Manusia kehilangan cahaya tentang pentingnya arti kebersamaan, kasih sayang, toleransi, rasa iba, tolong menolong. Manusia masa kini menjelma seperti gunung dan merasa memiliki kekuatan lebih tanpa menghiraukan perasaan manusia lainnya. Terbentuklah masyarakat yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan membuat sekat-sekat; yang tidak menguntungkan, tidak perlu dibangun hubungan harmonis. Dan puisi...

Nyawa Puisi
Kita pun akhir-akhir ini dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa persekongkolan “pembunuh hati nurani” demi kepentingan pribadi. Negeri ini rupanya menyimpan kebusukan-kebusukan yang disebabkan menyanjung individual dan materialistis berlebihan. Kedaan ini bertambah memilukan hati. Lembaga-lembaga pengayum masyarakat beralih fungsi, bukan lagi lembaga melindung masyarakat, tetapi tempat berlindung para penjahat. Lembaga diciptakan untuk mensejahterakan rakyat, berputar haluan secara tidak langsung menyengsarakan rakyat.

Di sisi lain; kemiskinan, kemelaratan, penindasan, kebencian semakin subur tumbuh di negeri ini. Di negeri ini seakan tidak ada tempat lagi untuk menghirup wewangian persaudaraan, menyedu kasih, memahat iba, semuanya berhadapan dengan kebencian. Keikhlasan seperti barang tak berharga dibuang ke lubuk sunyi, pengap dan gelap.

Kesenjangan melebar sampai ke ceruk-ceruk daerah. Di Riau, katanya kaya, juga berhadapan dengan kemelaratan yang tak kunjung usai. Masyarakat kampung di Riau, setiap saat melawan kehidupan yang semakin keras. Menjaga kampung dari terjangan gelombang menyebabkan abrasi yang akan menghilangkan kampung mereka. Memelihara keluarga dari serangan binatang buas yang kehilangan tempat tinggal. Ditambah lagi eksploitasi minyak bumi, hutan dan kekayaan alam lainnya, tanpa kompensasi yang jelas, malahan senantiasa rugi. Riau seperti bungkahan mutiara sekepal buku tinju, berkilau dipandang dari luar, tapi di dalamnya keropos.

Realitas inilah sebenarnya yang harus dipunggah dan disulam menjadi ‘nyawa’ puisi. Hidup yang dibawa puisi adalah kehidupan bagi orang banyak untuk mengenal keadaannya. Kehadiran puisi adalah mendedahkan segala duka masyarakatnya, menjadi kekuatan untuk melawan dan bertahan. Mari kita renungkan... (AR)

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas