Membangun Citra Riau Melalui Karya Sastra
5 Komentar 1074 pembaca

Membangun Citra Riau Melalui Karya Sastra

Sorot

TabloidTanjak.com - Karya sastra merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat dimana karya sastra itu dilahirkan atau diciptakan. Dalam teori memesis. Plato (Filsof Yunani) menjelaskan bahwa para sastrawan dalam menghasilkan karyanya berangkat dari kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat. Peniruan dari apa yang dilihat dan dirasakan. Inilah karya sastra itu dihasilkan.

Di Indonesia karya sastra sudah hadir sejak lama, dari masyarakat premitif (sastra lisan) sampai zaman modern (masa kini/sastra tulisan) terus dihasilkan. Dari karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang Indonesia mewakili masyarakat di zamannya. Priode Balai Pustaka karya sastra yang dihasilkan memperkokohkan adat istiadat. Poejangga mencoba merangkai ‘gugatan’ terhadap adat istiadat. Sementara karya-karya sastra yang dihasilkan pada tahun 40-an, semangat perjuangan melawan penjajahan terlihat jelas dalam karya-karya priode ini..

Begitulah, karya sastra tidak bisa dipisahkan dari masyarakat, sebab para sastrawan yang menghasilkan karya tersebut adalah masyarakat itu sendiri.  Di Riau, karya sastra menjadi kekuatan dalam mengabarkan tingkah-pola kehidupan masyarakat daerah ini. Karya sastra Riau seperti menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya.

Terkait karya sastra Riau ini, Dr. Junaidi, S.S., M.Hum, Wakil Rektor I yang juga dosen Sastra Inggris  FIB Unilak menjelaskan bahwa   sastra di Riau mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ini ditandai dengan banyaknya lahir ‘wajah-wajah’ baru yang menghasilkan karya-karya kreatif dan produktif di bidang puisi, cerpen maupun teater. Beliau juga mengatakan bahwasastra di Riau sudah mulai menampakkan kualitasnya sejak lama. Penulis baru pun sudah banyak yang bias menguasai teknik-teknik penulisan yang baik dan juga pengangkatan tema yang beragam. Hal ini membuktikan kreativitas penulis-penulis yang ada di Riau.

Mantan dekan Fakultas Ilmu budaya ini juga mengungkapkan bahwa sastra merupakan salah satu agen penyumbang keberadaan provinsi Riau. Karena sastra itu adalah bagian terpenting dari kebudayaan di Riau. “Kita harus mengenali bahwa sastra itu adalah salah satu yang memperkaya khazanah  di Riau,” ujar Dr. Junaidi ketika ditemui redaksi Tanjak di ruang kerjanya, Selasa (11/10/2016).

Dr. Junaidi juga menjelaskan bahwa peran Pemerintah Provinsi Riau dalam memajukan sastra sudah cukup baik. Namun, kata Dr. Junaidi, tidak bias terpaku sepenuhnya kepada pemerintah.

Keterbatasan wewenang dan keuangan adalah salah satu factor  yang menjadi penghambat pemerintah dalam memajukan sastra. “Kedepannya, kita berharap pemerintah provinsi Riau dan juga sastrawan lebih meningkatkan lagi kegiatan-kegiatan kesusastraan dan event sastra sehingga memberikan semangat bagi penulis-penulis yang ada di Riau ini untuk terus berkarya dan membuktikan bahwa sastra merupakan salah satu citra yang harus selalu dijaga,” ucap Dr. Junaidi.

Senada dengan Dr. Junaidi, Hermansyah, S.S., M.Hum, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak, juga menilai bahwa perkembangan sastra di Riau sangat membanggakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan bermunculan penulis-penulis muda. Selain kuantitas, kualitas penulis muda Riau juga tidak kalah bersaing dengan penulis luar Riau.

“Penulis karya sastra Riau memiliki kekuatan pada lokalitasnya. Khazanah Melayu menjadi bagian terpenting dalam karya yang dihasilkan ooelh sastrawan Riau. Membicarakan karya sastra Riau, kita tidak dapat tidak akan membicarakan nilai-nilai budaya Riau,” ucap Hermansyah.

Hermansyah juga menambahkan, dengan keunikan muatan lokal inilah, karya-karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan Riau ini menjadi menarik dalam memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia. Banyak sekali, kata Hermansyah, sastrawan Riau diperbincangkan oleh pengamat sastra, baik itu dari dalam negeri, maupun luar negeri.

“Kita memiliki sastrawan-satrawan yang piawai, seperti Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Hasan Junus, Ibrahim Sattah, Soeman HS dan banyak yang lainnya,” ucap Hermansyah yang juga penyair Riau ini.

Karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan Riau, kata Hermansyah, berbicara tentang peristiwa yang terjadi di Negeri Lancang Kuning ini. Dengan kepiawaian sastrawan Riau membukus peristiwa dengan kata-kata Melayu, menjadikan karya sastra Riau penyumbang gender baru bagi kesusastraan Indonesia. “Ini kekuatan karya sastrawan Riau itu,” tegas Hermansyah.

Terkait perhatian Pemerintah Provinsi Riau terhadap dunia sastra, Hermansyah menilai bahwa selama ini Pemprov. Riau sudah cukup bagus. Namun demikian, kata Hermansyah, harus ditingkatkan lagi.

Saya berharap Pemprov Riau terus memperhatikan kesusastraan di Riau. Tentu saja dengan perhatian yang lebih, seperti menerbitkan buku yang ditulis sastrawan Riau, akan menambah kesejahteraan sastrawan, sehingga semakin banyak sastrawan berkarya untuk mengangkat Riau ini,” ujar Hermansyah.

Sementara itu, Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Dr. Efrizal A.S., S.S., M.A, menerangkan bahwa kualitas karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan Riau belum maksimal. Sastrawan Riau masih mengutarakan tentang lingkungan Riau ini. “Masih tentang minyak, tentang hutan, dan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di Riau,” jelas Efrizal.

Terkait karya sastra yang dihasilkan sastrawan Riau yang mengeksporasi nilai-nilai lokalitas, Efrizal tidak menafikannya. Nilai-nilai Melayu, menjadi kekuatan dalam karya sastra Riau. Namun demikian, kata Efrizal, sastrawan Riau belum mampu mengarahkan karya mereka dalam memberi penilaian terhadap budaya Melayu itu sendiri.

“Budaya ini kan banyak orang yang salah pengertian. Salah satu diantara budaya itu tari-tarian. Sebenarnya budaya itu kan pikiran, pola pikir. Bagaimana pola pikir orang Melayu di Riau, itu yang perlu seharus dibuka sebenarnya. Inilah yang perlu kita terapkan tentang pemahaman budaya tadi itu dalam konsep perkembangan sastra. Jangan salah kita mengartikan budaya dalam sastra itu, memang sastra itu merupakan budaya,” ujar Efrizal.

Ditanya tentang sumbangan karya sastra terhadap keberadaan suatu daerah, Efrizal mengakui bahwa karya sastra sangat besar peranannya. Kalau tidak ada karya sastra daerah, daerah itu tadi tidak akan dikenal orang.  Kalau tidak sastrawan  Riau barangkali  Riau lambat dikenal orang.

“Terkenal pasti terkenal cuma agak lambat. kalau memang sastranya itu dapat kita publikasikan kemana-mana, itu pasti cepat dikenal orang,” jelas Efrizal.

Perhatian Pemerintah Provinsi Riau, menurut penilaian Efrizal, memang agak kurang, namun masih ada membantu. Seharusnya, Pemerintah Riau dan sastrawan juga membuka atau memberi ruang kepada karya sastra tradisi. “Sastra tradisional tadi kan ada budayanya. Kemudian kita masuk juga ke sastra kontemporer Riau, bagaimana perkembangan Riau ini kedepannya. Selanjutnya, cerita atau bagaimana pengarang itu memandang Riau ini, kedepanya lebih jauh lai,” ucap Efrizal.

Sementara itu, Parti Ningsih, mahasiswa Program Studi Sastra Daerah, FIB Unilak, memandang bahwa perkembangan sastra di Riau, khususnya di Pekanbaru, sangatlah membanggakan. Hal ini, kata Parti Ningsih, dibuktikan dengan banyaknya komunitas-komunitas sastra yang bermunculan. Komunitas sastra ini dijalankan oleh generasi muda. “Banyak kegiatan yang dilakukan oleh komunitas sastra ini, mulai dari membaca puisi di café-café, maupun diskusi-dsikusi tentang sastra,” ucap Parti Ningsih.

Kekuatan para penulis Riau, kata Parti Ningsih, dalam karya-karya mereka banyak sekali menceritakan peristiwa-peristiwa di Riau ini. Contohnya karya yang dihasilkan Taufik Ikram Jamil, mengangkat sejarah Melayu dalam setiap novelnya. Hempasan Gelombang, kata Parti, memperlihatkan sejarah yang kuat. “Kita jadi tahu tentang sejarah Melayu dengan membaca karya Taufik Ikram Jamil ini,” ucap Parti Ningsih.

Dalam karya sastra yang dihasilkan sastrawan Riau, kata Parti Ningsih, lokalitas, baik itu bahasa yang digunakan, maupun latar tempat, menggambarkan kawasan Riau. “Ketika asap melanda Riau, sastrawan Riau juga bersuara melalui karya sastranya. Asap menjadi musuh bersama,” kata Parti Ningsih yang lebih suka membaca karya sastra mengkritik keadaan ini.

Parti Ningsih menilai, perhatian kepada sastrawan Riau memadai, baik itu datang dari pemerintah maupun dari swasta. Dari pihak swasta, Parti Ningsih mencontohkan yayasan Sagang yang terus memberikan penghargaan kepada sastrawan Riau. Ini, tambah Parti Ningsih, perhatian yang cukup baik dan mampu memotivasi para sastrawan Riau untuk terus berkarya.

“Di harapkan juga, Pemerintah Riau memberikan penghargaan kepada sastrawan Riau, sehingga pekerjaan sebagai sastrawan benar-benra dihargai. Bukankah karya sastra merupakan cermin kehidupan suatu daerah? Dengan membaca karya sastra, kita dapat memahami suatu daerah tersebut.(Tim Tanjak)

Author

Tabloid Tanjak
Profil Tabloid Tanjak

admin tabloidtanjak.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px (FIB)

Berita Terkait

Ada 5 Komentar untuk Berita Ini

  1. [Ö÷Ò³] 18 Agustus 2018 - 14:27:00 WIB

    I кnow thiks site gives quality based posts аnd exxtra stuff, іѕ theгe any other web site whiϲh proѵides thesе kinds of data in quality?

  2. http://www.leaqs.com/content/hanya-gunakan-1-dari-5-bahan-ini-eyebag-anda-akan-hilang-secara-semulaj 05 September 2018 - 13:02:39 WIB

    Ⲩou сɑn definitely ѕee your skills withіn the article youu wrіte.

    The sector hopes fοr even more passionate writers ⅼike yоu wһⲟ aren't
    afraid tto mention һow they ƅelieve. All the tіme follow үоur heart.

1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Kembali ke Atas